WNI di Luar Negeri, Mencoblos Via Kantor Pos

KETERBATASAN Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN) membuat sebagian Warga Negara Indonesia (WNI) harus menentukan pilihannya dalam pemilu, yang dikirimkan melalui kantor pos. Adapun pelaksanaan early voting atau pemungutan suara di luar negeri berlangsung lebih cepat dibandingkan di Indonesia, sejak 8 hingga 14 April 2019. Proses tersebut juga harus dijalani WNI berdomisili di Australia, yang melakukan pemungutan suara secara serentak pada 13 April.

Sebanyak 71 TPSLN tersebar di seluruh Australia, termasuk yang mencoblos lewat pos. ”Proses pendaftaran Daftar Pemilih Tetap Luar Negeri (DPTLN) harus dilakukan sebelum 13 April. Biasanya bisa langsung daftar ke KJRI, secara online, maupun via kantor pos. Mereka yang mencoblos lewat pos, surat suara dikirim sesuai alamat tempat tinggalnya.

Setelah memilih, surat suara yang telah dicoblos kembali dikirim ke KJRI atau TPS terdekat, ” ungkap pekerja Woolworths RDC Sydney di Regional District Centre, Firman Anggara (32). Dikatakan, pencoblosan lewat pos terjamin kerahasiaannya karena KJRI juga menunjuk saksi yang berasal dari masing- masing partai, untuk mengawasi proses tersebut.

Pemilih di luar negeri, termasuk di Australia, hanya memperoleh dua kartu suara. Satu kartu untuk pilpres, dan satu untuk pileg Daerah Pemilihan DKI Jakarta II. Meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Luar Negeri dengan jumlah caleg mencapai lebih dari 100 orang.

”Kami diberitahu kalau waktu pemilihannya dimulai pada pukul 08.00 hingga 17.00, waktu Australia. Pernah disosialisasikan terkait caleg-caleg untuk pileg, tetapi sama sekali tidak kenal,” tambah anggota Komunitas Pelajar Islam Indonesia (KPII) tersebut. Firman mengatakan, awalnya hendak pulang ke Indonesia pada April.

Namun karena ada sesuatu hal, niat tersebut batal. Pelajar yang menetap di Marrickville, New South Wales, Australia tersebut, mengaku selama ini memantau perkembangan pelaksanaan pemilu di Australia melalui grup WA Indo-Melbourne dan Sydney. Untuk menuju TPS terdekat, ditempuh dengan kereta api sekitar 30 menit. ”Saat pemilu, rata-rata WNI di sini menyambutnya dengan antusias.

Lebih karena senang, memiliki waktu untuk dapat bertemu dan berkumpul- kumpul dengan sesama WNI di Australia,” ujar dia. Wiyono (31), WNI yang saat ini bekerja di Stanthorpe, Brisbane, mengatakan ingin berpartisipasi pada pemilu 2019. Dirinya telah memiliki pandangan terhadap calon presiden yang hendak dipilih. Hanya saja, tidak bisa mencoblos karena harus tetap masuk kerja pada 13 April.

Pemula dan Usia Tua

”Di sana tidak ada waktu libur untuk menggunakan hak pilih. TPS terdekat hanya ada di Kota Brisbane, yang bila ditempuh dengan naik mobil membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam. Sementara Stanthorpe merupakan kota kecil sehingga tidak disediakan TPS.

Selain di Kota Brisbane, TPS biasanya hanya dibuka di kota-kota besar saja seperti di Sydney,” ungkap dia. Dikatakan, hingar-bingar pilpres sampai hingga ke Stanthorpe. Selama ini, bersama dengan istrinya, Anggraeni Novitasari (28), dirinya terus memantau perkembangan melalui media sosial.

Sementara itu dari dalam negeri, warga Kampung Mbugen RT 7/1 Muktiharjo Kidul, Pedurungan, Semarang, Arman Ramelan (60), mengaku sudah paham pemilu kali ini akan ada lima lembar surat surat suara. Hal itu diketahui dari sosialisasi pihak kelurahan. Dirinya menyebut akan menggunakan hak pilihnya karena meyakini satu suara miliknya cukup berharga dalam menentukan masa depan bangsa.

Menggunakan hak pilih juga disampaikannya kepada anakanaknya. ”Kalau capres saya sudah menentukan pilihan sedangkan untuk caleg belum. Saya kira pemilu kali ini lebih demokratis dan terbuka. Pelaksanaan pemilu tidak memihak dan dikuasai satu capres saja.

Mungkin masih ada kekurangan dalam pelaksanaannya, namun itu proses dalam pelaksanaan demokrasi,” tuturnya. Adapun mahasiswi Unnes, Yolanda Wahyu Gufi (21), mengaku, pernah mendapatkan sosialisasi terkait pelaksanaan pemilu.

Meski belum begitu paham, sebagai warga negara yang baik, perempuan asal Purwokerto itu tetap antusias untuk menggunakan hak pilihnya. ”Ini pertama kalinya mengikuti Pemilu serentak. Saya membuat form A5 agar tetap bisa mengikuti Pemilu di area Unnes, jadi tidak harus mencoblos di daerah asal,” katanya. (M Arif Prayoga-54)

Penyunting :
Wahyu Wijayanto


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar