KOTI Semarang Gagas Kampung Olahraga Tradisional

SM/Krisnaji Satriawan : BERMAIN EGRANG: Seorang warga mencoba menggunakan egrang bambu di Kampung Ampelgading, Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati, Semarang beberapa waktu lalu.(42)
SM/Krisnaji Satriawan : BERMAIN EGRANG: Seorang warga mencoba menggunakan egrang bambu di Kampung Ampelgading, Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati, Semarang beberapa waktu lalu.(42)

Warga Kota Semarang yang masih memainkan olahraga tradisional, seperti egrang, balap karung, dan gobag sodor, kini makin berkurang. Diperlukan upaya untuk merawat permainan- permainan tersebut, agar tak punah.

FANTI Lintang (15), tampak ragu-ragu ketika diminta menaiki egrang setinggi 1,5 meter. Tampak ketakutan terpancar pada raut wajahnya. ’’Ini permainan apa? Apa tidak bahaya kalau dinaiki ?’’katanya.

Itulah sekelumit dialog Fanti, dengan anggota Komunitas Olahraga Tradisional Indonesia (KOTI) Semarang, Wahyu, saat memperkenalkan permainan tradisional di Kampung Ampelgading, Kalisegoro, Gunungpati Semarang, beberapa waktu lalu.

Walaupun egrang merupakan permainan tradisional yang sudah ada sejak puluhan tahun silam, namun bagi Fanti, dua batang bambu yang dilengkapi pijakan kaki itu tetap menjadi sesuatu yang asing. Mendapat pertanyaan itu, Wahyu pun segera membujuk dan memberi motivasi, hingga remaja itu akhirnya memberanikan diri untuk mencoba. Setelah mencoba beberapa kali, gadis itu pun ternyata menyukai permainan itu.

Dia bersama puluhan anak lain pun, kemudian mengikuti balap egrang. ’’Asyik juga berjalan di atas egrang. Sempat ragu juga, tapi kalau sudah bisa seperti jalan biasa kok,’’tutur Fanti.

Ketua KOTI Semarang, Harsana menjelaskan permainan tradisional ini sangat layak disebut olahraga. Karena membutuhkan latihan teknik dan skil, fisik, serta strategi. Karena itu, komunitasnya menggagas adanya pembentukan kampung permainan tradisional, di Kampung Ampelgading, Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati Semarang. Nantinya, masyarakat bisa belajar banyak tentang olahraga tradisonal dan budaya lainnya. ’’Kami lebih fokus mengenalkan permainan tradisional yang dikategorikan olahraga. Seperti lomba balap egrang, balap karung, dakonan, dan gobag sodor. Masyarakat sudah tahu permainan ini. Tapi kami menekankan itu juga olahraga. Ada juga aturan mainnya,’’tutur Harsana.

Beberapa waktu lalu, pihaknya menggelar Workshop Kampung Tradisional di Ampel Gading. Dalam kegiatan tersebut, sekitar 200 peserta dikenalkan cara bermain olahraga tradisional dan aturannya.

KOTI terus mengembangkan olahraga ini sehingga lebih modern dan menarik bagi masyarakat. ’’Dalam permainan tradisional banyak terkandung nilai-nilai moral dan edukasi yang dapat diajarkan kepada anak-anak. Juga sarat dengan nilai-nilai sportivitas, kerja sama, dan mengatur strategi.

Selain menyehatkan, juga melestarikan budaya bangsa. Ini juga menjadi tujuan kami,’’tutur dia.

Melalui Kampung Tradisional ini, KOTI Semarang mengenalkan kembali olahraga tradisioanal tradisional yaitu congklak dan panca dolanan (egrang batok, balap karung, dampu, terompah panjang, dan sumpit).(Krisnaji Satriawan-42)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar