Kesaksian Dosen UAD di New Zealand

Bersembunyi Lima Jam di Rumah Penduduk

SM/dok - Irfan Yunianto
SM/dok - Irfan Yunianto

Salah satu korban selamat dari tindakan terorisme di New Zealand adalah dosen Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Berikut kesaksiannya saat kejadian memilukan itu berlangsung.

PENEMBAKAN di Masjid Al Noor di Kota Christchurch, Selandia Baru, mengakibatkan 50 orang tewas dan puluhan lainnya luka berat-ringan. Mereka yang sedang melakukan Shalat Jumat tidak menyangka bakal ada serangan. Korban berjatuhan dan lainnya berlarian menyelamatkan diri, salah satunya dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Irfan Yunianto.

Ketika terjadi serentetan tembakan, Irfan baru saja tiba, memarkir sepeda onthel, dan memasuki ruangan mengambil posisi untuk shalat. Biasanya ia langsung masuk ke ruang utama namun kali ini ia lewat pintu samping dan berada di ruang sebelah ruang utama yang berdekatan dengan pintu keluar.

”Saya biasanya langsung masuk ke ruang utama tapi karena jaket basah kehujanan jadi harus saya titipkan di ruang sebelah dan setelah itu saya masuk ke ruang kecil di samping ruang utama,” tutur Irfan saat melakukan wawancara melalui panggilan video Whatsapp dengan Rektor UAD Dr Kasiyarno MHum dan puluhan wartawan di kampus 1 Jalan Kapas.

Begitu duduk dan mendengarkan khotbah, tiba-tiba terdengar bunyi letusan seperti petasan. Namun ia berpikir kemungkinan ada ban meletus atau sesuatu di luar masjid. Pikirannya kembali terusik ketika bunyi yang sama terdengar lagi dan kali ini terdengar tiada putus.

Nalurinya mengatakan, pasti bunyi tembakan senjata api. Benar saja, sekilas ia melihat di ruang utama orang berjatuhan akibat peluru pelaku yang diketahui bernama Brentont Tarrant.

Polisi Mengevakuasi

Secepat kilat ia keluar masjid dari pintu samping bersama temannya. Ia berusaha keluar namun terhalang tembok setinggi dua meter. Beruntung di sisi tembok ada banyak mobil parkir sehingga ia bisa naik ke atap mobil dan melewati tembok.

Ia kemudian berlari ke rumah penduduk yang berada sekitar 50 meter dari masjid. Di sana sudah ada dua orang dalam kondisi terluka, tertembak di punggung dan seorang lainnya luka di kaki. Penduduk setempat dan korban yang selamat saling menguatkan. Mereka mencoba menghentikan pendarahan para korban.

Bunyi sirene polisi dan ambulans terdengar nyaring. Paramedis kemudian sigap menolong dan membawa korban ke rumah sakit. Irfan dan temannya yang selamat sebanyak 15 orang masih berada di rumah warga hingga menjelang sore. ”Lima jam lamanya kami berada di rumah penduduk. Polisi datang melakukan pendataan dan mengantar kami yang selamat ke rumah masing-masing menggunakan mobil tank antipeluru,” ujar Irfan yang sudah dua tahun menempuh studi doktoral di sana.

Selama berada di rumah warga, mereka berbincang-bincang dan merasa heran karena selama ini tidak pernah ada kejadian seperti itu di sana. Selandia Baru dikenal sangat aman dan nyaman.

Mereka menduga teroris sengaja melakukan serangan untuk membuat ketakutan. Namun warga tidak takut, mereka saling menguatkan. Mahasiswa lain yang juga berada di Selandia Baru, Anissa Nur Hasanah mengungkapkan warga setempat terkejut dan tak menyangka terjadi serangan. Mereka melakukan aksi-aksi simpati dengan menaruh karangan bunga di masjid-masjid yang ada di sana.

”Polisi sempat menutup masjid dan berjagajaga di sekitarnya. Namun sekarang sudah dibuka kembali. Aparat keamanan masih terus berjaga- jaga tak hanya di masjid tapi juga di berbagai tempat,” tutur Annisa. (Agung PW-56)


Berita Terkait
Loading...
Komentar