Perambahan Cagar Alam Cycloop Jadi Penyebab

Banjir di Jayapura

SM/Antara - TERSERET BANJIR:  Seorang pengungsi di dekat pesawat yang terseret banjir bandang di Sentani, Jaya Pura, Papua, Senin (18/3). (24)
SM/Antara - TERSERET BANJIR: Seorang pengungsi di dekat pesawat yang terseret banjir bandang di Sentani, Jaya Pura, Papua, Senin (18/3). (24)

JAYAPURA- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo mengungkapkan ada tiga faktor yang bisa dikatakan sebagai penyebab banjir bandang di Kabupaten Jayapura, Papua.

”Pertama faktor topografi di mana kemiringan cagar alam Cycloop ini sangat terjal, kemudian lapisan tanahnya sangat tipis. Ketika tanahnya tergerus langsung ada batu di bawahnya, lalu diduduki sejumlah tanaman,” katanya di Jayapura, Senin (18/3). Ketika tanaman itu tergerus atau tidak ada, maka pada saat hujan terjadi, memudahkan terjadinya longsor, apalagi ditambah dengan gravitasi dan kemiringan sudut tanah mencapai 40 hingga 60 derajat. Hal itu membuat laju kerusakan saat hujan begitu cepat.

Faktor kedua adalah karena cuaca. Intensitas hujan sangat tinggi pada Sabtu (16/3) sore kira-kira pukul 18.00 hingga pukul 23.30 WIT. ”Hanya dalam waktu lima jam lebih, terjadi penampungan air di kawasan Cagar Alam Cycloop dan mungkin daya tampung terbatas sehingga turun ke bawah,” katanya.

Faktor yang berikut atau ketiga, kata mantan Sekjen Wantanas itu adalah faktor manusia. ”Saya mendapat laporan dan masukan dari berbagai pihak, termasuk temanteman asal Papua yang ada di Jakarta, bahwa sebagian dari kawasan Cagar Alam Cycloop sudah dijadikan sebagai kawasan perkebunan,” katanya.

Terkait hal ini, kata dia, harus ada komitmen dari semua pihak dan tokohtokoh di Papua khususnya di Sentani, agar mengajak segenap masyarakat agar bisa dengan sukarela meninggalkan kawasan tersebut. ”Karena kalau tidak, cepat atau lambat, kita tidak tahu, diantara keluarga kita ini ada di daerah rawan longsor atau banjir, pasti jadi korban.

Semalam menurut laporan masih banyak warga yang menonton, jadi tiba-tiba terjadi banjir yang sangat besar dan terbawa arus,” katanya. Doni beraharap ajakan dari pemangku kepentingan terkait perlindungan dan pelestarian Cagar Alam Cycloop bisa diindahkan oleh warga sekitar.

Sementara Kepala Pusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menambahkan, kawasan Sentani diguyur curah hujan skala ekstrem mencapai 248,5 mm selama tujuh hari berturut-turut sebelum banjir bandang terjadi. Curah hujan esktrem itu setara dengan satu bulan hujan dalam keadaan normal.

Dia juga mengungkapkan, Kawasan Gunung Cycloop merupakan area cagar alam yang sejak 2003 justru dirusak tangan manusia. Perambahan cagar alam, kata dia, dilakukan 43.030 orang atau 753 kepala keluarga sejak 2003. ”Penebangan pohon untuk membuka perumahan dan kebutuhan kayu juga marak terjadi seluas 2.415 hektare. Ada juga tambang galian tipe C,” kata dia.

Jumlah Korban

Terpisah, jumlah korban meninggal sudah mencapai sebanyak 83 orang. Kapolres Jayapura AKBPViktor Makbon mengatakan, hingga pukul 18.30 WITtercatat 83 orang meninggal, 75 orang luka ringan, dan 84 orang luka berat. Ia menjelaskan, korban banjir bandang terbanyak berasal dari Distrik Sentani.

Pencarian terhadap warga yang menjadi korban, katanya, akan dilanjutkan Selasa (19/3) dengan mengerahkan personel TNI-Polri dan masyarakat. Ketika ditanya tentang jumlah pengungsi, Makbon mengatakan, saat ini tercatat 5.725 orang yang ditampung di tujuh titik termasuk di Gunung Merah.

Bupati Jayapura Mathius Awaitaouw mengatakan imbauan perlindungan dan pelestarian kawasan Cagar Alam Cycloop di Provinsi Papua, baik oleh pemerintah, instansi terkait hingga lewat aktivis lingkungan tidak didengarkan dan diindahkan oleh warga.

”Sebenarnya sudah ada perda terkait perlindungan kawasan penyangga Cagar Alam Cycloop sejak tiga tahun lalu dan telah disosialisasi atau disampaikan di berbagai kesempatan, tapi tidak didengarkan,” katanya di Kota Jayapura, Papua. (ant-56)


Berita Terkait
Loading...
Komentar