PITUTUR

Enake Sak Klentheng Larane Sak Rendeng

DEMI nikmat sebesar klentheng, sakitnya semusim hujan. Ya kita sering mendengar ada orang yang rela melakukan apa saja, mengeluarkan dana berapa saja untuk tujuan yang sangat kecil, demi kenikmatan yang hanya sebesar klentheng.

Klentheng adalah biji kapuk randu kurang lebih sebesar kacang hijau. Padahal sakitnya atau deritanya sangat panjang Sangat tidak seimbang antara pengorbanan dan hasil yang dicapai. Itu pun belum pasti tercapai.

Tetapi mengapa ada bahkan mungkin banyak orang yang melakukannya. Tentu ini disebabkan karena orang kurang perhitungan. Ingin meniru orang lain yang dipandang berhasil, dan menganggap hasil itu bisa diperoleh secara instan. Padahal bukankah kita pernah mendapat pitutur ”jer basuki mawa bea”.

Ya keberhasilan tidak pernah kita peroleh dadakan, ujug-ujug, tetapi melewati pengorbanan, melewati proses yang sering cukup panjang. Kita pun harus memperhitungkan costyang kita keluarkan dan besaran keuntungan yang mungkin kita peroleh. Jangan sampai besar pasak dari pada tiang.

Namun banyak orang melupakan ini. Misalnya demi mengikuti gaya hidup orang membeli pakaian atau aksesoris dengan harga mahal dan harus membayar dengan angsuran utang untuk jangka waktu yang cukup panjang.

Sesudah itu pakaian dan aksesori itu tak pernah ia pakai lagi karena memang tak cocok untuk dikenakan sebagai pakaian sehari-hari. Ia lakukan itu karena melihat artis favoritnya mengenakan pakaian dan aksesoris serupa. Memang artis itu berhasil dan memperoleh keuntungan yang memadai. Sedang dia.

Dia harus membayarnya dengan angsuran yang cukup lama sedang keuntungannya paling-paling dianggap orang ”tidak ketinggalan jaman”, dikiaskan dengan keuntungan yang hanya sebesar klentheng.

Sangat tidak imbang. Begitu pula dengan pesta-pesta dan berbagai gaya hidup yang lain. Juga yang kini aktual misalnya adalah mengejar posisi atau kedudukan Dari pitutur di atas kita mendapat pelajaran agar kita membuat kalkulasi untung-ruginya perbuatan yang akan kita lakukan.

Ada baiknya kita baca S. 87 Al A’la ayat 16-17 ”Mengapa kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia (yang amat sementara), padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal”.(Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah-23)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar