Merajut Kebersamaan NKRI

SM/dok : APEL KEBANGSAAN : Habib Lutfi bin Ali Yahya, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Wagub Taj Yasin, KH Maimoen Zubair, Gus Muwafiq, dan KH Ahmad Darodji ikut hadir dalam Apel Kebangsaan Jaga Keberagaman di Lapangan Pancasila, Simpanglima, Minggu lalu.(23)
SM/dok : APEL KEBANGSAAN : Habib Lutfi bin Ali Yahya, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Wagub Taj Yasin, KH Maimoen Zubair, Gus Muwafiq, dan KH Ahmad Darodji ikut hadir dalam Apel Kebangsaan Jaga Keberagaman di Lapangan Pancasila, Simpanglima, Minggu lalu.(23)

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS Al-Hujurat: 13)

Apel Kebangsaan Jaga Keberagaman di Lapangan Pancasila, Simpanglima Semarang, pekan lalu, seolah menyadarkan warning Allah Swt dalam Alquran Surat Al-Hujurat ayat 13 tersebut. Tentang pluralisme, keberagaman, dan perbedaan sesungguhnya ditegaskan dalam ayat tersebut sebagai sunatullah. ”Negara kita ini adalah negara besar. Sering kita lupa Indonesia mempunyai 17.000 pulau, 513 kabupaten dan kota, 714 suku dengan 1.100 lebih bahasa daerah yang berbeda- beda, beragam, bermacam dengan agama yang berbeda, Alhamdulillah ada Bhineka Tunggal Ika” tegas ulama kharismatik dari Pekalongan Habib Lutfi bin Ali Yahya. ”Saat ini peringatan menjaga kebersamaan dan sadar akan perbedaan (pluralisme) memang harus terus digaungkan,” kata Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi.

Sebab ada pihak-pihak yang dengan gencar lewat berbagai gerakan secara halus maupun terang-terangan dan masif termasuk lewat media sosial (medsos) yang terus menerus menghendaki bangsa ini terpecah belah. Tiap hari kerjanya mengunggah ujaran kebencian di medsos, mem-bully pemerintah seolah-olah tidak ada pekerjaan yang benar, mengadu domba sana-sini, fitnah, ghibah bahkan terang-terangan mengusung falsafah dan ideologi lain di luar Pancasila. ”Wong lahir di Indonesia, makan minum, besar, menikah, punya anak cucu di Indonesia kok masih mau mengusung ideologi Pancasila sebagai kesepakatan Bangsa Indonesia yang sudah final, kan aneh,” tegasnya.

Melalui Apel Kebangsaan Jaga Keberagaman, para ulama, pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, TNI, Polri, akademisi, profesi, dan semua kekuatan masyarakat seolah-olah sedang show of force untuk melawan pihak-pihak yang sedang mencoba merongrong kekuatan dan kedaulatan NKRI. ”Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Sebuah bangsa yang tidak layak untuk terpecah belah. Nilai-nilai luhur bangsa telah merawat perbedaan, serta menopang merah putih sampai saat ini. Apakah kita masih ragu dengan kekuatan bangsa?Setelah semua berkumpul seperti ini, siapa yang masih ragu?” tegas Habib Luthfi bin Yahya.

Menurut dia, merah putih adalah tentang tiga hal. Pertama, kehormatan bangsa, kedua harga diri bangsa dan ketiga, jati diri bangsa. Semua harus dirawat saling berkontribusi positif untuk bangsa dan menjadi ksatria NKRI. ”Apakah kita telah berkontribusi terhadap NKRI. Maka jadilah seorang kesatria NKRI. Menjadi warga bangsa yang menjaga keutuhan NKRI. Ini ideologi. Kita NKRI harus teguh hatinya dalam tegaknya sang saka Merah Putih. Wahai bangsaku yang kubanggakan. Relakah kita terpecah-belah. Buktikan kalau tidak. Tunjukkan kalau tidak. Itulah harapan kita untuk mempertahankan NKRI,” katanya dengan lantang dengan sahutan kata setuju dari ribuan peserta yang memenuhi Lapangan Pancasila itu.

Habib Luthfi mewakili suara para kiai dan tokoh agama mengaku prihatin atas fenomena sosial yang terjadi saat ini, saling menuduh, mencaci, memfitnah seakan menjadi budaya. ”Bila kita tidak bersatu, maka betapa bangsa ini telah mengecewakan para pendiri bangsa,” tegasnya.

Kunci Gotong-Royong

Ulama kharismartik KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) yang sangat dikenal ahli tarikh mengurai tentang keterkaitan sejarah Islam dengan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bahwa nilai-nilai perjuangan dan kebersahajaan para habib, ulama terdahulu telah menjadi kunci karakter gotong-royong di Nusantara. ”Jawa Tengah menurut sejarah Islam, merupakan sentralnya Pulau Jawa. Jawa Tengah sudah ramai sejak dahulu kala. Maka kita jaga Indonesia ini. Di sini, dimulai dari Jawa Tengah kita jaga Indonesia,” kata pengasuh Pondok Pesantren, Al-Anwar, Sarang, Rembang itu.

Para tokoh muslim, habib, Wali Songo datang dan tinggal di Nusantara. Sampai ke Jawa menyebarkan Islam, serta memperjuangkan kemerdekaan bangsa atas penjajahan. Nusantara harus disatukan dengan keragaman yang ada. KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafieq) mengajak masyarakat untuk menunjukkan jati diri bangsa. Di mana bangsa berdiri dari suku dan agama berbeda beda. ”Bhineka Tunggal Ika adalah ideologi sejak lama. Dari zaman Kerajaan Majapahit berpengaruh di sebagian belahan dunia. Bangsa kita dari dulu sudah menjadi bangsa yang besar, bukan bangsa kecil,” ucapnya.

Dia pun menegaskan untuk melawan pihak- pihak yang ingin mengganti bendera Merah Putih, apapun maksud dan tujuannya. ”Bahkan kalau ada organisasi yang ingin mengibarkan benderanya silahkan. Silahkan disandingkan dengan Merah Putih. Tapi jangan sekali-kali menggantikannya,” lanjutnya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengatakan, kegiatan apel kebangsaan ini diikuti oleh seluruh elemen masyarakat. Tanpa memandang suku, agama, ras bahkan pilihan politik, semua berbaur jadi satu untuk Merah Putih. Hari ini komplit. Ada TNI, Polri, Kajati, Ketua DPRD, Wagub dan juga tokoh nasional serta para ulama. Saya minta segenap rakyat Indonesia, segala golongan, semua harus bersatu padu bulat, berdiri di belakang pemimpin. Janganlah menjadi kacau, bekerja tak tentu arah, hanya tuduh menuduh dan menyalahkan orang lain,” kata Ganjar.

Ganjar juga menyampaikan pidato pertama Bung Karno saat dilantik menjadi presiden. Dalam pidato pertama itu, Soekarno sudah mengingatkan, bahwa yang menjadi ancaman bagi Indonesia adalah dari bangsa Indonesia sendiri. ”Lihatlah bangsa kita saat ini. Fitnah merajalela, hoaks, maki-memaki, saling menyerang bertengkar antarkawan bahkan saudara sedarah. Apakah fitnah dan hoaks yang mengoyak ini akan kita biarkan? Apakah sikap intoleran akan kita biarkan?

Apakah rasa permusuhan yang merusak sendi berbangsa akan dibiarkan?

Pasti semua berkata tidak. Mari kita berdiri untuk menjaga NKRI,” ucapnya. (Agus Fathuddin Yusuf, Wartawan Suara Merdeka, Sekretaris MUI Jawa Tengah-23)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar