FIKIH WANITA

Konsultan Bantu Atasi Masalah Rumah Tangga

PERJALANAN suamiistri mengarungi kehidupan berumah tangga, tidak bisa dilepaskan dari suka dan duka kehidupan. Ibarat perahu yang berlayar, ada pasang surut dan riak gelombang yang menyertai perjalanan perahu itu menuju pulau idaman.

Sebagian pasangan suamiistri berhasil mencapai tujuan mendapatkan kebahagiaan hidup berkeluarga, namun ada pula yang gagal di tengah perjalanan. Salah satu penyebab perceraian adalah pertengkaran terusmenerus karena berbagai alasan.

Ada yang terkait dengan persoalan ekonomi, sosial, politik maupun budaya. Komunikasi yang memburuk dalam keluarga, kian membuka peluang perceraian. Angka perceraian yang meningkat dari waktu ke waktu sangat memprihatinkan. Juga berdampak lemahnya daya tahan keluarga, dan masyarakat terhadap ancaman budaya yang tidak sesuai dengan nilai Islam.

Misal, merebaknya hidup bersama dengan pasangan lain tanpa pernikahan. Berbeda pendapat dalam kehidupan suami-istri merupakan kewajaran. Namun ada pasangan yang sensitif terhadap perbedaan pendapat, kemudian berlanjut dengan perselisihan atau pertengkaran.

Apabila ada persoalan yang memancing pertengkaran yang tiada henti, diperlukan adanya konsultan yang dapat membantu mencari jalan keluar dari masalah yang menjadi sebab pertengkaran. Konsultan bisa berasal dari keluarga maupun dari lembaga yang dibentuk pemerintah seperti Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4 ) yang ada di tiap Kantor Urusan Agama.

Meredam Kemarahan

Sesungguhnya Rasulullah sudah mengajarkan cara untuk meredam kemarahan antarpasangan, atau marah dengan orang lain. Antara lain dengan berdiam ketika sedang marah (HR Ahmad). Dengan tidak menuruti gejolak kemarahan, pertengkaran akan bisa dihindari.

Dengan berdiam diri, suasana yang panas karena perselisihan akan terkendali. Orang yang bisa mengendalikan emosi, dialah orang kuat dan akan bisa menyelesaikan masalah tanpa pertengkaran. Pertengkaran yang tidak bisa diatasi, bisa meningkat dalam bentuk kekerasan fisik maupun kekerasan psikologis yang menyebabkan kecemasan atau ketakutan.

Dari hasil penelitian salah satu pengadilan agama ditemukan fakta bahwa perempuan yang mengajukan gugatan cerai, disebabkan sudah tidak tahan dengan kekerasan yang terjadi dalam rumah tangganya.

Melihat jumlah cerai gugat di Indonesia yang semakin banyak, perlu kiranya ditingkatkan pula jumlah konsultan atau pendamping keluarga. Dengan demikian, diharapkan semakin banyak keluarga yang sejahtera lahir maupun batin. (Hj Sri Suhanjati, Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan MUI Jateng-54)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar