Wajah Pengetahuan yang Bersahabat

Oleh Thio Hok Lay

PADA bulan April mendatang, dunia pendidikan Tanah Air akan segera memasuki siklus agenda tahunan, yakni penyelenggaraan Ujian Nasional bagi peserta didik di seluruh jenjang pendidikan. Dimulai dari awal April untuk jenjang SMA, diikuti jenjang SMP, dan di penghujung bulan untuk jenjang SD.

Saat ini, hampir seluruh institusi pendidikan (sekolah), baik swasta maupun negeri; dan bagi anasir pendidikan; orang tua, guru, masyarakat menyerukan berulang perihal ajakan kepada para murid untuk makin tekun dan rajin belajar, belajar, dan belajar. Ringkasnya, pekan ini merupakan pekan bagi para pelajar untuk ekstra fokus dan berkonsentrasi dalam belajar; mengikuti program pelajaran tambahan di sekolah, banyak mengerjakan soal latihan try out, tugas, pekerjaan rumah (PR), dan lainnya guna persiapan dan penguasaan atas isi materi ajar.

Semua itu dilakukan dengan sebuah harapan luhur bahwa nantinya dengan capaian prestasi hasil belajar (akademik) yang baik, akan bermanfaat bagi masa depan peserta didik itu sendiri, menjadi kebanggaan dan membahagiakan orang tua yang telah berjerihjuang dalam proses pembiayaan pendidikan. Lebih jauh lagi adalah harapan untuk mengharumkan nama bangsa dan negara dengan kualitas SDM yang unggul.

Rangkaian harapan tersebut tidak keliru. Bahwa kualitas dan martabat pendidikan tetaplah perlu dan wajib untuk dipertahankan. Terlepas dari kebijakan pemerintah sejak beberapa tahun terkhir bahwa capaian nilai Ujian Nasional bukan merupakan penentu kelulusan bagi peserta didik. Namun demikian, ada sebuah pertanyaan reflektif yang dirasakan perlu dan penting untuk dikemukakan ke ruang publik terkait dengan proses, suasana, dan esensi dari belajar yang dialami dan dirasakan oleh peserta didik, yakni ”Apakah proses belajar dalam menimba ilmu dan pengetahuan yang berlangsung dan dialami di sekolah, di rumah, dan di masyarakat terasa membahagiakan, bersahabat, dan ramah dalam menumbuhkembangkan setiap potensi dari mereka?”

Gemar Belajar

Perlu disadari bahwa kegemaran belajar tidaklah secara alamiah dan otomatis dimiliki oleh seseorang. Sebaliknya, dibutuhkan proses waktu dan banyak faktor dan pihak yang perlu dilibatkan untuk melahirkan dan menumbuhkembangkan kegemaran belajar dalam diri seseorang. Oleh karena itu, kegemaran dalam belajar perlu dibiasakan dan dilatih sejak dini. Dengan demikian, akan jauh lebih bermakna apabila dalam pembelajaran, sosok guru tidak sekadar melakukan transfer pengetahuan, namun perlu diperlengkapi dengan kompetensi sebagai motivator untuk menumbuhkan kegemaran belajar dalam diri peserta didik.

Perhatikanlah proses belajar yang berlangsung di taman kanak-kanak (TK); begitu penuh dengan dinamika, diwarnai dengan nyanyian, tarian dan tawa. Suasana belajarnya begitu luwes dan hidup. Tak ada kata keliru dan anak nakal dijumpai di sana; yang ada adalah peserta didik yang sedang dalam tahap proses belajar, bertumbuh, dan berkembang. Setiap bentuk ”kekeliruan” dan ”kenakalan” yang dijumpai senantiasa ditempatkan dan dimaknai sebagai kesempatan bagi peserta didik untuk menumbuhkembangkan setiap potensi dan keunikan personel yang dimilikinya.

Dalam artikel berjudul ”Pahlawan itu Bernama Guru” (SM, 10 November 2018), penulis menyatakan bahwa keterampilan yang dimiliki guru dalam mengajar (teaching) hanyalah akan menjadi bermakna apabila diikuti dengan makin berkembangnya kapasitas peserta didik dalam belajar (learning). Mengingat bahwa nantinya kesuksesan perjalanan masa depan hidup para murid akan ditentukan oleh potensi dan kualitas dirinya, dan bukan oleh gurunya.

Dan tentunya, kesuksesan (keberhasilan dan kebahagiaan) murid dalam perjalanan proses belajar hanya akan memungkinkan terjadi ketika wajah pengetahuan itu bersahabat; bukan menyeramkan. Selamat menyongsong Ujian Nasional dengan penuh intergritas, berkualitas, dan bermartabat.(34)

Thio Hok Lay SSi, Kepala SMA Citra Kasih, Jakarta.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar