Banyak Pemilih Tak Bisa Gunakan Hak Pilih

Pemilu di Banyumas Kondusif

SM/Dian Aprilianingrum - TPS UNIK: Pemilih menggunakan hak pilihnya di TPS 18 Kelurahan Karangpucung, Purwokerto Selatan, yang berdekorasi khas Banyumas, Rabu (17/4).(20)
SM/Dian Aprilianingrum - TPS UNIK: Pemilih menggunakan hak pilihnya di TPS 18 Kelurahan Karangpucung, Purwokerto Selatan, yang berdekorasi khas Banyumas, Rabu (17/4).(20)

PURWOKERTO- Pelaksanaan Pemilu Serentak 2019, di Kabupaten Banyumas, Rabu (17/4), secara umum berjalan lancar tidak ada peristiwa yang menonjol. Namun pihak Bawaslu mencatat, masih banyak pemilih tidak bisa terlayani karena kurangnya sosialisasi dan tidak cakapnya petugas di lapangan.

"Dari laporan yang masuk, ada beberapa TPS baru melayani pemilih mulai pukul 09.00, padahal TPS dibuka harusnya pukul 07.00. Dan masih banyak pemilih yang sudah masuk DPT, dari luar daerah tidak bisa memilih karena belum urus form A5," kata Koordinator Pengawasan, Humas dan Hubungan Antarlembaga Bawaslu Banyumas, Yon Daryono, kemarin. Pihaknya masih terus mendata laporan-laporan dari pengawas kecamatan, pengawas desa dan pengawas tingkat TPS, termasuk laporan dari masyarakat.

Diakui, pelaksanaan pemilu di Banyumas dari sisi pelaksanaan berlangsung lancar. Ketua KPU Banyumas, Imam Arif Setiadi mengatakan, jika ada KPPS melayani pemilih setelah pukul 07.00, itu dianggap hal wajar. Pasalnya sesuai ketentuan, TPS dibuka pukul 07.00, diawali prosesi pelantikan, kemudian dilanjut pemeriksaan dan menghitung jumlah surat suara dan sebagainya.

"Kalau buka pukul 07.00 dan melayani ke pemilih pukul 08.00 hal wajar, karena sebelumnya ada kesiapan lebih dulu. Dibuka dengan prosesi pelantikan, membuka kotak dan menghitung surat suara yang diterima. Itu wajar karena selama ini, pemilu ya seperti itu," katanya.

Untuk pemilih yang masih banyak tidak terlayani, kata Imam, pihaknya sudah berusaha maksimal memberikan pelayanan dan sosialisasi. Untuk potensi pemilih yang mengunakan A5, pihaknya sudah membuka posko di sejumlah perguruan tinggi dan jemput bola, termasuk ke pondok-pondok pesantren.

"Ada 265 pimpinan lembaga baik BUMN, BUMD, termasuk kampus, pondok pesantren kita kumpulkan untuk memberikan pelayanan bagi yang pindah memilih. Belum lagi informasi yang gencar di media sosial. Saluransauluran ini mestinya bisa dimanfaatkan sebelumnya bagi pemilih, terutama yang DPTb,' terangnya.

Untuk mengetahui hasil pemilu, pihak KPU Banyumas melakukan penghitungan dengan cara real count, yakni memposting C1 dari TPS lewat KPPS terus ke PPS, berjenjang ke PPK dan sampai ke KPU. Ini dilakukan dengan pembagian zona. "Ini kita rencanakan lima hari, dan zona terdekat di kota, kalau sudah masuk langsung diupload dan ditampilkan di layar," terangnya.

Hanya Separo

Sementara itu, untuk pemilih di Lapas Purwokerto, ternyata ada separo lebih jumlah nara pidana yang tidak bisa mengunakan hak pilihnya. Data yang tercatat, ada 405 napi yang tidak bisa mencoblos. Hal itu disebabkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dari yang bersangkutan tidak terdeteksi serta keluar-masuknya penghuni baru.

Kalapas Purwokerto, Bambang Basuki, mengatakan, total penghuni lapas ada 865 orang, namun yang memiliki hak pilih hanya 460 orang. Pihaknya sudah berupaya semaksimal mungkin bersama KPU Banyuma serta Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dindukcapil) supaya seluruh penghuni lapas bisa menyalurkan hak pilihnya.

Namun, hanya separuh penghuni yang bisa memilih. ìUntuk penghuni lapas yang tidak bisa memilih ini, antara lain karena pindahan dari luar kota dan tidak memiliki formulir A5. Kemudian ada yang tidak memiliki NIK, sudah kita cari di data kependudukan bersama Dindukcapil Banyumas, tetapi tetap tidak terdeteksi NIK-nya,î katanya.

Pihaknya menyediakan empat Tempat Pemungutan Suara (TPS) khusus, yaitu TPS 11, 12, 13 dan 14. TPS khusus ini disiapkan, katanya, karena warga binaan tidak mungkin untuk dibawa keluar lapas guna menyalurkan hak pilihnya. (G22-20)


Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar