Pemkab Kembangkan Padi Unggul

Rojolele Baru Segera Diluncurkan

KLATEN - Untuk menguatkan status sebagai lumbung pangan Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten menggandeng Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) untuk mengembangkan varietas padi Rojolele dan Bestari.

Pengembangan padi unggul tahan hama dilakukan melalui program Agro Tekno Park (ATP). Kerjasama dengan Batan sudah dilakukan sejak tahun 2013, salah satunya untuk mengembangkan padi rojolele yang merupakan padi premium. Varietas baru rojolele sedang menjalani uji aroma di Batan dan menunggu disidangkan hasilnya. Setelah semua tahapan selesai, rojolele baru akan segera diluncurkan. ‘’Kerjasama Pemkab Klaten dengan Batan yang dilakukan sejak tahun 2013 bertujuan mempertahankan posisi Klaten sebagai lumbung padi di Jawa Tengah.

Diharapkan dalam waktu dekat, rojolele bisa diluncurkan,’’kata Bupati Klaten Sri Mulyani di sela-sela panen raya padi hasil riset Batan di Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas, Klaten, Kamis (21/3).

Menurutnya, Rojolele merupakan padi yang menghasilkan beras pulen, wangi dan rasanya enak. Beras ini mempunyai nilai jual tinggi dan digemari kalangan menengah ke atas. Sayangnya, padi rojolele mempunyai masa tanam yang lama hingga 6 bulan. Dengan riset tersebut, rojolele bisa lebih cepat dipanen, namun rasa dan aromanya tidak berubah. Klaten sejak dulu dikenal sebagai penghasil beras rojolelenya yang enak, namun makin lama makin sedikit petani yang menanam karena masa panennya lama.

Dengan hadirnya padi rojolele hasil riset Batan, diharapkan rojolele bisa bangkit lagi dan menjadi beras produk unggulan Klaten. Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi Batan , Totti Tjiptosumirat mengatakan, kerjasama Pemkab Klaten dengan Batan dengan program ATP sudah memasuki tahun kelima. Untuk lima tahun ke depan, akan mengembangkan sistem dengan pembinaan, kapasitas building pelaku yang terlibat dalam ATP agar memberi meningkatkan produksi dan ekonomi di Klaten.

Dikatakan, luas tanam varietas padi hasil riset Batan di Desa Tlingsing, Cawas mencapai luas 118 hektar. Sedangkan di Kabupaen Klaten, padi hasil riset Batan telah diujicoba ditanam di 28 desa di 9 kecamatan. Ada pun luas total lahannya mencapai 619,5 hektar. kata Totti Tjiptosumirat.

Selain itu, lanjut Totti Tjiptosumirat, Batan juga mengembangkan varietas padi tahan banjir. Riset padi tahan banjir sudah dilakukan dalam 3 tahun terakhir. Pengembangan padi yang tahan terendam itu dilakukan karena sejumlah wilayah sering dilanda banjir, seperti daerah Pantura. Pengembangkan dilakukan dengan indukan padi lokal. Sejauh ini, Batan sudah mengeluarkan 23 varietas padi unggul hasil pengembangan. Padi unggul itu sudah ditanam di tiga wilayah yakni di Klaten, di Kabupaten Musi Rawas dan Polewalimandar.(F5 - 65)


Berita Terkait
Loading...
Komentar