Polda Periksa Perizinan Karamba Hiu

SM/Erry Budi Prasetyo : TUNJUKKAN IZIN : Pemilik Karamba hiu Karimunjawa Tjun Ming (82), menunjukkan izin panangkaran dan wisata saat berada di Semarang, Jumat (22/3) siang. (55)
SM/Erry Budi Prasetyo : TUNJUKKAN IZIN : Pemilik Karamba hiu Karimunjawa Tjun Ming (82), menunjukkan izin panangkaran dan wisata saat berada di Semarang, Jumat (22/3) siang. (55)

SEMARANG - Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng masih terus menulusuri kematian mendadak 97 hiu yang dipelihara di karamba Pulau Menjangan Besar, Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Terungkap, izin karamba baru diperoleh pada 2018, dan akhir tahun yang sama, Balai Taman Nasional Laut Karimunjawa (BTNLK) menutup usaha karamba tersebut. Selain menunggu hasil laboratorium yang keluar sekitar 15 hari mendatang, petugas saat ini masih mengklarifikasi Tjun Ming (82), pemilik karamba, termasuk memeriksa perizinannya.

‘’Kami klarifikasi kepada pemilik penangkaran, izin-izin penangkaran ada atau tidak itu yang sedang kami klarifikasi. Kalau hasil laboratorium di Yogja nanti 15 hari lagi baru keluar,’’ ungkap Kapolda Jateng Inspektur Jenderal Condro Kirono, Jumat (22/3) siang.

Dalam penyelidikan, pemilik Tjun Ming mengaku telah memiliki izin penangkaran dan kegiatan pariwisata atau menerima pengunjung di karamba miliknya. ‘’Saya menyayangkan dibilang tidak punya izin. Padahal pada 2018, saya mendapat izin dari Disporapar (Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata) Jepara, Balai Taman Nasional Laut Karimunjawa (BTNLK), serta Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah. Kami juga kerap bekerja sama dengan sejumlah instansi terkait kalau ada kunjungan wisatawan,’’ ujarnya saat berada di Semarang.

Patuhi Larangan

Dia mengakui, dua bulan sebelum kejadian tersebut pihaknya mendapati sejumlah lembar kertas bertulis “Mohon Maaf!!! untuk sementara tidak boleh ada kegitaan wisata di hiu kencana” dan “Tempat ini ditutup untuk kegitaan wisata, wisatawan dilarang masuk lokasi ini”. ‘’Kertas itu tertanda dari Balai Taman Nasional Laut Karimunjawa,’’jelasnya. Meski tidak ada edaran resmi yang diberikan langsung kepadanya, dia tetap mematuhi dengan tidak menerima wisatawan. ‘’Sekitar dua bulan sudah tidak menerima tamu. Ya kalau memang tidak boleh terima tamu harusnya mereka pasang garis larangan, tidak dengan kertas-kertas itu, kesannya malah seperti teror,” jelasnya.

Tjung Ming membeberkan, dia juga sudah diperiksa oleh penyidik Polda Jateng. “Sudah diperiksa, saat itu saya ditanya terkait kepemilikan hiu. Saya ditanya apakah hiu itu dijual, saya jawab tidak dijual,” ungkapnya.

Terkait kematian hiu yang mendadak, Tjun Ming menyatakan masih terkejut dan bersedih. Sebab hiu-hiu itu telah dia pelihara sejak 40 tahun lalu. Sebelumnya Kepala BTNLK Agung Prabowo dalam siaran pers yang diterima Suara Merdeka menyebutkan, pihaknya menerima informasi tentang kematian mendadak hiu di Pulau Menjangan Besar pada 12 Maret 2019. Saat petugas BTNLK mengecek, pegawai yang mengelola karamba yakni Agus Hermawan menyampaikan informasi bahwa 45 hiu ditemukan mati pada 7 Maret 2019. Dua ekor yang sekarat bisa diselamatkan dengan cara dipindah ke kolam/karamba lain.

Bangkai hiu dan ikan lain yang mati dimusnahkan dengan cara dibakar. Air di karamba terlihat kekuning-kuningan. Agung menyebutkan, usaha karamba tersebut berada di zona budi daya BTNLK.

Pernyataan pers itu juga menyinggung insiden yang dialami wisatawan di karamba itu. Nur Madina, asal Yogyakarta, digigit hiu pada 13 Maret 2016. Kemudian, lewat surat bernomor S.162/T.34/TU/GKM/2018 tanggal 18 Juni 2018, BTNLK menutup usaha karamba di Pulau Menjangan Besar karena dianggap melanggar aturan. Selama ini, karamba tersebut menjadi salah satu daya tarik wisata di Karimunjawa. Salah satu atraksi yang banyak diminati pengunjung, yakni menyelam atau berenang bersama hiu di karamba, atau berfoto dengan hiu-hiu tersebut. (K44-41)


Berita Terkait
Loading...
Komentar