Mensyukuri Pemilu Indonesia

Oleh Ibnu Burdah

"Kita harus mensyukuri bangsa ini mampu menentukan masa depannya melalui bilik suara, bukan melalui senjata. Yakinlah bahwa merawat, menjaga, dan mensyukuri pemilu kita adalah cara terbaik untuk menjaga Indonesia."

HARI ini, bangsa Indonesia akan memutuskan masa depannya melalui bilik suara. Kemampuan bangsa Indonesia untuk memutuskan masa depannya melalui cara damai di bilik suara selama dua dekade belakangan adalah kenyataan membanggakan.

Apalagi, praktik itu sudah berlangsung beberapa kali tanpa ada goncangan berarti. Harus ditambahkan, pelaksanaan pemilu dengan jumlah penduduk begitu besar dan tersebar ke dalam area geografis yang terpisah-pisah oleh perairan sejatinya bukan perkara kecil.

Faktanya, bangsa ini mampu menyelenggarakan pemilu secara serempak dengan agenda bertumpuk- tumpuk. Tak hanya memilih presiden beserta wakilnya, tetapi juga anggota DPR, DPRD, dan DPD.

Capaian seperti ini, diakui ataupun tidak, adalah prestasi besar bagi negeri ini. Jika kita mau membandingkannya dengan negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim lain misalnya, maka capaian ini merupakan kemewahan.

Apalagi, jika kita membandingkannya dengan kebanyakan negara-negara Arab, maka rasa syukur kita terhadap capaian ini mesti berlipat-lipat.

Merawat

Bangsa Indonesia kini melangsungkan kembali hajatan pemilu. Banyak hal yang terus dibenahi dalam pelaksanaan pemilu ini. Baik terkait upaya meningkatkan partisipasi masyarakat maupun kualitas penyelenggaraan dan pengawasannya secara umum. Keterlibatan masyarakat dalam mengawal hajatan ini juga sangat besar. Tak ada pilihan di depan kita saat ini selain terus merawat capaian berharga ini dan meningkatkan kualitasnya dari waktu ke waktu. Terlalu besar ongkos yang akan dibayar oleh bangsa ini jika kita tidak mampu melanjutkan prestasi ini.

Penentuan kepemimpinan nasional secara damai dan demokratis melalui bilik suara untuk mewujudkan cita-cita agung bangsa ini secara gradual harus benar-benar dirawat dan dikawal oleh seluruh elemen bangsa. Jika kita gagal merawatnya, yakinlah bahwa bangsa ini ke depan sangat menyesal. Kita sudah berada dalam rel dengan arah dan tujuan yang jelas meski tujuan itu masih cukup jauh. Pondasi rumah bersama kita juga sudah kuat, mencerminkan tujuan mulia bersama, dan merangkul semua anak negeri dengan keragamannya yang luar biasa. Kegagalan dalam merawat prestasi pemilu kali ini bukan hanya bisa memperlambat bangsa ini mencapai tujuannya.

Tetapi juga bisa membuat rumah kita bersama dalam bahaya. Tahun-tahun ini adalah tahun pemerintah dan masyarakat Indonesia memberikan kanter balik yang sangat kuat terhadap mereka yang ingin mengganti pondasi bangsa-negara kita. Mereka bisa didorong ke belakang cukup jauh. Tetapi, ancaman itu sesungguhnya belum benar-benar mati. Dan kegagalan dalam pemilu akan memberikan peluang bagi penentang negara-bangsa ini untuk kembali menggaungkan ”mimpimimpi” utopisnya. Ini tentu akan menjadi sumber ancaman potensial terhadap pondasi negara-bangsa kelak.

Belajar

Tantangan yang kita hadapi saat ini sesungguhnya hampir sama dengan negara-negara lain yang sedang dan masih mencari arah dalam proses perubahan. Tantangan itu terutama berupa berita bohong dan politisasi agama. Banjirnya informasi tidak bisa dibendung di era seperti sekarang ini. Siapa saja bisa menjadi wartawan, konsumen berita, sekaligus komentator. Bahkan semua orang bisa menjalankan tiga peran itu sekaligus dengan sangat mudah dan murah.

Karena itu, informasi meluap laksana air bah. Itulah yang kita alami saat ini juga di negeri-negeri lain secara umum. Celakanya, tidak ada alat saring yang benar-benar jitu dan diikuti banyak orang. Media konvensional yang menerapkan kode etik sangat ketat dalam pemberitaan semakin tertinggal, kalah cepat dan kalah dalam memberikan kemudahan akses.

Karena itu, peminatnya makin berkurang. Dalam konteks era media sosial inilah, berita bohong tidak mudah dibendung. Kegagalan Mesir dalam demokratisasinya yang semula tampak sukses besar antara lain juga didorong oleh ”berita bohong”. Suriah yang dikenal sebagai bumi para nabi yang damai jadi luluh lantah seperti sekarang bahkan terus mengekspor kehancuran ke mana-mana. Berita bohong melalui media sosial berperan penting dalam membakar dan memporak-porandakan negeri yang semula cukup menjaga keragaman itu.

Politisasi agama juga bisa mendorong kehidupan negara-bangsa ke dalam bahaya. Lihatlah Irak yang terjebak pada ketegangan sektarian yang seperti tanpa henti dan tiap saat bisa tersulut bara. Lihatlah Lebanon dan Yaman yang pada tingkat tertentu juga mengalami hal serupa.

Dalam kehidupan muslim pada umumnya, agama dan politik memang tidak bisa dipisahkan, tetapi harus dibedakan. Demikian kata Sa’duddin al-Ustmani dalam bukunya Ad-Din was- Siyasah: Tamyiiz Laa Fashl. Kita mesti belajar dari nasib negara-negara lain yang masih mencari arah dan tujuan perjalanan itu agar kita tidak menjadi manusia kufur. Yaitu manusia yang tidak mau mensyukuri nikmat Allah Swt yang sangat besar berupa anugerah negarabangsa Indonesia.

Orang yang kufur terhadap nikmat disebut kafir. Kita harus mensyukuri bangsa ini mampu menentukan masa depannya melalui bilik suara, bukan melalui senjata. Yakinlah bahwa merawat, menjaga, dan mensyukuri pemilu kita adalah cara terbaik untuk menjaga Indonesia. Wallahu aílam.(34)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar