AS Sambut Baik Kabinet Baru Palestina

SM/aljazeera  -  KABINET BARU : Perdana Menteri Palestina, Mohammad Shtayyeh (tengah berkumis) bersama para anggota kabinet baru usai dilantik oleh Presiden Mahmud Abbas di Ramallah. (25)
SM/aljazeera - KABINET BARU : Perdana Menteri Palestina, Mohammad Shtayyeh (tengah berkumis) bersama para anggota kabinet baru usai dilantik oleh Presiden Mahmud Abbas di Ramallah. (25)

NEW YORK - Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyampaikan selamat kepada pemerintahan baru Palestina setelah Perdana Menteri Palestina, Mohammad Shtayyeh, mengumumkan kabinetnya bersama Presiden Mahmud Abbas.

”Selamat kepada kabinet otoritas Palestina yang baru. Kami berharap bisa lebih mempererat kerja sama menuju perdamaian dengan Palestina,” ucap utusan khusus Presiden AS Donald Trump untuk urusan Palestina-Israel, Jason Greenblatt, melalui Twitter.

”Dengan pengalaman mereka yang berada di kabinet baru, kami berharap dapat bekerja sama menuju perdamaian dan meningkatkan kesejahteraan Palestina. Ini saatnya babak baru,” tambah Greenblatt. PBB juga menyambut pembentukan kabinet baru tersebut.

”PBB tetap berkomitmen penuh untuk bekerja dengan para pemimpin Palestina dalam mengakhiri pendudukan dan memajukan aspirasi nasional mereka yang sah dengan dasar kenegaraan sesuai dengan resolusi PBB,” ucap Utusan PBB untuk Timur Tengah, Nickolay Mladenov, Senin (15/4) waktu setempat.

Mohammad Shtayyeh resmi dilantik sebagai PM Palestina pada Minggu (14/5), menggantikan Rami Hamdallah yang memiliki cukup dukungan dari Hamas, salah satu faksi besar yang menjadi rival partai pendukung pemerintah, Fatah.

Posisi Kunci

Sejumlah posisi kunci dalam kabinet tidak berubah dari pemerintahan sebelumnya. Namun, loyalis Abbas semakin mendominasi dan menutup kesempatan supaya Hamas bisa terlibat dalam kabinet baru.

Menteri Luar Negeri Palestina, Riyadh Malki, dan Menteri Keuangan, Shukri Bishara, tetap pada jabatan mereka. Atef Abu Seif ditunjuk menjadi Menteri Kebudayaan. Seif berasal dari Jalur Gaza dan pernah dipukuli habis-habisan oleh sekelompok pria di wilayah kekuasaan Hamas.

Meski pemerintahan baru terbentuk, Abbas tetap menjadi otoritas tertinggi Palestina yang memiliki kuasa untuk mengambil keputusan terutama dalam urusan eksekutif. Walau didominasi oleh sekutu Abbas dan politikus Fatah, sejumlah faksi politik kecil juga masuk dalam kabinet baru tersebut.

Sementara itu, sejumlah partai lain seperti Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) menolak mengambil bagian dalam kabinet baru, dan mendesak pemerintah melibatkan semua faksi yang ada, termasuk Hamas. (cnn-25)


Baca Juga
Loading...
Komentar