Ada Krama Madya dalam Dialek Tegalan

SM/dok - BERI SAMBUTAN: Wali Kota Dedy Yon memberikan sambutan saat membuka gelaran Loba Pidato Bahasa Tegal di Pendapa Ki Gede Sebayu, Kompleks Balai Kota Tegal, baru-baru ini. (50)
SM/dok - BERI SAMBUTAN: Wali Kota Dedy Yon memberikan sambutan saat membuka gelaran Loba Pidato Bahasa Tegal di Pendapa Ki Gede Sebayu, Kompleks Balai Kota Tegal, baru-baru ini. (50)

TEGAL-Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono mengingatkan masyarakat Kota Tegal untuk tidak melupakan bahasanya sendiri yakni bahasa Jawa dialek Tegal. Hal itu disampaikan Dedy saat membuka Lomba Pidato Bahasa Tegal yang digelar Pemkot dalam rangka memperingati Hari Jadi Ke-439 Kota Tegal, di Pendapa Ki Gede Sebayu, Kompleks Balai Kota Tegal, baru-baru ini. Dalam even itu terungkap bahwa dalam bahasa Tegal tidak sekadar ngoko, tapi ada krama madya untuk menghormati orang yang lebih tua.

”Selain itu bahasa prokem Tegalan yang akrab di telinga masyarakat juga harus tahu asal usul serta artinya. Sontoh kata Si Wa, Si Jon dan Sinok, Sitong. Kita harus tahu arti dan maksud dari sebutan itu,” kata Dedy. Lomba tersebut diikuti oleh peserta didik dari SD/MI, SMP/MTs, SLTA/ MA, dan para guru.

Dengan dewan juri di antaranya budayawan Yono Daryono, Atmo Tan Sidik, dan Dwi Ery Santoso. Menurut wali kota, dalam pemakaian bahasa Tegal jangan sampai salah kaprah, penggunaan bahasa Tegal harus tepat. Ketika berdialog dengan teman sebaya boleh menggunakan bahasa Tegal sehari-hari.

”Tapi bila berdialog dengan orang yang lebih tua maka unggah-ungguh tetap dijaga dengan tidak menggunakan bahasa Tegal seperti dengan kawan sebaya,” tambah Dedy. Dia menjelaskan, salah satu tujuan lomba pidato bahasa Tegal adalah sebagai upaya melestarikan bahasa Tegal agar dapat dikenal dan dikembangkan serta dimengerti oleh masyarakat Indonesia.

Menurut budayawan Yono Daryono, perlu dipahami bahwa bahasa Tegal itu memiliki krama bukan hanya ngoko, walaupun dasarnya ngoko, namun krama madya tetap ada, ini sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua.

”Sebagian besar masyarakat memahami bahwa bahasa Tegal hanya ngoko, upaya ini harus dikenalkan, dilakukan, termasuk juga memperkenalkan bahasa Tegal di kalangan birokrat seperti dalam momen hari tertentu,” kata Yono Daryono. (enn-50)