”Pojok Cerpen”

Bergembira dengan Membaca

Banyak orang percaya bahwa buku adalah jendela dunia. Buku dipahami pula sebagai pintu ilmu pengetahuan. Dan, dengan membaca buku, akan terbukalah keluasan wawasan serta sudut pandang. Tetapi ”Pojok Cerpen” dengan taglineyang sama sekali berbeda, mencoba menafsirkan sebuah buku dari sisi yang lain; bergembiralah dengan membaca!

Inilah yang kadang tak terpikirkan. Sejauh ini, membaca identik dengan aktivitas yang serius. Seseorang yang gemar membaca, biasanya digambarkan dengan sosok berkaca mata tebal, wajah kusut masai, dan di mejanya bertumpuk-tumpuk buku yang tebal-tebal pula.

Pemahaman yang demikian itulah yang hendak diruntuhkan Wijaya Kusuma Ekaputra bersama ”Pojok Cerpen”. ”Bergembiralah dengan membaca. Jadikan aktivitas membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan!” kata dia saat ditemui di sela acara ”Festival Sejuta Buku 2019” di Gedung Wanita, Jl Sriwijaya Semarang.

Menurut dia jika dipahami dengan keseriusan, maka membaca akan menjadi aktivitas yang membosankan. Padahal sesungguhnya, buku memberikan kegembiraan luar biasa.

Dia misalnya, menyukai buku sejak SMA, saat tinggal di Yapen, Papua. Karya-karya penulis top seperti Hamsat Rangkuti, Pramoedya Ananta Toer, serta Seno Gumira menjadi santapannya.

Menurutnya dari membaca karya-karya tersebut, ia merasakan kegembiraan tersendiri. ”Dengan buku saya mendapatkan kegembiraan, ikut pameran ke mana-mana, bisa bertemu dengan banyak orang.

Semua itu menyenangkan,” tukas Eka. Kegembiraan dari membaca buku itulah yang mesti ditularkan ke generasi sekarang ini. Karena itu dia mengapresiasi konsep wisata buka untuk anak-anak sekolah.

”Konsep wisata buku, dengan mengajak anak-anak sekolah berkunjung ke pameran buku ini luar biasa sekali. Anak-anak diajak bergembira dengan melihat-lihat dan membaca buku,” tutur lulusan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Kegembiraan yang diperoleh dari membaca itulah yang membuat Eka Pocer, demikian sapaan akrab pria kelahiran 31 Desember 1991 ini, tak bisa jauh dari buku. ”Pojok Cerpen” adalah penerbitan indie yang didirikannya untuk mewadahi hasratnya yang sedemikian besar pada buku.

Sesuai namanya khusus menerbitkan cerita pendek. ”Dari remaja saya memang suka sama cerpen. Membaca cerpen itu menyenangkan. Itulah yang mendasari saya mendirikan penerbitan indie yang secara khusus menerbitkan karya-karya cerita pendek,” tutur dia.

Ia mengaku sangat mencintai buku, sehingga memilih pekerjaan pun, yang tidak jauh dari buku. ”Saya penginnya kerja tidak jauh-jauh dari yang saya sukai. Jadi seperti main-main begitu, dan tetap memberikan kegembiraan,” ujar Eka Pocer.

Lahir pada 2015, ”Pojok Cerpen” telah melahirkan sejumlah kumpulan cerpen, di antaranya Nasib Penebang Kayu karya Soesilo Toer, Nelayan Itu Berhenti Melaut, Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam, serta yang bakal menyusul terbit, Belajar Mencintai Kambing.

Di luar genre cerita pendek, Eka Pocer dengan bendera ”Tanda Baca” menerbitkan karya-karya yang lebih serius, seperti Eros dan Peradaban, Marxisme dan Problem Ilmu Bahasa, Rubaiyat Sebiji Sawi karya Hamdi Salad, serta Ego Dan Id.

Tantangan

Eka mengakui sebagai penerbit indie memiliki tantangan yang berbeda dari penerbit yang telah mapan. ”Pojok Cerpen” misalnya tidak harus masuk ke toko-toko buku untuk memasarkan terbitannya. Pilihannya, tentu saja lewat media sosial dengan menyasar kalangan milenial. Tetapi ini pun tidak semata urusan provit.

Eka Pocer ingin lebih dari sekadar keuntungan finansial, yaitu menyediakan bacaan yang bermutu untuk kalangan milenial, dan tentu saja tujuan akhirnya adalah membudayakan minat baca di kalangan milenial dan menjadikan aktivitas membaca sebagai kegiatan yang menggembirakan. Mendekatkan buku kepada pembaca itulah yang juga ditempuh Hino OS dengan 3GP Production.

Ia tercatat telah menggelar even pameran buku di 464 kota , 23 di antaranya digelar di Semarang. Pameran tersebut merupakan upayanya untuk lebih membudayakan gemar membaca. ”Budaya membaca kita sebenarnya tidak rendah.

Keliru jika ada yang mengatakan minat baca kita turun. Buktinya setiap pameran selalu dibanjiri pengunjung. Itu membuktikan bahwa sesungguhnya minat baca masyarakat kita sangat baik,” jelas dia.

Menurut Hino OS, orang yang mengatakan minat baca masyarakat rendah berdasarkan kunjungan ke perpustakaan yang belum menggembirakan. Tetapi itu tak menggambarkan minat baca yang rendah. Kalau perpustakaannya tidak menarik, tentu tidak bakal didatangi orang.

Padahal geliat perbukuan sangat bagus. ”Pameran buku merupakan salah satunya untuk menumbuhkan budaya membaca. Masyarakat bisa dapat buku murah, apa pun ada, murah dan terjangkau. Orang yang tidak pernah baca buku bisa teredukasi dengan pameran.

Karena ini multi even, yang tidak ada hubunnganya dengan buku kita masukkan. Jadi mereka kemudian datang, lihat buku, pegang, dan akhirnya bawa pulang,” jelas dia. (Eko Edi N-53)


Tirto.ID
Loading...
Komentar