ULAMA PANUTAN

KH Ahmad Abdul Hamid, Ketua MUI Jago Olahraga

SALAH satu ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng yang sangat popular pada masanya yaitu KH Achmad Abdul Hamid. Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Kendal, dan imam Masjid Besar Kendal, Kiai Achmad yang berperawakan kecil hampir-hampir tidak pernah sakit.

Selain mengelola Pengajian Ahad Pagi, dia juga memunculkan ide Pengajian Silaturahmi Ngumpulke Balung Pisah yang kini dilanjutkan KH Ahmad Darodji, H Achmad dan kiai-kiai lain di Kota Semarang.

Kiai Achmad Abdul Hamid juga dikenal jago olahraga. Puncaknya dia pernah ditunjuk membawa lari obor api Pekan Olahraga Nasional (PON). Catatan yang paling fenomenal dari sosok kiai Ahmad yaitu menciptakan kalimat ‘’Billahit Taufiq wal Hidayah” atau ”Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq” yang biasa diucapkan atau ditulis sebelum salam penutup dalam pidato-pidato.

Banyak yang tidak mengetahui siapa pencipta dua kalimat tersebut. Pencipta kedua kalimat itu adalah KH Achmad Abdul Hamid Kendal. Karena peran dan ketokohan beliau, masyarakat Kendal menyebut beliau sebagai ”Bapak Kabupaten Kendal”.

Kiai Achmad lahir di Kota Kendal pada tahun 1915. Ayahnya bernama KH Abdul Hamid. Tetapi di Semarang banyak yang memanggilnya Kiai Abdul Hamid yang sesungguhnya nama bapaknya. Dia dilahirkan pada saat di negeri ini sedang marak berdiri berbagai pergerakan dan organisasi keagamaan, sosial, ekonomi, politik dan lain-lain.

Seperti Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan pada tahun 1905 lalu pada tahun 1906 berubah menjadi Sarikat Islam, Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912. Pada tahun 1918 lahir Nahdlatul Tujjar sebagai cikal bakal Nahdatul Ulama (NU).

Kemudian pada 31 Januari 1926 berdirilah NU, tahun 1928 terjadi Sumpah Pemuda dan lain-lain. Pada mulanya kalimat ”Billahit Taufiq wal Hidayah” dia ciptakan sebagai ciri khas warga NU untuk mengakhiri ceramah, pidato dan surat menyurat. Pertama kali dia mengucapkan kalimat itu di Magelang yang selanjutkan diikuti oleh para ulama NU dan seluruh warga nahdliyin.

Kalimat Baru

Namun kalimat itu akhirnya ditiru dan digunakan oleh hampir semua kalangan umat Islam dari berbagai organisasi dan pergerakan, sehingga kekhasan untuk warga NU sudah tidak ada lagi.

Untuk itu Kiai Achmad menciptakan kalimat baru ”íWallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thariq” yang dirasa cukup sulit ditirukan oleh warga non-NU. Sehingga sejak itu warga nahdliyin menggunakan kalimat Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Thariq dalam mengakhiri ceramah, pidato dan surat menyurat sebelum salam penutup, meski yang tetap terbiasa menggunakan Billahit Taufiq wal Hidayahjuga masih banyak.

Kontributor Majalah

Khidmat Kiai Ahmad (demikian panggilannya sehari-hari) di NU dimulai dari tingkat cabang sampai PBNU. Banyak tugas penting di NU yang pernah diembannya seperti Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Kendal, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah (dengan Katib KH MASahal Mahfudh), dan terakhir sebagai Mustasyar PBNU dan MUI Jawa Tengah.

Dia juga tercatat sebagai kontributor dan distributor majalah Berita NO, yang terbit tahun 1930-an. Dalam sebuah tulisan, Kiai Sahal Mahfudh menyebutkan bahwa Kiai Ahmad menyimpan dokumen-dokumen jurnalistik NU seperti Buletin LINO (Lailatul Ijtimaí Nadhlatoel Oelama) Kiai Achmad cukup produktif menulis dan menerjemahkan kitabkitab.

Salah satu tulisannya yang cukup fenomenal adalah terjemahan al Qanun al Asasi Hadlratusy Syaikh KH M Hasyim Asyíari ke dalam bahasa Indonesia, yang diterjemahkan atas permintaan Sekretaris Jenderal PBNU KH Saifudin Zuhri. Penerjemahan tersebut telah dimulai KH Mahfud Siddiq, tetapi belum selesai sehingga PBNU meminta Kiai Achmad untuk menyelesaikannya.

Terjemahan itu oleh Kiai Achmad dinamakan Ihyau Amalil Fudlalaí Fi Tarjamati Muqaddimatil Qanunil Asasi li-Jamíiyati Nahdlatil Ulama. KH Achmad Abdul Hamid wafat pada 14 Februari 1998 bertepatan dengan 16 Syawal 1418 H. (Agus Fathuddin Yusuf-54)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar