Nilai UTBK Muncul 10 Hari Kemudian

Disertai Nilai Rata-Rata Nasional

Pelaksanaan pertama ujian berupa Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang diselenggarakan oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Pelaksanaan tersebut dimonitor oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir dari Papua yang paling awal melaksanakan UTBK hingga Aceh melalui telekonferensi ke seluruh pelaksana UTBK sejak pukul 07.00 di Gedung BPPT Jakarta.

UTBK kali ini banyak kemudahan bagi peserta, termasuk tes yang dapat dilakukan di setiap provinsi dan nilainya akan muncul 10 hari setelah tes beserta nilai rata-rata secara nasional. ”Saya berharap jangan sampai gugup atau risau. Silakan Anda mendaftar, masih ada waktu yang cukup, yaitu 24 kali tes. Ini masih ada kesempatan banyak,” pesan Menristekdikti Mohamad Nasir kepada seluruh peserta UTBK.

Setelah memeriksa lokasi UTBK di seluruh Indonesia, ia juga berkesempatan melihat pelaksanaan UTBK di salah satu lokasi UTBK, yaitu kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta. Di hadapan awak media, Menristekdikti menyatakan, peserta UTBK diharapkan dapat belajar dari tes pertamanya untuk mencoba lagi pada tes kedua apabila dia merasa belum maksimal pada tes pertama.

”Kalau dia pada saat tes, nilainya dirasa kurang yakin, diberi kesempatan lagi untuk tes kembali. Dua kali dia bisa melakukan tes ini,” ungkap Nasir di Gedung Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) UI setelah melihat pelaksanaan UTBK di kampus itu.

Pandangan Keliru

Nasir juga menyampaikan, lokasi tes tidak dijadikan landasan seseorang akan diterima atau tidak. Menurutnya, pandangan sebagai calon mahasiswa yang ingin mengikuti tes di kampus perguruan tinggi tujuan itu pandangan yang salah. ”Tempat tes semua sama, yang penting nilainya nanti nilai yang tertinggi.

Inilah yang digunakan untuk mendaftar. Jadi, jangan khawatir, yang tes di daerah masing-masing. Katakan dari Maluku, dari Papua, kemudian dia akan ambil Universitas Indonesia, silakan. Apakah nanti ada bedanya yang mengikuti tes di Papua sama yang di Jakarta? Tidak. Di mana pun lokasinya sama saja,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) Ravik Karsidi menyatakan, pelaksanaan UTBK SBMPTN kali ini berbeda dari SBMPTN tahun lalu, karena diselenggarakan tidak sekali serentak, melainkan beberapa kali. Namun, perlu upaya lebih untuk memastikan soal UTBK tidak disebarluaskan. ”Kalau dulu model tes berbasis kertas, berbasis cetak, itu gampang sekali (disebarluaskan).

Ini soalnya kita sudah punya berpuluh-puluh set yang kita sudah siapkan. Dalam satu ruangan itu, bahkan bersebelahan pun tidak bisa saling jiplak. Ini sudah kita lakukan sedemikian rupa. Walaupun tidak sama, namun setara. Sistem kesetaraan ini kita pertanggungjawabkan secara ilmiah,” kata Ravik Karsidi.

Dalam UTBK SBMPTN kali ini, mahasiswa mendapat nilai terlebih dahulu untuk tiap sesi UTBK yang diambil. Adapun passing grade atau batas minimal untuk bisa masuk ke tiap PTN, tahun ini belum dapat dilihat. Namun, lanjutnya, LTMPT akan memberikan data statistik yang dapat digunakan mahasiswa untuk menentukan PTN yang dituju. (nya-40)