Rita Kartika Sari

Daya Senyuman

Apa jadinya jika kita sedang sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit, namun tidak mendapatkan pelayanan seperti yang kita harapkan? Mungkin bukannya sembuh dari sakit, bisa jadi penyakitnya bertambah. Mengapa? Ya, pelayanan yang baik dalam dunia medis ternyata sangat berkontribusi dalam menunjang kesembuhan pasien. Sayang, seringkali dijumpai masih banyak perlakuan tidak menyenangkan yang diterima pasien ketika harus bersinggungan dengan dokter, perawat ataupun staf karyawan di rumah sakit.

Prihatin dengan hal tersebut, dokter Rita Kartika Sari SKM MKes mengembangkan metode soft skills di kalangan petugas medis. Tujuannya jelas, yakni untuk mengedukasi petugas medis agar dia bisa lebih cerdas secara emosional.

”Soft skills itu meliputi dua hal, yakni intrapersonal yakni kemampuan yang bermanfaat dalam mengatur dirinya sendiri dan interpersonal yakni kemampuan yang bermanfaat dalam berhubungan dengan orang lain,” papar Rita. Menurut ibu satu orang anak ini, kebanyakan orang masih belum bisa mengelola kemampuan interpersonalnya.

Begitu pun yang terjadi di dunia medis. Banyak perawat pintar tapi galak, banyak perawat terampil tapi judes, perawat cerdas tapi tidak teliti, bahkan juga perawat yang hebat tapi tidak menyenangkan.

Padahal dari hasil penelitian yang telah dilakukannya, kemampuan petugas medis dalam mengelola kecerdasan emosional sangat membantu proses penyembuhan pasien. Perkataan yang baik, sikap sopan santun, nada suara yang halus, termasuk contoh komunikasi verbal yang wajib dilakukan oleh seorang petugas medis kepada pasiennya.

”Itulah soft skills yang sebenarnya harus selalu beriringan dengan hard skills. Hard skills atau kemampuan seseorang dalam menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan secara teknis, belum bisa menjadi ukuran penentu keberhasilan seseorang, jika tidak diimbangi dengan soft skills,” tegas dia.

Lantaran kepeduliaannya dalam menyebarkan virus soft skills ini pula, Rita yang juga menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Unissula Semarang ini acap diundang menjadi pembicara di berbagai seminar tentang soft skills di kalangan petugas medis. Sasarannya tak hanya perawat dan dokter, namun juga kepada karyawan, bahkan cleaning service rumah sakit.

Terapi Kesembuhan

Hasilnya, menurut perempuan kelahiran Karanganyar 20 April 1978 ini, cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan tingkat kepuasan pasien dalam menilai pelayanan rumah sakit jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.

”Seorang perawat atau petugas medis, sebaiknya jangan segan untuk selalu mengucapkan kata salam, kata maaf, dan terima kasih kepada pasiennya. Jika kalimat- kalimat itu dirangkai sedemikian indah, diucapkan dengan santun dan halus, pasti pasien akan senang.

Dan ternyata ucapan itu sekaligus bisa menjadi terapi kesembuhan bagi pasien,” terang dia lagi. Yang harus dihindari, kata Rita, petugas medis hendaknya tidak sampai mengucapkan kata tidak bisa, tidak tahu, bukan bagian saya, salah sendiri, dan sejenisnya atau biasa kita sebut killing words di hadapan pasien.

Sebab kata-kata itulah yang kerap membuat pasien down, tidak bersemangat melanjutkan pengobatan, hingga yang paling buruk dapat memperparah sakitnya. Biasanya perawat atau petugas medis yang sudah bisa mengelola kecerdasan emosinya pun dapat terlihat dari sikap kesehariannya.

Secara intrapersonal, dia akan terbiasa tepat waktu atau selalu on time, dia mampu mengelola stres dalam dirinya, dia akan bekerja dengan penuh semangat, dan dia akan mampu membangun karakter dirinya. Kalau seseorang sudah bisa mengelola kecerdasan intrapersonalnya, kecerdasan interpersonalnya dalam berhubungan dengan orang lain akan lebih baik.

Rita pun berharap para petugas medis, khususnya perawat, bisa sepenuh hati dalam menjalani profesinya. Karena menurut dia, seorang yang berkecimpung di bidang pelayanan masyarakat apalagi pelayanan terhadap orang sakit sangat rawan stres.

Jika stres dalam dirinya sudah sedemikian berat dan tidak ada kemampuan untuk mengelolanya, pasien juga akan menerima dampaknya. ”Ini yang dinamakan manajemen stres

Mengelola stres yang biasanya berdampak negatif menjadi stres yang positif. Contoh stres positif misalnya, seseorang yang sadar jika terlambat datang akan mendapat sanksi, maka dia akan berangkat lebih awal, melakukan kewajiban dengan penuh kesadaran, sehingga bukannya mendapat sanksi malah mungkin penghargaan karena kedisiplinannya,” terang Rita.

Dalam otak yang sehat akan memunculkan respon positif dalam bertindak, sehingga yang terjadi adalah meningkatnya hormon imunitas dan menurunnya hormon stres. ”Hiduplah dengan lebih banyak memberi manfaat untuk orang lain,” katanya.

Itulah visi hidup Rita, bermanfaat untuk orang lain hingga akhir hayat. Hingga saat ini setidaknya 80 institusi Jawa Tengah telah ia sambangi. Hingga Sabtu-Minggu yang menjadi hari liburnya, ia korbankan untuk merawat senyuman dan keramahan.

”Ternyata otak yang sehat dan normal, bekerja untuk rahmatan lil alamin! Itu yang saya lakukan berkarya untuk kebahagiaan banyak orang,” tandas Rita. (49)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar