Warga Jateng Selatan Perlu Waspada

Dua Orang Tewas di Yogyakarta

SEMARANG - Kali kedua dalam sebulan, bencana hidrometeorologi melanda Jawa Tengah. Warga yang tinggal terutama di eks Karesidenan Kedu diminta waspada. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini.

Pada peringatan tersebut, pada Selasa (20/3) ini potensi terjadi hujan lebat disertai petir dan angin kencang. Hal itu kemungkinan terjadi di pegunungan selatan Jawa Tengah dan wilayah eks Karesidenan Kedu pada sore hari.

Selain itu, potensi gelombang mencapai 2,5 meter di perairan Laut Jawa bagian tengah. Cuaca tersebut diperkirakan masih bertahan hingga besok. Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Sudaryanto mengatakan hingga kemarin masih ada 1.600 jiwa di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo yang mengungsi akibat banjir.

Bencana itu masih akan mengintai wilayah di Jateng. ”Jika hujan deras dua jam tak berhenti, maka waspada. Apalagi yang letak permukimannya di dataran rendah,” ujarnya. Banjir kemarin melanda belasan desa di empat kecamatan di Kabupaten Purworejo. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo Sutrisno mengatakan, wilayah terdampak banjir kali ini meliputi Kecamatan Purwodadi, Kecamatan Bagelen, Kecamatan Bayan, dan Kecamatan Ngombol.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Ketinggian banjir yang hampir mencapai 1 meter tersebut terjadi akibat hujan yang mengguyur Purworejo selama lebih dari 24 jam, Sabtu (16/3). Akibatnya Sungai Bogowonto tidak mampu menampung debit air dan meluap ke pemukiman di sekitarnya. ”Banjir mulai menggenang sejumlah wilayah sejak Minggu petang.

Beberapa desa yang terdampak cukup parah antara lain Desa Purwodadi dan Desa Bagelen yang hampir mencapai 1 meter. Kemudian meluas. Saat ini sudah mulai surut dan kami lakukan evakuasi,” ujarnya, kemarin. Sutrisno menuturkan, proses evakuasi dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD, SAR, TNI, Polri dan sejumlah relawan.

Beberapa personel bantuan dari luar daerah seperti Kabupaten Magelang, Kebumen dan Cilacap juga ikut membantu. Dikatakan, banjir tersebut mengakibatkan aktivitas penduduk lumpuh. Begitu juga dengan jalur wisata yang sementara waktu tidak dapat dilalui.

Bahkan, sejumlah jalan menuju Yogyakarta melewati jalur Bagelen juga sempat terputus beberapa waktu. Ia menyebutkan sampai dengan kemarin, terdapat sebelas titik pengungsian. Tujuh titik di Kecamatan Purwodadi, tujuh lokasi di Kecamatan Bagelen, dan masingmasing satu di Kecamatan Bayan dan Kecamatan Ngombol.

Untuk menyuplai kebutuhan pengungsian, Sutrisno mengaku telah mendirikan dapur umum di masing-masing lokasi pengungsian. Sementara di Kantor BPBD Purworejo, para petugas juga terus siaga dan menerima permintaan bantuan yang diperlukan di lapangan. Bantuan berupa perlengkapan tidur dan logistik juga sudah disalurkan.

Begitu juga dengan fasilitas kesehatan. Menurutnya, pemkab telah mensiagakan tenaga lengkap dengan peralatan dan perlengkapan medis yang diperlukan. Untuk sementara, imbuh Sutrisno, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tetap berada di pengungsian sampai dipastikan aman.

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono ikut memantau wilayah banjir di Purworejo, kemarin. Menurutnya, wilayah terdampak banjir kali ini tidak seperti biasanya.

Sebelumnya, banjir lebih sering terdengar terjadi di wilayah Kecamatan Butuh atau Kecamatan Grabag. Kawasan Purwodadi dan Begelen baru kali ini terlihat parah. ”Kita berupaya akan segera mengambil tindakan cepat dan merapatkannya untuk menentukan langkah jangka pendek maupun panjang yang harus dilakukan,” katanya.

