TAJUK RENCANA

Narasi Kondusif Jokowi dan Prabowo

Hasil sementara Pilpres 2019 sudah terbaca lewat hitung cepat (quick count) sejumlah lembaga survei. Dari semua hitung cepat itu, pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin mengungguli penantangnya Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan rata-rata 55 persen suara berbanding 45 persen suara. Angka ini menunjukkan peningkatan perolehan suara Jokowi bersama Jusuf Kalla pada Pilpres 2014. Saat itu perolehan suara resmi 53,15 persen berbanding 46,85 persen.

Jika hasil hitung cepat itu berbanding lurus dengan hitung manual oleh KPU nanti, Jokowi mengalami peningkatan sekitar 4 persen dari yang diperolehnya pada 2014. Menurut sejumlah pengamat, peningkatan suara ini diperoleh terutama dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Suara Jokowi di Jatim cukup melonjak dibanding perolehan 2014. Sementara Prabowo tetap unggul di Jawa Barat dengan angka yang relatif stabil, ditambah Sumatera dan sebagian Sulawesi.

Peningkatan suara Jokowi juga dipengaruhi oleh keunggulan strategi sosialisasi dan mobilisasi. Sosialisasi basis massanya di pedesaan dinilai berhasil mendorong pemilihnya untuk datang ke TPS. Mobilisasi juga berlangsung massal, meski sebagai petahana Jokowi dituding memanfaatkan aparat keamanan dan birokrasi untuk mendukungnya. Mobilisasi opini juga berperan menguatkan citra Jokowi sebagai sosok yang layak melanjutkan kepemimpinannya.

Prabowo juga sebenarnya cukup berhasil menaikkan dukungan masyarakat perkotaan, kalangan terdidik, dan massa alumni 212. Bahkan belakangan muncul dukungan dari sejumlah ulama dan tokoh seperti Ustad Abdul Somad, Aa Gym, Erwin Aksa, dan Dahlan Iskan. Namun dukungan ini datang di injury time. Sandiaga yang familiar bagi emak-emak dan pemilih milenial tampaknya tidak cukup kuat untuk mendefisit Jokowi yang tak punya beban masa lalu.

Sekali lagi, penilaian ini dengan asumsi hasil hitung cepat sama dan sebangun dengan hitung manual KPU. Penilaian akhir harus berdasarkan pengumuman resmi penyelenggara pemilu. Apalagi Prabowo mengklaim bahwa pihaknya yang unggul dengan perolehan suara 55,4 persen berdasarkan hitung cepat internal. Klaim ini disertai dugaan telah terjadi hal-hal yang merugikan pemilihnya dan adanya indikasi kecurangan, antara lain surat suara yang telah tercoblos 01.

Dugaan itu mesti harus dibuktikan dalam proses penghitungan dan klarifikasi hasil pilpres, sebelum ditetapkan oleh KPU. Lepas dari masalah ini, kita patut bersyukur atas pernyataan Jokowi dan Prabowo saat jumpa pers kemarin. Jokowi meminta pendukungnya untuk menunggu pengumuman KPU dan mengajak seluruh anak bangsa kembali bersatu. Prabowo berpesan kepada pendukungnya juga untuk tetap tenang dan tidak bertindak anarkis. Narasi yang kondusif.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar