Yenni Kumalasari

Momen Foto Semanis Lolipop

Teks : Irma Mutiara Manggia : Foto : Dok Yenni Kumalasari
Teks : Irma Mutiara Manggia : Foto : Dok Yenni Kumalasari

KEGEMARAN berfoto dan berswafoto lalu mengunggahnya ke media sosial, sudah tidak terpisahkan lagi dari gaya hidup sehari-hari. Melihat kecenderungan orang yang suka berfoto tersebut, membuat Yenni Kumalasari tergerak untuk memfasilitasi kegiatan berfoto.

Bersama partnernya, Kezia Wulan, Yenni merintis bisnis photobooth di Semarang pada awal 2012 dengan nama Lollipop Photobooth.

Photobooth merupakan area yang didesain sedemikian rupa dengan latar belakang dan dekorasi tertentu sebagai tempat untuk mengekspresikan diri lewat foto, lalu hasilnya bisa langsung dicetak dan dibawa pulang. Photobooth biasanya hadir di berbagai acara, seperti pesta ulang tahun, pernikahan atau gathering perusahaan. Kehadiran photobooth menjadi sudut bagi para tamu undangan untuk dapat mengungkapkan ekspresi mereka masing-masing ketika menghadiri suatu acara. "Yang membuatnya spesial, hasilnya diabadikan dalam bentuk foto dan video, serta hasil cetak yang bisa dibawa pulang langsung oleh para tamu undangan," ucap Yenni.

"Saya melihat dari Facebook bahwa di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, orang-orang sangat bahagia ketika bisa berfoto dan berekspresi. Apalagi bisa langsung dicetak di tempat dan hasilnya dibawa pulang. Kemudian saya berpikir kalau ini bisa dikembangkan di Semarang," lanjutnya. Tidak lama sejak ia merintis, Yenni dipertemukan dengan klien yang akan mengadakan acara pesta ulang tahun. Sempat merasa minder karena belum memiliki pengalaman sama sekali di bidang foto, akhirnya Yenni dan partnernya memberanikan diri mengisi photobooth untuk acara tersebut.

Dan acara yang diselenggarakan pada April 2012 tersebut menjadi event pertamanya dan ditetapkan sebagai hari ulang tahun Lollipop. Kendala awal yang dialami wanita yang hobi jalan-jalan tersebut adalah sulitnya menjelaskan kepada masyarakat apa itu photobooth, bagaimana proses dan cara kerjanya. "Namun seiring berjalannya waktu, tentu saja kendala berikutnya adalah ketatnya persaingan.

Banyak bermunculan photobooth baru dan semua fotografer pun menawarkan paket photobooth dengan harga lebih murah. Tetapi saya bersyukur masih bisa eksis hingga saat ini," ujarnya.

Berbagai pengalaman yang tak terlupakan pun kerap dialaminya. Yenni menceritakan pernah dirinya dimarahi tamu undangan karena antrean yang sangat panjang serta proses mencetak foto yang dianggap lama.

Pengalaman tak terlupakan lainnya ketika awal meniti bisnis, ia hanya memiliki dua printer yang berjalan di dua acara berbeda, di mana salah satu printer tersebut mengalami kerusakan dan tidak memiliki cadangan. "Tiba-tiba salah satu printer-nya mengalami paper jump dan saya tidak memiliki cadangan. Pada saat itu saya benarbenar frustasi. Bentuk pertanggungjawaban yang saya tawarkan waktu itu, tetap memfoto para tamu namun hasil cetak fotonya saya kirimkan satu per satu ke alamat mereka. Nah dari situ saya belajar bahwa bagaimana pun saya membutuhkan peralatan cadangan apabila terjadi hal yang tidak diinginkan," jelasnya diiringi derai tawa.(49)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar