Pembangunan Ekonomi Diharap Terus Berkesinambungan

JAKARTA - Ekonom Bank Mandiri, Dendi Ramdani menyatakan, presiden terpilih diharapkan mampu menjaga kesinambungan pembangunan ekonomi yang dasar-dasarnya telah dibangun oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama periode 2014-2019.

Menurut Dendi, kebijakan yang perlu diprioritaskan meliputi pertama, terus membangun infrastruktur dan mengintegrasikannya dengan pembangunan wilayah sehigga bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.

Kedua, terus mempercepat perbaikan iklim investasi terutama dengan memperbaiki kualitas birokrasi, pelayanan publik, dan kualitas kebijakan serta peraturan/regulasi.

Ketiga, mempercepat proses industrialisasi dengan mempercepat pembangunan kawasan industri yang fokus pada pengolahan bahan mentah tambang, perkebunan, dan maritim/perikanan. ”Selain itu juga mempercepat industrialisasi yang fokus memproduksi barang-barang industri padat karya, padat modal, dan padat teknologi,” kata dia.

Keempat, memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai antisipasi tantangan pembangunan jangka panjang dengan memperbaiki kualitas pendidikan dan kualitas pelayanan kesehatan.

Kelima, terus memperbaiki mekanisme pengentasan kemiskinan dengan memperbaiki kualitas data orang miskin dan mekanisme penyalurannya. Dengan demikian, subsidi bagi orang miskin untuk bisa hidup layak lebih tepat sasaran.

”Bila lima prioritas itu diselesaikan, kita bisa berharap pertumbuhan ekonomi bisa melaju dengan lebih cepat pada tahun-tahun mendatang, ekspor meningkat, yang selanjutnya masalah defisit neraca transaksi berjalan teratasi, kemiskinan dan pengangguran berkurang, serta kesenjangan antarwilayah dan antarkelompok pendapatan bisa mengecil,” tutur Dendi.

Memenuhi Janji

Sementara itu, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho berharap presiden dan wakil presiden terpilih benar-benar berkomitmen memenuhi janji-janjinya, terutama di bidang ekonomi. Tantangan ke depan adalah bagaimana Indonesia bisa keluar dari negara berpendapatan menengah lolos dari middle income trap.

Artinya, pada 2027 Indonesia harus memiliki pendapatan per kapita di atas 12.476 dolar Amerika Serikat (AS). Untuk mencapai level tersebut, pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita harus tumbuh 5,5%-6% per tahun. Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia masih 3.927 dolar AS.

Untuk mencapai pertumbuhan 5,5%-6%, menurut Andry, setidaknya ada tiga cara, yakni perbaikan SDM dan penguasaan teknologi, reindustrialisasi, serta mendorong ekspor.

Perbaikan SDM dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan, dengan menambah jumlah tenaga kerja lulusan SMA/SMK ke atas agar bisa memiliki produktivitas tinggi.

Adapun reindustrialisasi sangat penting agar mengembalikan industri manufaktur sebagai motor penggerak utama dari ekonomi Indonesia. Reindustrialisasi bisa fokus pada produk- produk bernilai tambah dengan sasaran pasar ekspor, terutama ke negara-negara maju.

”Dengan strategi itu, masalah SDM dan defisit transaksi berjalan akan teratasi. Jadi, dalam lima tahun ke depan, saya berharap pemerintah fokus pada pengembangan industri sekunder dan upaya menghasilkan SDM kompetitif,” tegas Andry.

Peneliti Indef lainnya, Ariyo Dharma Pahla Irhamna berharap presiden terpilih memprioritaskan pembangunan industri yang berorientasi ekspor. Kemudian, kebijakan perdagangan yang mendorong ekspor serta siap mengantisipasi perang dagang.

Prioritas kebijakan lainnya adalah meningkatkan rasio pajak terhadap produk domestik bruto (PDB). ”Kebijakan-kebijakan tersebut dapat dilakukan jika tim ekonomi presiden terpilih terdiri atas orang-orang kapabel. Presiden jangan terjebak oleh kontrak politik dalam menentukan tim ekonomi,” tegas dia. (bn-46)


Loading...
Komentar