• KANAL BERITA

Kegilaan Book Ranger

Oleh Eko Edi N

TIDAK salah jika menyebut mereka pasukan perang literasi. Pasukan buku itu, yang sebagian besar anak-anak muda, terus bergerak dari kota ke kota untuk menggelar pameran buku. Tidak semua pencinta buku, kutu buku, atau maniak buku. Bahkan ada yang tak suka baca buku. Mereka bisa berlatar belakang dari dunia apa pun. Ada kuli bangunan, tukang kayu, tukang batu. Namun mereka punya kepedulian untuk menyebarkan buku hingga ke pelosok Tanah Air.

Bagi mereka, pameran buku adalah sebuah karya. Sebuah karya yang harus mereka perjuangkan dengan pengorbanan apa pun, baik tenaga, waktu, maupun pikiran. "Kami bisa jauh dari keluarga bahkan bisa sampai dua-tiga bulan tidak pulang, berpindahpindah dari satu daerah ke daerah lain, demi tujuan mulia, yakni mendekatkan masyarakat dengan buku," ujar lelaki muda yang akrab disapa Mas Edi.

Ikatan Persaudaraan

Ia telah beberapa waktu bekerja bersama Three G Production bersama Hinu OS menggelar pameran buku di sejumlah kota di Indonesia, baik di Jawa maupun luar Jawa. Kebersamaan itulah yang membuat ikatan di antara book rangers sedemikian kuat. "Anggota kami keluarmasuk, bisa berganti-ganti. Namun temen-temen selalu punya rasa memiliki. Ini karya kami. Jangan sampai besok kualitasnya turun, lebih jelek dari kemarin.

Jadi para senior yang akan berkiprah di tempat lain biasanya ikut pameran buku terakhir, kemudian mengajari adik-adik yang baru. Begitu terus sampai sekarang," katanya.

Begitu banyak book rangers yang pernah terlibat dalam karya mereka. Jadi kalau bikin prasasti batu banyak sekali. Mereka juga punya basis data yang pernah bekerja bersama. "Mereka merasa pernah punya karya di pameran buku. Karena bagi kami, membuat acara itu membuat karya. Jadi semaksimal mungkin berusaha agar karya ini bisa diapresiasi pengunjung, penerbit, bahkan stakeholders lain," tambah Hinu OS.

Beberapa teman di luar Jawa dan kebetulan Three G menggelar kembali pameran di kota itu, mereka pasti menyambangi. Ikatan book rangers itu sudah seperti keluarga. " Kami tak pernah bilang panitia sih, kami bilangnya book rangers, pasukan buku. Kalau panitia setelah selesai pameran selesai, kami berlanjut berkomunikasi, bahkan pada acara berikutnya, kami selalu minta tolong. Itu yang membuat ikatan sedemikian kuat," tutur Edi.

Transfer Ilmu

Transfer ilmu pun berlangsung natural. Para senior sukarela menularkan ilmu ke anggota yunior. Begitu sebaliknya, anggota yunior tanpa sungkan bertanya kepada senior. Book rangers meyakini telah melakukan pekerjaan mulia. Jadi siapa pun yang terlibat dalam pameran buku telah melakukan kebaikan karena mengajak orang membaca buku. Minimal dalam satu kehidupan, mereka melakukan pekerjaan yang hasilnya dirasakan orang banyak. "Ada karya yang semua orang merasakan sentuhan kami. Mereka menikmati, bahkan membicarakan karya kami. Ini karya kami. Dan kami bahagia," ujar Edi.

Itu yang membuat persaudaraan makin kuat. "Kalau dibikin jambore, wah sudah bisa. Selama 11 tahun ini, banyak book rangers di kota-kota lain, Semarang, Malang, bahkan di Kalimantan ada. Ini menyenangkan. Kami punya banyak saudara dalam literasi," ujarnya.

Ideologi book rangers, sambung Hinu OS, adalah menyebarkan virus membaca buku. Semua yang terlibat dan pernah berkarya tak pernah berhenti menyebarkan virus mencintai buku. "Setiap ada pameran selalu datang lagi. Sampai sekarang bahkan ada yang sudah punya anak, berkeluarga, selalu kembali, kembali, dan kembali. Ketika kami ada di kota itu, mereka pasti hadir kembali, silih berganti," ujar direktur Three G Production itu.

Anggotanya terus bersetia pada gelaran kegiatan itu. Padahal, tidak semua mencintai buku. "Kalau ditanya apakah kami semua mencintai buku? Tidak! Bahkan kami book rangers di daerah-daerah ada yang kuli bangunan, tukang kayu, kuli batu, dan banyak lagi," kata dia.

Memang terlibat acara pameran buku bukanlah pekerjaan ringan. Namun di balik suka-duka dan tantangan, ada ruang untuk mencari rezeki yang baik. Bukan berarti di luar bidang pekerjaan itu tidak baik. Namun memberi manfaat ke masyarakat. Bisa jadi dan sangat mungkin dunia yang mereka geluti tak memberikan keuntungan finansial yang besar. Namun book rangers sangat bangga atas aktivitas mereka.

Ketika ditanya mengapa memilih terlibat pameran buku daripada pekerjaan yang lebih memberikan keuntungan finansial, jawaban mereka sangat mengharukan. "Ketika pulang ke rumah, saya merasa lebih bermartabat. Saya pulang bukan dari membangun rumah, melainkan dari pameran buku kota Akota B. Keluarga di lingkungan merasa lebih bermartabat karena kami membangun peradaban!" (Eko Edi N-53)


Komentar