Hoaks Bakal Jadi Bumerang

Masih Ada Pelanggaran di Kampanye Terbuka

SM/Antara - BERSWAFOTO : Calon Presiden petahana nomor urut 01 Joko Widodo berswafoto dengan pendukung saat kampanye terbuka di Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (25/3). Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto melaksanakan kampanye terbuka di Merauke, Papua. (55)
SM/Antara - BERSWAFOTO : Calon Presiden petahana nomor urut 01 Joko Widodo berswafoto dengan pendukung saat kampanye terbuka di Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (25/3). Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto melaksanakan kampanye terbuka di Merauke, Papua. (55)

PURWOKERTO - Sentimen emosional para calon pemilih masing-masing calon presiden lebih kuat dibanding program yang ditawarkan. Namun para calon diingatkan untuk tidak memakai hoaks. Sebab, hoaks akan menjadi bumerang yang menghantam diri sendiri.

Pengamat politik dari FISIPUnsoed Purwokerto Indaru Setyo Nurprojo menilai, secara umum pola kampanye dua pasangan capres-cawapres tidak jauh berubah dengan pilpres sebelumnya.

Salah satunya, karena ini seperti ulangan pada Pilpres 2014 lalu, juga diikuti dua calon presiden yang sama. ”Yang menjadi pembeda adalah atmosfer politik saat ini, di mana ritme dan sentimen calon sangat kental hingga level bawah.

Hal ini membuat persaingan di Pilpres makin ketat di antara dua kubu,” kata dosen Jurusan Ilmu Politik ini, Senin (25/3). Menurutnya, di level bawah, biasanya tidak begitu intens atau merespons, namun pada Pilpres kali ini, para calon begitu sangat menyentuh emosi para pendukung.

Alhasil, menurut Indaru, ini membuat ikatan emosional pemilih dengan figur dan sosok calon lebih kuat dibanding visi-misi dan program yang ditawarkan calon. Di sisi lain, level milenial lebih terfokus kepada gaya, cara, dan trik penyampaian visi-misi dan program dari calon. Pemilih milienal lebih menerima gaya, cara dan trik yang kreatif. ”Ini menjadi pintu merebut hati pemilih milienal.

Dengan kata lain, penyampaian konten kreatif menjadi hal pembeda dari kampanye pada pilpres kali ini, yang beda dari pilpres sebelumnya,” ujar lulusan magister ilmu politik dari UGM ini. Mendekati April, pemilih rasional sudah mulai jengah terhadap cara tim sukses menyebarkan informasi dan berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

”Jadi sudah sepatutnya dalam kampanye terbuka tidak ada lagi model kampanye yang menyampaikan hoaks. Sebab, hal ini akan menjadi bumerang yang menyerang diri sendiri,” tandasnya. Pakar komunikasi politik asal Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Prof Dr Andrik Purwasito DEA mengemukakan, dalam kampanye terbuka tahun ini kedua kubu cenderung masih menggunakan agenda lama.

Meski demikian, keduanya menggunakan tren-tren baru dalam mengerahkan massa dengan simbol- simbol pluralitas, sehingga tampak akrab NU dan Muhammadiyah dalam satu panggung. Dua-duanya juga berusaha merebut pemilih dengan tema-tema komunitas, yang tidak lagi membangkitkan isu SARAdan isu primordialisme.

”Sekarang voters lebih mengutamakan rasionalitas baru, yakni keyakinan berdasar emosional dengan ukuran rasa suka dan rasa senang, yang sedikit usaha untuk check and recheck, atau apa yang sekarang disebut pascakebenaran,” tandasnya.

Dengan kondisi moral dan mental seperti ini, hoaks telah dianggap sebuah kebenaran. Realitas dilambungkan tinggitinggi bahkan melebihi faktanya itu sendiri. Yang ideal dalam kampanye Pemilu menurut dosen FISIPUNS ini adalah memberi rasa aman, jaminan tentang ketertiban dan jaminan masa depan lebih baik. Jadi, materi kampanye adalah sebuah proses dari upaya mencerdaskan rakyat, baik untuk menata masa depan yang lebih baik maupun untuk memperbaiki masa kini.

Pakar Politik Undip Yuwanto menuturkan, tujuan dari kampanye terbuka ini untuk berkomunikasi langsung sekaligus bimbingan politik kepada masyarakat. Berupaya menjadikan masyarakat untuk rasional dalam memilih, bukan menjadikan pemilih emosional. ”Ini menjadi salah satu pendidikan politik kepada masyarakat. Jadi acara kampanye terbuka jangan hanya diisi hiburan dengan mendatangkan artis atau penyanyi terkenal.

Namun visi-misi serta program kerja harus disampaikan dengan kapasitas yang lebih besar,” tambah Ketua Program Doktor Ilmu Sosial, FISIP Undip ini. Menurutnya, dua calon presiden-wakil presiden sudah mengarah ke sana. Seperti Paslon 01 (Jokowi-Ma’aruf) yang dalam kampanye terbukanya meminta agar perangi hoaks, dan ujaran kebencian.

Begitu juga dengan Paslon 02 (Prabowo- Sandiaga) yang meminta jangan jelekjelekkan pihak lain. Hanya saja, menurutnya terjadi jarak antara paslon dan tim sukses di bawahnya. Misal, paslon menganjurkan pemilih cerdas, kemudian menyampaikan program-program unggulannya. Namun di antara program itu, ada irisan-irisan yang hampir sama.

Para ahli pun mencari unsur pembeda. ”Sayangnya, unsur pembeda itu memasukkan etnik, agama, hoaks, politik identitas. Ini bertolak belakang dengan apa yang disampaikan para calon. Menjadi pertanyaan, apakah ini retorika para calon atau ada jarak dengan tim sukses yang langsung ke masyarakat sehingga tidak sejalan,” ujar Yuwanto.

Sementara Pakar Politik Untag Rahmad Purwanto berpendapat, pemilu terbuka ini masih belum memberikan pembelajaran yang baik bagi masyarakat. Pasalnya, masih terjadi saling serang antarpaslon. Ada yang membeberkan keberhasilan, namun juga ada yang mengkutuk.

”Di waktu yang singkat ini, alangkah baiknya memanfaatkan dengan memberikan pendidikan politik kepada masyarakat secara baik. Pasalnya, nantinya ini akan berlanjut, tidak hanya untuk saat ini saja. Kemudian, sasar masyarakat pedesaan agar untuk memberikan pendidikan politik,” ujar Dosen FISIP Untag ini.

Hari Kedua

Pada hari kedua, calon presiden Prabowo Subianto menggelar kampanye terbuka di Merauke, Papua. Sementara itu, kampanye di GOR Cendrawasih, Jakarta Barat. Sandi kembali menyerang petahana lewat harga-harga bahan pokok, soal utang negara, dan tenaga kerja asing di Indonesia. Sandi mengatakan pemerintah terkesan cuek dengan keberadaan TKA, sementara banyak rakyat menganggur.

Di sisi lain, calon wakil presiden Ma’ruf Amin meluncurkan hologram kampanye Jokowi-Ma’ruf Amin di Jayabaya Group, Lebak, Banten. Ma’ruf juga mengajak masyarakat Lebak untuk memilih yang berbaju putih pada sarat suara di 17 April mendatang. Mustasyar Pengurus Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga mengajak masyarakat Lebak mencoblos baju putih pada 17 April nanti.

Calon presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar kampanye di Malang dan Banyuwangi. Dalam kesempatan itu, Jokowi bersyukur dimudahkan Allah SWT mengemban sejumlah jabatan di pemerintahan, mulai dari Wali Kota Solo dua periode, Gubernur DKI Jakarta, dan Presiden. Jokowi juga meminta agar pendukungnya datang ke tempat pemungutan suara (TPS) pada 17 April 2019. Jokowi berharap tak ada warga yang golput atau tidak menggunakan hak suara.

Jokowi juga meminta masyarakat terus menjaga silaturahmi meski berbeda pilihan. Menurutnya yang terpenting bukanlah memperuncing perbedaan dengan menyebar hoaks yang semakin merajalela. Terkait kampanye terbuka, pada hari pertama, Bawaslu menemukan masih ada pelanggaran. Karena itu, Bawaslu meminta kedua paslon menaati peraturan.

”Kami minta kepada semua peserta pemilu harus sesuai semuanya sama peraturan yang berlaku,” ujar anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar. Firtz mengatakan, aturan yang harus ditaati kedua paslon di antaranya terkait materi kampanye. Selain itu, dia juga mengatakan para calon harus memperhatikan tata cara rapat umum atau kampanye akbar.

”Sama dengan materi dan penyampaian tata cara di rapat umum,” tandasnya. Sebelumnya, Fritz mengatakan terdapat pelanggaran yang dilakukan para calon, namun tidak merinci pelanggaran itu. Dia hanya menyebutkan, salah satu pelanggarannya, pelibatan anak dalam kampanye. (G22,G18,K-18,dtc,ant-41)


Berita Terkait
Loading...
Komentar