Bertutur Lewat Film Pendek

MENUMPAHKAN kreativitas dalam karya film pendek adalah kegiatan Muh Taufik Hidayatullah dan kawan-kawan semasa tergabung dalam UKM Kronik Film Media. Hasratnya tentang film seakan terlampiaskan dalam unit kegiatan mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang.

Setelah lepas dari UKM itu, semangat mahasiswa semester enam Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip itu tetap menyala. Bersama dua rekannya, Debby Sisri Amelia, dan Alif M Fawas, mereka mendirikan Production House (PH) Narrative House Picture.

Meski masih berskala kecil, PH besutan Taufik dan kawan-kawannya ini telah menelurkan dua film pendek, Kamar 202 dan Teka-teki Tak Bersilang yang baru saja kelar produksinya.

Selain dua proyek itu, mereka berencana menyelesaikan empat proyek berikutnya, yaitu Cadar Berpasir, Murtad, Pocong Menuju Kebangkitan, dan Sang Imam.

“Sementara baru itu, tiga film bergenre drama, dan tiga film bergenre horor,” ujar Taufik yang bertindak sebagai Ketua PH, sekaligus sutradara. Lelaki berkaca mata tersebut bercerita, Narrative House Picture dibentuk pada Desember 2018.

Jadi baru seumur jagung. Sekalipun demikian, hasil kreativitasnnya layak diperhitungkan. Sebagai bukti, Kamar 202 yang bercerita tentang seorang ustazah yang menjadi pelacur, masuk dalam nominasi Banten Short Movie Festival.

Lewat media film ini, Taufik yang juga kebagian tugas sebagai penulis naskah itu mengakui bahwa ini merupakan ruang untuk belajar. Ia belajar menjadi sutradara, penulis naskah, hingga masalah post produksi. “Kita belajar mandiri setelah selesai pengabdian kami di UKM film.

Harapannya, ini bisa menjadi portofolio pribadi saya, syukur masuk seleksi kontes film, dan bisa keliling ikut festival. Banyak festival yang akan kami ikuti seperti di Banten, Jogja, Solo, dan Lampung,” ungkap penulis buku Ketika Nalar Berbicara dan Kerudung di Titian Api itu.

Hobi Mahal

Harapan lelaki asal Pekanbaru, Riau ini mengakui sejak dulu memang cinta terhadap film. Ia mengapresiasi industri film nasional yang sudah dalam skala besar. Yang ia lakukan memang baru langkah kecil. Tetapi menurut dia, langkah-langkah besar itu selalu diawali dari langkah kecil. ”Industri-industri film besar itu, pasti disokong komunitas-komunitas film yang kecil.

Mengakui bahwa membuat film merupakan sebuah hobi yang lumayan mahal. Tetapi dunia film adalah panggilan jiwanya. Passion dirinya adalah film. Karena itulah, sekalipun mahal dia tak ragu untuk menceburkan diri. “Mahal, tapi bagaimana cara membuat yang mahal ini jadi low budget.

Misalnya untuk pemain, selain lewat kasting, juga mengambil teman-temannya yang dipandang mampu. Kalau sudah kenal kan bisa menekan bujet,” ujar Taufik. Beruntung, Taufik didukung penuh oleh orang tua yang bertindak sebagai produser yang membackup pendanaan.

Sekali produksi dengan durasi film 18 menit seperti Kamar 202 membutuhkan biaya Rp 5 juta. Sedangkan Teka Teki Tak Bersilang membutuhkan bujet Rp 3,5 juta. “Beruntung kami tak perlu sewa alat.

Alhamdulillah, peralatan pakai punya sendiri,” ujar dia. Meski harus mengeluarkan dana, beraktivitas di film ini dapat menambah relasi, wawasan, pengetahuan, serta pengalaman, dan tentu saja menambah deret fortofolio mereka. Hal itu pula yang diakui, Ozza Vajira Ainuna.

Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya, Undip yang berperan dalam Teka Teki Tak Bersilang itu mengakui bahwa itu sebagai film pertamanya. ”Ini untuk pengalaman saja, kalau ke depan ada kesempatan lagi, saya harus belajar lagi,” ujar mahasiswa semester enam itu.

Ia mengakui Teka Teki Tak Bersilang merupakan pengalaman pertamanya terlibat dalam film pendek. ”Mas Taufiq itu teman satu kampus saya. Dia seorang pengarang buku dan suka membuat naskah film pendek, kemudian hasil filmnya dilombakan. Kita antar teman saling menjajaki.

Akhirnya saya ikut terlibat dalam proyek film ini,” katanya. Ozza mengaku mendapat pengalaman berharga dari film perdananya yang berkisah tentang seorang gadis dari keluarga Cendana yang menjalin cinta dengan seorang aktivis anti orde baru, sehingga keduanya tidak bisa bersatu.

”Kalau ditanya pengalaman pertaman main film, ya rasanya ada gugupnya. Tapi enjoy juga, asyik nambah pengalaman hehehe,” celoteh putrid penyair Handry TM itu.

Apakah itu menjadi awal untuk menjadi untuk lebih professional, Ozza mengatakan bahwa itu menjadi pelajaran berharga. Ia mengaku akan mempelajari cinema lebih dalam lagi. Kalau ada kesempatan lebih terbuka, ya saya belajar lagi,” tutur dara berambut panjang itu.

Kesempatan memang selalu terbuka. Dalam waktu dekat ini, Taufik bersama Narratif House Picture akan mulai memproduksi proyek selanjutnya, Cadar Berpasir, Murtad, Pocong Menuju Kebangkitan, dan Sang Imam. Diakui sejauh ini tak ada kendala berarti.

Hanya saja, kalau harus ambil gambar di outdoor, sering berhadapan dengan cuaca yang sukar diprediksi. Atau kalau di tempat umum, harus menyiasati situasi chaos, yaitu suara dari masyarakat yang berkerumun di sekitar tempat syuting. (Eko Edi N-53)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar