FIKIH WANITA

Kepemimpinan dalam Keluarga

TANGGAL17 April nanti kita akan memilih pemimpin tertinggi negara kita Indonesia, yakni Presiden, yang akan membawa Indonesia ke masa depan. Bagaimana dengan kepemimpinan dalam keluarga? Dalam masalah kepemimpinan keluarga denga tegas Allah mengajarkan dalam Alquran surah an- Nisa’34 yang artinya ’’Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita karena Allah telah melebihkan sebagian atas sebagian yang lain dan karena apa yang telah mereka nafkahkan dari harta mereka.’’

Ayat tersebut memberi petunjuk kepada kita bahwa laki-laki atau suami adalah pemimpin keluarga karena alasan adanya kelebihan atas istri dan karena memberikan nafkah pada istri. Kalau kita hanya berhenti pada teks ayat di atas, maka sudah barang tentu kepemimpinan laki-laki atas istri adalah mutlak karena telah memberi nafkah.

Untuk memahami dengan baik petunjuk Allah tersebut maka kita kutip ayat 19 surat an-Nisa’yang artinya: ’’Istri-istrimu adalah pakaian bagi kamu dan kamu adalah pakaian bagi mereka.’’ Ayat ini menjelaskan bahwa fungsi suami dan istri adalah saling melengkapi dengan cara menutupi kekurangan dan menghiasi pasangannya. Dalam konteks pergaulan suami-istri, Alquran juga memerintahkan untuk menggauli pasangannya dengan baik, Wa’asyiruuhunna bi al ma’ruuf.

Dalam memutuskan persoalan atau masalah dalam rumah tangga, sebagaimana dalam masyarakat, Alquran memerintahkan untuk melakukannya dengan musyawarah, sehingga perlu dijalin komunikasi yang baik antarpihak, suami dan istri. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabiyullah Ibrahim AS ketika melalui mimpi mendapat perintah untuk menyembelih putranya, Ismail.

Nabi Ibrahim tidak langsung melakukannya, tetapi terlebih dahulu menanyakan bagaimana pendapat putranya tersebut. Dengan berpedoman kepada petunjuk Alquran di atas, maka kita bisa menyimpulkan secara kontekstual bahwa kepemimpinan dalam keluarga harus dipegang oleh suami apabila ia memiliki kelebihan, baik secara lahir maupun batin.

Bagaimana kalau suami tidak memiliki kelebihan? Dalam kitab Uquudu al-Lujain dinyatakan betapa besar kekuasaan suami terhadap istri, di mana ia boleh berbuat sekehendaknya kepada istrinya, dengan ancaman laknat malaikat bila menentangnya, sehingga hak kepemimpinan suami dalam keluarga bersifat mutlak.

Dalam memahami kitab tersebut, Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, melalui Yayasan Puan Amal Hayati, telah meneliti kitab tersebut dan sampai pada kesimpulan bahwa kitab tersebut harus dipahami secara kontekstual sesuai jamannya, bukan tekstual. Berdasarkan kondisi dan situasi yang terjadi saat ini, banyak dijumpai perempuan yang menjadi kepala rumah tangga karena kasus perceraian atau ditinggal wafat suami.

Dari kasus-kasus tersebut terbukti bahwa para perempuan mampu melaksanakan kepemimpinan keluarga dan berhasil mendidik anak-anaknya hingga berguna bagi nusa bangsa. Hal ini membuktikan bahwa kelebihan yang diperlukan untuk melaksanakan kepemimpinan keluarga juga dapat dimiliki perempuan. (DrUmmul Baroroh MAg, Sekretaris MUI Jawa Tengah-23).

Penyunting :
Dwi Ani Retnowulan


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar