KIYE LAKONE

Lestarikan Ebeg

SM/dok - Sapto Waluyo Budi
SM/dok - Sapto Waluyo Budi

UPAYA melestarikan seni tradisional ditengah era globalisasi terus digalakkan, termasuk seni kuda kepang atau kuda lumping yang kenal dengan nama lokal seni Ebeg Banyumasan.

Minat masyarakat untuk menonton dan melihat kesenian itu pun masih tinggi. Hampir setiap pementasan ebeg selalu saja dipenuhi penonton dari anak-anak sampai dewasa karena ebeg merupakan seni yang sudah sangat merakyat.

Tidak bisa dipungkiri grup seni ebeg dari segi jumlah paling banyak dibanding seni tradisional lainnya. Umumnya seni ebeg diperankan oleh penari wayang berpakaian ala prajurit, memainkan kuda kepang, barongan, diiringi gamelan lagon eling-eling, ricik-ricik, bendrong kulon, kulu kulu yang berirama rancak.

Dalam perkembanganya penyajian seni ebeg terus mengalami kemajuan baik pada kemasan properti pada kuda kepang, gerak tari, iket, maupun panggung pertunjukannya. Di sisi lain, saat ini masih tetap ada seniman yang setia mengawal seni tersebut. Untuk wilayah Cilacap ada sosok bernama Sapto Waluyo Budi. Lelaki kelahiran tahun 1981 ini terus mengawal berkembangnya seni tersebut.

Di organisasi Lembaga Pengembangan seni tradisional senusantara (GANASETRA) Cilacap, dia duduk sebagai ketua paguyuban seni budaya membidangi seni Kuda Lumping, Calung Banyumasan, Cowong dan ketoprak. Manurut Sapto seni ebeg yang berkembang di Cilacap memakai jenis ebeg Banyumasan dengan menekankan pada kelenturan kaki, pancak leher dan kelenturan tangan.

”Pada umumnya penari belajar tari dan komposisi secara otodidak atau melihat rekaman kaset video ebeg. Dengan begitu, tidak bisa dihindari kenyataan masing-masing grup ebeg komposisi tariannya akan sedikit berbeda, tidak seperti tari Gambyong yang tariannya ada aturan tertentu, ” kata pria yang tinggal di Desa Ayam Alas, Kecamatan Kroya, itu.

Yang menggembirakan, tambahnya, ebeg sekarang terus berkembang dalam pengembangan variasi penari dan iringan. Ada grup ebeg yang penarinya campuran laki-laki dan perempuan, ada tambahan penari lengger, ada pula memasukan penari waria. Begitu juga dengan iringan yang dahulu hanya gamelan dan sinden, sekarang ditambahi orgen, trompet dan penyanyi.

Sosok yang dijuluki oleh teman-temannya dengan sebutan ‘Jurangan Belis ” itu berharap seni tradisional, termasuk ebeg Banyumasan, akan tetap terjaga. Sehingga sampai kapanpun seni tradisional Jawa khususnya seni dari Banyumas ini tetap dapat dinikmati generasi masa depan. (Mohamad Sobirin-20)


Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar