Berburu Tikus di Bulan September

SALAH satu program dari DKK Semarang untuk menanggulangi masalah leptospirosis adalah dengan mengadakan Bulan Peduli Leptospirosis, yang diadakan setiap bulan Agustus - September pada setiap tahunnya.

Program berupa buru tikus serentak di 177 kelurahan itu mulai diluncurkan pada 2017. Kegiatan awal ditandai dengan diadakannya roadshowsosialisasi Bulan Leptospirosis di 16 kecamatan di bulan Juli 2018. DKK Semarang bekerja sama dengan beberapa dokter dari Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Mereka memberikan penyuluhan kepada para tokoh masyarakat tentang bahaya leptospirosis dan cara menanggulanginya. Dengan program ini diharapkan masyarakat nantinya akan menjadi menjadi agent of change untuk memberikan perubahan perilaku kesehatan. Kegiatan kemudian berlanjut di bulan Agustus.

DKK Semarang mempunyai 215 Pertugas Surveilans Kesehatan yang tersebar di 177 kelurahan yang akan melakukan penyuluhan serentak di wilayahnya masingmasing. Diharapkan dengan adanya kegiatan tersebut, sasaran penyuluhan yang dalam ini diikuti oleh RW, RT dan kader kesehatan mengetahui bahaya leptospirosis dan cara menanggulanginya serta ikut berperan aktif dalam kegiatan buru tikus.

SMS Pelaporan

Salah satu rangkaian kegiatan Bulan Pengendalian Leptospirosis pada bulan September adalah Buru Tikus yang dilaksanakan di masing-masing kelurahan seluruh kota Semarang. Bagi masyarakat yang melakuakn buru tikus harus melaporkan hasil buruannya kepada Dinas Kesehatan Kota Semarang melalui SMS.

Berdasarkan Sistem penghitungan SMS melalui HIEWS (Health Information Early Warning System) sampai tanggal 10 Oktober 2018, jumlah SMS pelaporan tikus yang sudah diterima sistem HIEWS sebanyak 3.182 SMS dengan total jumlah tikus sebanyak 12.108. Wilayah tertinggi yang mendapatkan tikus adalah Kecamatan Semarang Barat sebanyak 1.641 ekor.

Jumlah tikus yang didapatkan masing-masing Kecamatan dipengaruhi oleh jumlah kelurahan di masing-masing wilayah. Bidang pengendalian dan pemberantasan penyakit leptospirosis Dinkes Kota Semarang, Wiwik Dwi lestari mengatakan, aksi buru tikus bertujuan untuk mengantisipasi warga Kota Semarang terjangkit penyakit leptospirosis.

Wiwik menjelaskan, kasus penyakit leptospirosis yang ada di kota Semarang pada tahun 2017 terdapat 55 kasus dengan jumlah meninggal dunia sebanyak 14 orang. Adapun, tahun 2018 hingga Mei 2018 terdapat 38 kasus dengan jumlah kasus meninggal dunia sebanyak 11 orang.

”Jumlah tersebut meningkat hingga Oktober ini ada 46 kasus penyakit leptospirosis di kota Semarang dengan jumlah meninggal sebanyak 13 orang,” imbuh Wiwik. Hal tersebut, kata Wiwik, menjadi perhatian khusus bagi Dinkes Kota Semarang terkait semakin bertambahnya kasus penyakit leptospirosis.

Upaya penangkapan tikus pun terus digencarkan lantaran binatang tersebut juga menjadi salah satu penyebab penyakit leptospirosis. Selain itu, Dinkes Kota Semarang bekerja sama dengan lintas sektor mengadakan sosialisasi dan penyuluhan terkait penyakit leptospirosis. ”Selama bulan Pengendalian Leptospirosis ini kami telah mengadakan penyuluhan sebanyak 2544 kali di masing-masing kecamatan,” ucap Wiwik.

Terlepas dari bulan pengendalian leptospirosis, sambungnya, Dinkes Semarang juga terus berupaya mengendalikan penyakit yang ditularkan melalui kencing tikus tersebut dengan melakukan penyelidikan epidemiologi, tata laksana baik fasilitas pelayanan kesehatan puskesmas maupun rumah sakit, pengadaan redi diagnostik, rapat koordinasi, dan ceramah klinis bagi petugas. Dinkes Kota Semarang juga memberikan alat dan sarana kepada puskesmas dan rumah sakit untuk mendeteksi penderita leptospirosis.

”Kalau di puskesmas kan memang programnya gratis, kalau di rumah sakit kembali dengan manajemen rumah sakit. Intinya untuk mencover deteksi dini terhadap screening penderita leptospirosis dengan gejala klinis tidak harus menunggu berhari-hari lamanya,” jelasnya. (Fista Novianti, Dwi Ani Retnowulan-23)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar