Memanggungkan Anak Muda Semarang

SPIRIT dan kreativitas anakanak muda rasanya seperti muntahan lava dari gunung berapi; menggelegak dan bergeletar luar biasa. Benar jika Bung Karno pernah mengatakan, "Beri aku sepuluh pemuda, akan kuguncang dunia!" Karena memang energi anak-anak muda itu sepertinya tak pernah surut.

Mereka punya kegelisahan yang harus diekspresikan. Seperti mereka yang meleburkan diri dalam Bejana Karya, misalnya, Mereka adalah anak-anak muda Semarang yang gelisah untuk bisa memberikan warna. Mereka membuat panggung bagi anakanak muda untuk kembali mengangkat eksistensi Kota Lumpia di peta kreativitas nasional.

"Jujur ini semua berangkat dari kegelisahan kami tentang kota ini. Dulu, Semarang sangat diperhitungkan. Pernah punya nama di panggung nasional. Sementara ini, nyaris kurang terdengar," ucap Rendra, salah satu punggawa Bejana Karya. Tidak salah jika dia mengatakan seperti itu.

Semarang bahkan pernah punya band berskala nasional, seperti Power Slaves, Skandal, atau Celsius Rock Band. Namun energi kreatif anakanak muda Semarang sepertinya tak pernah padam. Bejana Karya menjadi saksi semangat berkarya mereka di bidang apa pun sangat luar biasa.

"Perlahan kami ingin mengembalikan nama besar Semarang. Kami mencoba memberikan panggung bagi anakanak muda untuk menunjukkan eksistensi, baik lewat desain, lukis, foto, video, musik, maupun kreativitas lain," kata Rendra di sela-sela proyek acara "Titi Wancine" yang berlangsung di Impala Space, 24-25 Maret. Dulu, Semarang pernah berada pada era keemasan ketika menjadi perhatian banyak orang.

Itulah yang menjadi kegelisahan Bejana Karya yang lahir awal 2018. Anak-anak muda itu, yakni Mario, Ipei, Jeno, Desta, dan Rendra, melalui Bejana Karya ingin Semarang kembali ramai, meninggalkan dunia yang sepi. "Kami berusaha menjadi wadah kolektivitas anak-anak muda Semarang. Sesungguhnya mereka sangat luar biasa.

Anak-anak muda Semarang sangatlah kreatif. Bejana Karya mendorong mereka, seniman-seniman muda Semarang, terus berkarya dan lebih berani menunjukkan karya," tutur Rendra, yang menggawangi bidang musik. Sejumlah acara pun mereka gelar dengan antusiasme anak-anak muda luar biasa, sebut saja Pesta Warna dan yang terbaru "Titi Wancine".

Pada gelaran hari pertama, Bejana Karya bekerja bersama Siasat Partikelir, mempresentasikan pertunjukkan musik, menampilkan band lokal Semarang, seperti Something about Lola, Ok Karaoke, Tridhtu, dan Tyos. Selain itu ada agenda artwork showcase, dengan redesign cover album Something about Lola dan Ok Karaoke.

Kemudian sharing session bersama Brury Octopus, Eno Serela, Adit Pyong- Pyong, dan Gatot Aljabar. Hari kedua tampil Dhira Bongs, Tashoora, Mandoors, dan Saturn Return. Selain musik ada workshop illustration bersama Badar Uvisual, film screening Siasat Calling on the Road, serta berbagi dengan Siasat Partikelir.com dan Dhira Bongs (SXSWTour). Rendra menambahkan, target dari acara itu agar nama Semarang kembali beredar di panggung nasional.

"Agar Semarang kembali menjadi perhatian banyak orang, tidak sepi lagi. Karena itulah kami mengajak anak-anak muda memamerkan karya dan lebih berani menunjukkan eksistensi di bidang apa pun. Kami, Bejana Karya, siap bekerja sama," ujar dia.

Semua Aliran

Ia gembira melihat respek dan antusias anak muda menyikapi acara yang digelar Bejana Karya. Tema "Titi Wancine" seakan menjadi pertanda inilah saatnya anak muda Semarang unjuk potensi dan berkembang.

"Kebetulan ini pas jadwal tur Siasat Partikelir ke beberapa kota dan Semarang menjadi satu kota untuk mereka singgahi. Tentu ini kesempatan bagus. Karena itulah kami mengambil tema 'Titi Wancine'.

Inilah saatnya Semarang memamerkan bakat, kemampuan, dan karya," papar Rendra. Berbagai aliran seni musik, seni rupa, seni foto, seni video, desain, dan kreativitas apa pun bisa berkolaborasi dalam Bejana Karya. Acara yang digelar lebih sering kolaborasi beragam seni itu.

Bejana Karya, kata Rendra, juga tidak membatasi genre atau aliran musik atau seni rupa yang diusung. Mereka yang masuk sesuai dengan tema kegiatan yang diusung setiap acara. Ia menyatakan tak tertutup kemungkinan dari setiap acara yang digelar, Bejana Karya memperoleh keuntungan. Namun tidak semata-mata keuntungan finansial yang mereka kejar.

Sebab, misi dan visi mereka adalah mengangkat potensi anak muda Semarang agar lebih dikenal dan bisa melenggang ke panggung nasional. "Jadi kami tidak menaik biaya untuk tampil mengisi acara. Sumber pembiayaan kami dari sponsor dan dari penonton. Sejauh ini respons anak muda bagus terhadap setiap acara Bejana Karya," ucap dia.(Eko Edi N-53)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar