Penyalah Guna Narkoba Didorong Jalani Rehabilitasi

SM/Dian Aprilianingrum - RUANG PERIKSA: Kepala BNN Provinsi Jawa Tengah Muhammad Nur mengecek ruang periksa Klinik Adiksia Medika milik BNNK Banyumas, beberapa waktu lalu.(20)
SM/Dian Aprilianingrum - RUANG PERIKSA: Kepala BNN Provinsi Jawa Tengah Muhammad Nur mengecek ruang periksa Klinik Adiksia Medika milik BNNK Banyumas, beberapa waktu lalu.(20)

PURWOKERTO- Badan Narotika Nasional Kabupaten (BNNK) Banyumas mendorong penyalahguna narkoba menjalani rehabilitasi. Selama ini kesadaran untuk rehabilitasi dinilai masih rendah.

Kepala BNNK Banyumas, Agus Untoro melalui Plh Kasi Rehabilitasi, Wicky Sri Erlangga Adityas, mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan penyalahguna narkoba enggan menjalani rehabilitasi.

"Penyalahguna narkoba itu tidak merasa bermasalah, tidak butuh direhab. Ketika merasa butuh, tidak tahu harus ke mana. Ada juga yang mungkin takut diprosses hukum ketika menjalani rehabilitasi," katanya, kemarin.

Menurut dia hanya sebagian kecil penyalahguna narkoba yang menjalani rehabilitasi secara sukarela dibanding jumlah penyalahguna narkoba secara keseluruhan. Berdasarkan data BNN Provinsi Jateng, kasus narkoba di Jateng menempati rangking kelima terbanyak secara nasional. Adapun angka prevalensinya 1,16, artinya ada sekitar 300.000 orang yang terpapar narkoba.

"Kita harus enyadarkan masyarakat supaya mau secara sukareka melakukan rehab. Kita tidak boleh menyadarkan masyarakat, itu tanggungjawab kita bagaimana menyadarkan masyarakat," ujar dia. Dia mengatakan ada tiga institusi pemerintah yang berkewajiban untuk melakukan rehabilitasi. Yaitu BNN, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial.

Rehabilitasi juga dapat dilakukan secara mandiri di dokter kejiwaan. "Setiap sosialisasi kita minta persuasi untuk rehab, kalau tidak kita langsung yang datangi. Kalau sudah ada yang jangan distigma negatif, istilahanya sudah 'taubat', kalau distigma bisa kembali ke yang dulu," kata dia.

Untuk menjaring penyalahguna narkoba agar menjalani rehabilitasi, pihaknya akan mengintensifkan tes urine, baik dilakukan sendiri maupun bekerjasama dengan puskesmas. Pihaknya juga bekerjasama dengan kepolisian.

Sebelumnya, Kepala Balai Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahguna (RSKP) Napza Satria Kementerian Sosial (Kemensos) di Baturraden, Restyaningsih, pemerintah telah menyediakan fasilitas bagi para penyalahguna narkoba untuk menjalani rehabilitas.

”Target kita 60 residen dalam setahun, cuma memang kesadaran untuk direhab masih kurang. Mestinya meningkat, karena pemerintah sudah memberikan fasilitas di sini, ” katanya saat dihubungi, kemarin.

Dia mengatakan ada beberapa penyebab sesorang enggan menjalani rehabilitasi. Antara lain karena khawatir terjadi apa-apa ketika menjalani rehabilitasi, dan ada juga korban penyalahguna narkoba yang justru disembunyikan orang tuanya. ”Banyak yang belum mau (direhabilitasi). Orang tua kadang menyembunyikan, kadang ada yang takut juga, dikira mau diapa-apain di dalam, atau ada yang belum mengerti dikiranya harus membayar, ” ujar dia.

Dia mengatakan sejak berdiri tahun 2017 lalu, tercatat 93 penyalahguna yang telah menjalani rehabilitasi. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari wilayah Indonesia bagian timur. (fz-20)


Baca Juga
Loading...
Komentar