Tanah Longsor

Terpisah, hujan deras yang mengguyur selama beberapa hari terakhir mengakibatkan longsor di sejumlah desa di Kecamatan Selo, Minggu (17/3) malam. Tak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian itu. Di jalur Solo-Selo-Borobudur (SSB) longsor terjadi di beberapa titik. Di ruas Desa Jrakah, Kecamatan Selo, sejumlah tebing di atas jalur SSB longsor menutup jalan.

Akibatnya jalan provinsi akses penghubung antarkabupaten itu sempat tertutup total. Sementara Sungai Wiroko yang mengalir di Desa Kulurejo dan Bulurejo, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri kembali meluap, Minggu malam (17/3).

Akibatnya, jalan Nguntoronadi- Tirtomoyo di daerah tersebut macet selama beberapa jam. Tinggi banjir di badan jalan tersebut mencapai sekitar 80 cm. Selain itu, banjir juga merendam 15 rumah, sebuah toko aluminium, sebuah tempat penggilingan padi, dan sebuah kios jam.

Di Banjarnegara, tebing setinggi 15 meter di Wanayasa longsor. Akibatnya, jalur utama Banjarnegara-Dieng putus total akibat tertimbun material tanah longsor. Salah satu Warga Wanayasa, Narwanto, memaparkan longsor terjadi pada sekitar pukul 01.30 Senin (18/3) dini hari.

Hingga pukul 09.45, jalan wisata Banjarnegara-Dieng ini masih belum bisa dilewati kendaraan baik roda 4 maupun roda 2. ”Longsornya dini hari tadi, tetapi sampai sekarang akses jalan ke Dieng masih tutup total, karena tertimbun material longsor,” ujarnya di lokasi kejadian. Sementara di Yogyakarta, empat orang meninggal dunia akibat tanah longsor dan banjir yang melanda Dusun Kedung Buweng, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.

Dari empat korban tersebut, satu orang tewas karena hanyut dan tiga tertimbun tanah longsor. Satu orang berhasil ditemukan, sedang dua lainnya masih dalam pencarian petugas. Hujan deras selama hampir 24 jam, mulai Minggu (17/3) hingga Senin (18/3) dini hari mengakibatkan tanah longsor dan banjir bandang di kawasan Bantul selatan. Hingga kemarin siang, BPBD Bantul bersama Basarnas DIYmasih terus mencari korban yang hilang.

Dari tempat kejadian, tanah longsor menimpa dua rumah yang terletak persis di bawah makam Raja-raja Keraton Ngayogyakarta sisi timur. Tebing yang diperkirakan setinggi lebih dari 100 meter jatuh mengarah selatan.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto, korban atas nama Ny Painem (71) warga Desa Karangtengah, Imogiri, tewas karena kejatuhan tembok saat banjir. ”Sementara tiga warga lainnya menjadi korban akibat longsor di Dusun Kedung Buweng, masing-masing atas nama Sudiatmojo (86), Eko Supatmi (46) dan Rufi Kusuka Putri (9).

Dari tiga itu yang belum ditemukan dua orang, yaitu Rufi Kusuka Putri dan Eko Supatmi,” imbuhnya. Menurut Dwi, Sudiatmojo diketemukan Minggu (17/3) malam, sedangkan untuk dua korban lainnya masih dalam proses pencarian karena tertimbun material longsoran. Dalam proses evakuasi BPBD Bantul menerjunkan 3 alat berat dan personel TNI serta dibantu warga sekitar.

Dari informasi, Ismoyo menerangkan longsoran ini bermula dari runtuhnya tanah di bagian bawah tebing yang berbatasan langsung dengan makam. Longsoran tanah itu kemudian diikuti tanah yang ada di atasnya hingga sebagian tembok atau dinding makam roboh.(H81, G10, J11,shp,sgt-56)


Berita Terkait
Loading...
Komentar