Antara BLK Vs RSK

Oleh Purwoko

"Siapa pun yang nanti terpilih menjadi pemimpin di Indonesia, semoga janji melalui visi dan program kerjanya dapat dilaksanakan, sehingga permasalahan ketenagakerjaan dan pengangguran dapat diselesaikan"

PERTENTANGAN pemikiran antara Calon Wakil Presiden (Cawapres) KH Ma'ruf Amin dengan Sandiaga Uno tentang upaya-upaya mengatasi pengangguran tampak sangat berbeda, karena masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda. Debat pada tanggal 17 Maret 2019 antara kedua Cawapres berlangsung kontras karena masing-masing menyampaikan visi terbaiknya untuk memperebutkan suara pengangguran yang jumlahnya sekitar 7 juta orang.

KH Ma'ruf Amin memilih untuk memamerkan strategi pemaksimalan peran Balai Latihan Kerja (BLK) dengan menambah sebuah Kartu Pra Kerja (KPK). Cawapres Sandiaga Uno memilih mengampayekan Rumah Siap Kerja (RSK) yang akan didirikan di seluruh kecamatan bahkan desa. BLK atau RSK yang akan dipercaya pemilih pengangguran?

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, antara 2015- 2017 rata-rata serapan tenaga kerja pertanian turun 700 ribu orang per tahun, pertambangan turun 50 ribu orang per tahun dan sektor konstruksi hanya bisa menyerap sekitar 130 ribu orang per tahun. Adanya penurunan serapan tenaga kerja karena penyerapan tenaga kerja yang menurun akibat lapangan kerja yang sempit. Jika hal ini tidak segera diambil tindakan, maka pada titik tertentu akan ada kemandekan serapan tenaga kerja.

Etos Kerja

Saat ini tingkat pengangguran terbuka berada di single digit, yakni 9,11%. Namun setelahnya, tingkat pengangguran hingga Agustus 2018 hanya turun hingga 5,34% yang didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang mencapai 11% dari total pengangguran. Hal ini menunjukkan bahwa belum terhubungnya keterampilan lulusan SMK dengan dunia industri atau pasar.

Hal inilah yang menyebabkan Cawapres KH Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno mencoba mengemas visi dan program kerja tentang ketenagakerjaan dan pengangguran secara maksimal. Rayuannya diharapkan dapat menambah pundi-pundi suara dari kelompok pengangguran ini. Sebenarnya program pemerintah untuk menghubungkan antara dunia pendidikan dengan dunia industri sudah dilakukan yaitu dengan pendidikan vokasional.

Akan tetapi program itu belum terlaksana dengan baik. Kurikulum sekolah-sekolah vokasi sebagian masih belum sesuai dengan kebutuhan industri. Oleh karena itu perlu pembenahan. Pengangguran juga disumbang oleh rendahnya kompetensi calon tenaga kerja yang dihasilkan Sekolah Menengah Umum (SMU/SMA) dan tenaga kerja yang tidak terlatih lainnya, sehingga perlu upaya meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Maka tidak heran jika kedua Cawapres mengusulkan untuk memberikan pelatihanpelatihan bagi pengangguran agar siap kerja. Dan keduanya berbeda dalam membangun etos kerja bagi para calon tenaga kerja.

Gagasan KH Ma'ruf Amin akan meningkatkan etos kerja dengan memaksimalkan peran dan fungsi BLK. Pilihan Cawapres KH Ma'ruf Amin sangat beralasan, karena saat ini BLK yang tersebar di seluruh Indonesia yang berjumlah 301, yang terdiri atas 17 BLK milik pemerintah pusat disebut BLK Unit Pelaksanaan Teknis Pusat (UPTP) dan 284 BLK milik Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai BLK Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) belum memiliki peran yang masimal. Jika terpilih pada Pilpres 2019, pemerintah harus melakukan rebranding, reorientasi dan revitalisasi BLK untuk membangun image bahwa BLK merupakan solusi bagi masyarakat yang ingin mendapatkan pekerjaan yang layak.

Adapun Sandiaga Uno untuk menggenjot etos kerja melontarkan gagasan tentang Rumah Siap Kerja (RSK) untuk mengatasi ketidaksesuaian kompetensi lulusan sekolah dengan kebutuhan industri (pasar). RSK diharapkan mampu menjembatani ketidaksesuaian antara lulusan dan kebutuhan pasar. RSK digagas Sandiaga Uno berdasarkan pengalamannya, yang diharapkan memiliki relevansi untuk menjadi solusi masalah pengangguran. RSK akan hadir dengan konsep kemitraan atau kolaboratifpartisipastif. Ada peran dunia usaha dan masyarakat dalam menjalin kerja sama.

Rumah tersebut diyakini mampu mengurangi angka pengangguran yang mencapai 2 juta orang di Indonesia. Antara keduanya tampak sama-sama akan meningkatkan etos kerja melalui pelatihan, hanya saja berbeda caranya. Siapa pun yang nanti terpilih menjadi pemimpin di Indonesia, semoga janji melalui visi dan program kerjanya dapat dilaksanakan, sehingga permasalahan ketenagakerjaan dan pengangguran dapat diselesaikan. Akan lebih baik lagi jika alumni BLK dan RSK dapat dicetak menjadi wirausahawirausaha UMKM yang andal dan memiliki etos kerja yang baik.(34)

--Dr Purwoko MM, dosen FEB Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar