KEUANGAN

Pascapemilu, Rupiah Menguat Terbatas

JAKARTA - Penguatan rupiah yang terjadi pascapemilu 2019 masih terbatas mengingat pengumuman resmi hasil Pemilu 2019 dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) baru dirilis pada 22 Mei mendatang. Pada transaksi antarbank di Jakarta, Kamis (18/4), nilai tukar rupiah menguat 50 poin dari Selasa (16/4) pada posisi Rp 14.066 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi Rp 14.016 per dolar AS.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter R Abdullah menilai penguatan rupiah pada Kamis (18/4) yang cukup signifikan, masih terlalu dini untuk dinilai sebagai dampak dari pelaksanaan Pemilu 2019.

”Kita belum bisa mengharapkan ini (penguatan rupiah- Red) terus berlanjut minggu depan,” kata Piter di Jakarta, Jumat (19/4). Menurut dia, ada sejumlah faktor yang memperkuat pandangannya terhadap pergerakan rupiah terkait pelaksanaan pemilu.

Pertama, kemenangan presiden terpilih masih berdasarkanquick count (hitung cepat) dan hasil itu belum resmi. Bahkan, pasangan calon presiden (capres) dari salah satu kubu masih mengklaim kemenangan.

”Jadi, belum resmi dan ada kemungkinan berlanjut ke gugatan ke MK (Mahkamah Konstitusi-Red). Investor masih menunggu,” ungkap Piter. Kedua, jika hasil resmi KPU menetapkan petahana sebagai pemenang, sesuai rilis hitung cepat sejumlah lembaga, potensi gangguan masih tetap ada.

Salah satunya gugatan kubu yang kalah ke MK. Ketiga, Piter menilai pergerakan rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) sangat dipengaruhi oleh aliran modal asing. ''Sekalipun pengumuman resmi menetapkan pemenangnya, rupiah dan IHSG tetap dipengaruhi juga oleh kondisi global.

Kalau globalnya tetap dovish, rupiah dalam jangka menengah panjang berpotensi menguat,” kata Piter. Sejauh ini, Piter mengaku tidak melihat risiko melemahnya rupiah dari faktor eksternal karena kondisi global relatif sama, yaitu perlambatan ekonomi dengan kecenderungan kebijakan bank-bank sentral khususnya bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) tetap dovish.

Karena itu, dia melihat risiko bagi rupiah ada di sisi domestik. ''Jika perselisihan hasil pemilu ini tidak segera berakhir atau justru semakin meruncing, aliran modal bisa berbalik rupiah dan IHSG melemah,'' ungkap Piter. Untuk itu dia berharap kekhawatiran tersebut tidak terjadi. (bn-46)