Tajuk Rencana

Antusias Memilih dengan Gembira

Hari ini, Rabu 17 April 2019, menjadi hari yang sangat penting bagi rakyat Indonesia saat warga pemilih berdatangan ke tempat pemungutan suara (TPS). Inilah pula untuk pertama kali dalam sejarah, pemilu diselenggarakan serentak untuk memilih anggota DPRD Kabupaten/ Kota, DPRD Provinsi, DPR, Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Presiden-Wakil Presiden.

Profesionalitas penyelenggara pemilu diuji sejak persiapan hingga penghitungan suara. Pelaksanaan pemungutan suara di luar negeri, meski sedikit ternoda dengan beberapa persoalan seperti di Kuala Lumpur dan Sydney, menunjukkan semangat yang sangat positif dari sisi partisipasi pemilih. Tingkat partisipasi melonjak sangat tinggi dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Di Brasilia, Brasil, misalnya, partisipasi pemilih mencapai 100 persen. Rata-rata tingkat partisipasi di negara-negara lain mencapai 95 persen.

Antusiasme ini sungguh membanggakan. Terlebih lagi, warga Indonesia di luar negeri tidak terlalu dimudahkan dengan fasilitas dan alam untuk memberikan suara. Ada yang harus menempuh jarak 800 km hingga 1.400 km untuk mendatangi TPS. Antusiasme warga pemilih di luar negeri membuktikan kematangan demokrasi yang kita miliki. Penggunaan hak suara juga menunjukkan jiwa patriotisme karena suara-suara dari warga sangat utama bagi arah perjalanan bangsa menuju masa depan.

Semangat dan tingkat partisipasi pemilih di luar negeri membawa harapan pula di tanah air. Kekhawatiran akan golput yang meninggi diharapkan pupus oleh embusan kabar partisipasi pemilih di luar negeri. Kali ini, kita berterima kasih kepada teknologi informasi yang dengan cepat menyiarkan situasi antusiasme pemilih di luar negeri sehingga warga pemilih di segenap penjuru tanah air ikut tertular semangat partisipasi itu dan berbondong-bondong membuang niat golput. Pemilu sebagai pesta demokrasi akan semakin lengkap apabila antusiasme itu dilaksanakan dengan gembira, bukan dengan semangat kebencian atau menjatuhkan lawan. Dalam kontestasi pemilihan umum, tidak ada yang dikalahkan atau dimenangkan. Istilah menang-kalah dalam pemilu sejatinya bermuara dari pemahaman yang keliru tentang kontestasi politik.

Perolehan suara terbanyak berhak mendapat predikat terpilih. Itu saja dan tidak lebih. Para kandidat yang memperoleh suara terbanyak tidak berarti telah mengalahkan kandidat lain.

Sebab, pemilu bukan pertandingan, melainkan hanya sebuah metode pengukuran untuk secara sah menetapkan calon-calon yang bakal memimpin bangsa berdasarkan kerangka konstitusional. Para kandidat lain pun, kendati tidak memegang kendali kepemimpinan legal-formal, tetap harus berperan dalam kepemimpinan sosial-politik sesuai koridor masing-masing.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar