Empati PM Jacinda Ardern

Tetap Berkerudung meski Jiwa Terancam

SM/Reuter : BERKERUDUNG: PM Selandia Baru Jacinda Ardern mengenakan kerudung sebagai bentuk solidaritas di Christchurch, Selandia Baru.(55)
SM/Reuter : BERKERUDUNG: PM Selandia Baru Jacinda Ardern mengenakan kerudung sebagai bentuk solidaritas di Christchurch, Selandia Baru.(55)

Langkah tegas Pemerintah Selandia Baru terhadap teroris penembak jamaah Shalat Jumat di Kota Christchurch, serta empati mendalam bagi para korban, mampu memupus kesan standar ganda yang diterapkan di negara-negara barat saat terjadi aksi kekerasan/teror oleh pelaku dari kalangan kulit putih. Hal ini tak lepas dari peran Perdana Menteri Jacinda Ardern yang tetap tegar dengan kebijakannya, meski jiwanya terancam.

SIANG itu, Jumat (22/3), Jacinda Ardern terlihat berada di tengahtengah warga Selandia baru yang tengah menggalang solidaritas bagi muslim korban serangan brutal teroris terhadap jamaah Shalat Jumat di Kota Christchurch sepekan silam.

Andern tampil dengan kerudung hitam sebagai simbol kuat yang menyatakan bahwa muslim Selandia Baru merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari negara tersebut. Pesan yang menyatakan bahwa muslim adalah bagian dari penduduk Selandia Baru, dengan frasa ‘’they are us’’.

Jacinda memimpin langsung refleksi nasional yang dia gelorakan dalam menumbuhkan kebersamaan seluruh warga Selandia Baru di Hagley Park, depan Masjid Al Noor, Christchurch.

Dalam pidatonya, Andern pun menyebut Nabi Muhammad Saw dengan tulus dan fasih. Serangan brutal teroris di Selandia Baru itu sangat mengejutkan. Sebab, Negeri Kiwi itu selama ini aman dari aksi-aksi terorisme. Walau menghadapi hal sulit, Ardern menunjukkan respons cepat dan komprehensif. Reaksi awal yang patut dipuji adalah saat Ardern menyebut peristiwa penembakan ini sebagai “terrorist attack”. Tak hanya itu, empati kuat Ardern tidak hanya ditunjukkan lewat kata-kata.

Dia pun menyerukan renungan secara nasional untuk mengenang para korban teror dua masjid di Christchurch, dan seluruh warga Selandia baru diminta turut serta di mana pun mereka berada.

Renungan yang diawali dengan panggilan azan pukul 13.30 itu disiarkan secara nasional yang diikuti mengheningkan cipta selama dua menit. Ardern dan banyak kaum perempuan Selandia baru pun bersama-sama mengenakan kerudung sebagai bentuk solidaritas terhadap kaum muslim. ‘’Saya tahu banyak warga New Zealand berharap untuk memperingati sepekan yang telah berlalu sejak serangan teroris dan untuk mendukung komunitas muslim saat mereka kembali ke masjid-masjid. Sebagai sebuah negara, sebagai satu kesatuan, kita akan memberikan penghormatan kita kepada mereka yang meninggal di Christchurch,’’ ucap Ardern.

Tak hanya sekadar perenungan, Ardern juga banyak mengubah kebijakan demi melindungi kaum muslim. Ardern mengumumkan pemerintahannya akan merevisi UU Kepemilikan Senjata. Terlebih, Selandia Baru merupakan salah satu negara dengan angka kepemilikan senjata api tinggi. Senjata semiotomatis yang digunakan pelaku teror di Christchurch misalnya, dibeli secara legal pada 2017. Sikap yang ditunjukkan Ardern bukan tanpa risiko. Dia pun menerima ancaman pembunuhan lewat media sosial. Seperti dilansir New Zealand Herald, Jumat (22/3), ancaman pembunuhan itu disampaikan dalam postingan Twitter yang menyertakan sebuah foto senjata api dan tulisan berbunyi ‘’You are next’’.

Akun Twitter yang mengirim ancaman pembunuhan itu berisi konten anti-Islam dan membahas topik penuh kebencian yang menjunjung supremasi kulit putih. Meski jiwanya terancam, namun Ardern tetap menunjukkan ketegarannya dan empati yang mendalam bagi muslim. Ancaman semacam itu justru memperkuat tekadnya. Pesan kuat yang disampaikan Ardern, bahwa Selandia Baru akan tetap menjadi tempat tujuan aman bagi pengungsi dan imigran.

Di bawah kepemimpinannya, Selandia Baru meningkatkan kuota pengungsi dua kali lipat dari 750 menjadi 1.500 pada 2020. Ardern juga menyampaikan bahwa para pengungsi dan imigran, terutama muslim adalah bagian dari penduduk Selandia Baru. Frasa “they are us” yang dilontarkan Ardern menjadi tagar yang populer untuk menunjukkan dukungan dan simpati kepada korban terorisme di Christchurch. Di tengah kecenderungan global terhadap pembatasan, penolakan bahkan kriminalisasi imigran terutama imigran muslim, sikap yang ditunjukkan Ardern adalah angin segar untuk menghidupkan kembali solidaritas global terhadap pengungsi dan imigran serta perlawanan terhadap rasisme, xenophobia dan segregasi. (Mohamad Annas, dtc,ant, bbc ind-41)


Berita Terkait
Loading...
Komentar