Saat Kencing Tikus Diremehkan

Jangan sesekali meremehkan kotoran tikus. Kencingnya mengandung bakteri langka dan bisa menyebabkan leptospirosis. Angka 20 persen atau sekitar 89 orang penderitanya meninggal dari jumlah 427 kasus leptospirosis di Jawa Tengah tahun 2018.

MENJIJIKAN tapi kenyataanya hidup di lingkungan perumahan. Itulah tikus. Tinggal di saluran air dan seringkali mencari makan dari sisa-sisa pembuangan makanan yang menjadi limbah rumah tangga. Bahkan terkadang mereka berani menyelinap masuk ke rumah-rumah warga melalui lubang-lubang kecil yang ada.

Jumlah kasus dan angka kematian akibat leptospirosis di Jawa Tengah menunjukkan betapa masyarakat mesti sadar betul untuk menjaga kebersihan. Lantaran masih banyak masyarakat yang acuh dengan bahaya kotoran tikus ini. Padahal mematikan.

Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yulianto Prabowo mengatakan jumlah kasus yang terjadi di Jawa Tengah tahun lalu menjadi yang paling tinggi jika dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Kasus leptospirosis tersebar di seluruh Jateng namun jumlah tertinggi ada di Kabupaten Demak, Klaten, Banyumas, Pati dan Kota Semarang.

Semarang Tertinggi

Wilayah-wilayah yang seringkali terjadi kasus leptospirosis adalah di daerah yang sering di landa banjir atau rob. Air yang menggenangi permukiman semakin mempercepat penyebaran bakteri dari kencing tikus ke manusia. Semarang menjadi salah satu wilayah kota di Jawa Tengah dengan angka leptospirosis tinggi.

Lantaran banyak warga yang tinggal di wilayah rob dan musim hujan sering kali menyebabkan sejumlah permukiman banjir. Penyakit leptospirosis bisa menyebabkan kematian dengan menginfeksi penderita dalam waktu dua hari sampai empat pekan. Jika tidak segera ditangani bisa menyebabkan kematian.

”Kadang, penderita tidak tahu jika terkena leptospirosis karena gejalanya mirip demam atau flu biasa,”katanya. Yulianto lebih lanjut menjelaskan, pihaknya menggandeng instansi lain untuk ikut menanggulangi ancaman penyakit akibat kencing tikus ini. Di antaranya adalah Dinas Pekerjaan Umum dan Badan Lingkungan Hidup.

”Kami berupaya yang terbaik untuk mencegah penyakit leptospirosis. Tapi yang terpenting adalah, masyarakat sadar menjaga kebersihan lingkungan dan keamanan diri dari serangan penyakit. Misal menggunakan sepatu boot ketika berada di daerah genangan,” jelasnya.

Sebelumnya, anggota Komisi E DPRD Jateng Yudi Indras Wiendarto meminta tindakan pencegahan dilakukan secara serius. Pertama melalui sosialisasi pada masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang terjadi kasus leptospirosis tinggi.

Sosialisasi ini penting, lantaran masih banyak yang menyepelekan karena tak tahu seberapa bahayanya penyakit tersebut. Langkah kedua adalah menanganai setiap kasus leptospirosis di semua wilayah dengan serius. ìMenyadarkan masyarakat dan penanganan serius.

Dua hal itu sangat penting. Apalagi akhir-akhir ini sejumlah daerah di Jateng dilanda banjir sehingga potensi leptospirosis semakin besar,î kata Yudi. Leptospirosis adalah penyakit akibat bakteri Leptospira sp. yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis).

Leptospirosis dikenal juga dengan nama Penyakit Weil, Demam Icterohemorrhage, Penyakit Swineherd’s, Demam pesawah (Ricefield fever), Demam Pemotong tebu (Cane-cutter fever), Demam Lumpur, Jaundis berdarah, Penyakit Stuttgart, Demam Canicola, penyakit kuning non-virus, penyakit air merah pada anak sapi, dan tifus anjing.

Infeksi dalam bentuk subakut tidak begitu memperlihatkan gejala klinis, sedangkan pada infeksi akut ditandai dengan gejala sepsis, radang ginjal interstisial, anemia hemolitik, radang hati, dan keguguran.

Leptospirosis terjadi di seluruh dunia,baik di daerah pedesaan maupun perkotaan, di daerah tropis maupun subtropis. Penyakit ini terutama berisiko terhadap orang yang bekerja di luar ruangan bersama hewan, misalnya peternak, petani, penjahit, dokter hewan, dan personel militer.

Selain itu, Leptospirosis juga berisiko terhadap individu yang terpapar air yang terkontaminasi. Di daerah endemis, puncak kejadian Leptospirosis terutama terjadi pada saat musim hujan dan banjir. Di Indonesia, bahaya leptospirosis sudah mulai mengancam.

Data Kementerian Kesehatan sepanjang tahun 2015-2017 menunjukkan bahwa setiap tahunnya terdapat lebih dari 400 kasus, dengan jumlah tertinggi pada tahun 2016 dengan 830 kasus, 7,35% diantaranya meninggal dunia. Dan menurun pada tahun 2017 dengan 640 kasus, namun angka kematiannya naik menjadi 16,88%.

Sedangkan provinsi yang menempati jumlah kasus leptospirosis tertinggi adalah Provinsi Jawa Tengah yang menduduki peringkat pertama jumlah di Indonesia. Pada 2017 di Provinsi Jawa Tengah terdapat 316 kasus dengan jumlah korban meninggal 55 orang.

Secara khusus, di Kota Semarang terdapat 55 kasus dengan jumlah korban meninggal 14 orang atau bisa dikatakan 25% diantaranya meninggal dunia. Dan pada tahun 2018 sampai dengan bulan Juli terdapat 40 kasus dengan 11 orang yang meninggal.

Penyebabnya adalah keterlambatan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pengobatan, ditambah perilaku masyarakat yang belum sepenuhnya menyadari tentang perilaku hidup bersih dan sehat. (Hanung Suhendro, Fiesta Novianti-23)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar