DED Jembatan Kaca Ditarget Rampung Tahun ini

SEKTOR pariwisata ikut andil dalam tumbuh kembang hingga majunya sebuah daerah. Pariwisata tak sekadar untuk menarik orang berkunjung, tapi juga salah satu pemberi pemasukan pada pemerintah, sekaligus berdampak positif bagi ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Karena itu, pengembangan dan penataan kembali objek wisata untuk menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara gencar dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kota Semarang.

Tak hanya mengembangkan desa wisata, namun juga melakukan pembenahan dan memunculkan gagasan baru untuk mempercantik hingga menarik pengunjung.

Seperti rencana pembangunan jembatan kaca di hutan wisata Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik. Detail Engineering Design (DED) Jembatan Kaca ditargetkan selesai tahun ini. Harapannya, tahun depan, sudah bisa dilaksanakan pembangunannya.

”Kami akan mengembangkan tempat wisata secara masif, contohnya tahun depan kami akan menata kembali Tinjomoyo. Seperti yang ditegaskan Wali Kota, rencananya di situ (Tinjomoyo-red) akan dibangun jembatan kaca. DED Ditarget selesai tahun ini,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, kemarin.

Jembatan kaca yang nantinya dibangun tepat di sebelah jembatan merah yang sudah ada di hutan wisata tersebut, lanjut dia, diharapkan dapat menyedot animo masyakarat untuk berkunjung ke sana, sehingga hutan wisata tersebut menjadi salah satu tujuan wisata baik wisatawan lokal, luar kota Semarang bahkan mancanegara.

”Kalau sudah ada ikon yang menarik yakni jembatan kaca tersebut, kami tinggal menata jalan-jalan di sekitarnya. Akses jalan di sana (hutan wisata Tinjomoyo-red) kami tata menjadi wisata alam yang menarik,” jelasnya.

Diserahkan pada Investor

Ditanya terkait objek wisata lain yang dalam proses pengembangan selain hutan wisata Tinjomoyo, Indriyasari menjelaskan, tahun ini ada Taman Lele dan Kebun Binatang Semarang, Kecamatan Mangkang.

”Di Taman Lele kami tawarkan kepada investor, sedangkan Kebun Binatang Semarang sudah dikelola BUMD yakni PT Taman Satwa. Kami berharap itu bisa berkembang lebih intensif lagi hingga menjadi objek wisata yang menarik untuk dikunjungi,” ungkap wanita yang akrab disapa Iin ini.

Anggaran untuk sektor pariwisata tidak terpusat di salah satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sebab, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata hanya mengelola kegiatannya, Pokdarwisnya (kelompok sadar wisata), masyarakatnya untuk menghadapi peningkatan pariwisata.

”Tapi untuk pembangunan tidak di tempat kami, tapi kami di Pemkot itu saling memberikan dukungan. DPU nanti yang membangun jalan, saluran dan talutnya. Kemudian penataan wilayahnya oleh Dinas Tata Ruang, jadi semuanya saling mendukung,” jelasnya.

Iin menambahkan, pengelolaan tempat wisata tidak hanya dilakukan oleh Pemkot saja, namun juga oleh masyarakat dan swasta. ”Jadi Pariwisata di Kota Semarang itu ada yang dirintis oleh pemerintah, ada yang dirintis oleh swasta dan juga ada yang dirintis oleh masyarakat.’’(48)

Tim Peliput : Erry Budi Prasetyo,Eko Fataep


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar