Teror Keji di Negeri Kiwi

Selamat karena Melompat Pagar dan Pura-pura Mati

SM/Antara : KORBAN SELAMAT: Sejumlah Warga yang selamat dari penembakan di mesjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3).(24)
SM/Antara : KORBAN SELAMAT: Sejumlah Warga yang selamat dari penembakan di mesjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3).(24)

PARA jamaah masjid Al Noor di Kota Christchurch, Negeri Kiwi Selandia Baru, sama sekali tak mengira masjid yang biasanya sangat khusyuk saat Jumatan tiba-tiba dipenuhi suara tembakan senjata otomatis, kemarin (15/3).

Mereka pun melakukan berbagai cara untuk menyelamatkan diri, termasuk memecah kaca pintu, melompat pagar, hingga berpura-pura mati.

Khotbah Jumat baru saja dimulai ketika berondongan peluru tiba-tiba terdengar. Seorang pelaku penembakan yang mengenakan pakaian semimiliter lengkap dengan helm melepaskan tembakan secara membabi-buta di dalam masjid. Jamaah yang semula khusyuk pun kocar-kacir.

Sebagian dari mereka berupaya menyelamatkan diri dengan cara memecahkan pintu untuk bisa keluar. Sebagian lainnya memanjat pagar halaman. Namun banyak yang tidak berdaya lantaran terlanjur menjadi sasaran tembakan. Ahmad Al-Mahmoud, seorang saksi, mengatakan jamaah berusaha menyelamatkan diri dengan cara memecahkan pintu untuk bisa keluar. Dia mengaku sedikitnya 50 suara tembakan terdengar. “Dia memegang senjata besar. Banyak sekali peluru. Dia tiba-tiba muncul dan menembaki semua orang di dalam masjid,” katanya kepada ABC.

Ramzan Ali, yang berada di dalam masjid saat kejadian, mengaku dirinya orang terakhir yang keluar dari tempat ruang salat. “Imam saat itu memberikan khutbah Jumat, sekitar pukul 13.42 (waktu setempat). Senjata mulai menyalak dan dia masuk lantas menembak membabi-buta,” paparnya.

“Saya tak melihat orangnya langsung karena sedang tengkurap dan berpikir jika saya berdiri akan kena tembakan,” kata Ramzan.

“Saya orang terakhir yang keluar dari masjid dan melihat di lantai banyak sekali tubuh tergeletak,” tambahnya. Dia merasa beruntung bisa selamat dalam kejadian ini. Radio New Zealand mengutip saksi mata lainnya di dalam masjid yang mengaku melihat darah berceceran di manamana. Seorang jamaah yang menggunakan kursi roda, Farid Ahmed, menjelaskan kepada media setempat peristiwa terjadi ketika khotbah baru akan dimulai. “Tiba-tiba penembakan terjadi. Dimulai dari ruang utama,” ujarnya.

“Saya berada di sisi samping, jadi tak sempat melihat siapa yang menembak. Tapi saya melihat sejumlah jamaah berlarian ke arah saya berada,” katanya. “Saya melihat ada yang sudah berdarah badannya, berlari tertatih-tatih. Saat itu saya sadari situasinya serius,” tambah Farid.

Dia pun berusaha melarikan diri dan berhasil mencapai mobilnya di parkiran. Dari situ dia mendengar tembakan selama sekitar enam menit lamanya. “Saya mendengar suara jeritan dan tangisan. Saya melihat orang jatuh tewas, sejumlah orang lainnya melarikan diri,” ujar Farid. “Saya berada di kursi roda, tak bisa ke mana-mana. Dia melakukan pembantaian di dalam masjid,” katanya. Mustafa Boztas, korban selamat lainnya, juga mengaku tengah mendengarkan khotbah ketika mendengar suara tembakan. “Semua orang mulai berlari dan berteriak.” Boztas sempat berlari ke sudut ruangan namun tertembak di kaki hingga jatuh ke tanah. Dia pun berpura-pura telah tewas hingga selamat dari bidikan peluru tambahan. “Saya di tanah berpura-pura bahwa sudah mati. dalam pikiran saya tenang karena saya akan menjadi martir,” katanya kepada Stuff.

Begitu tembakan berhenti, Boztas mengangkat kepalanya dan melihat banyak orang berlarian menuju jendela untuk menyelamatkan diri. Saat tiba di luar masjid, dia sempat berupaya melakukan pertolongan terhadap seorang pelajar yang tertembak. Sayang upayanya tak membuahkan hasil. “Saya melakukan CPR karena saya memiliki sertifikat pertolongan pertama. Saya mencoba menyelamatkannya dengan satu kaki tertembak. Sayang dia telah meninggal sehingga saya menutup matanya. Saya mendengar lebih banyak tembakan sehingga saya berlari.” Mohammed Nazir mengatakan, begitu mendengar tembakan yang kedua dari arah pintu depan masjid, dia bergegas menuju bagian belakang masjid dan menghubungi polisi. Sayang polisi sulit dihubungi.

Dia pun memanjat pagar masjid sembari terus menelepon polisi hingga mereka datang. Dia mengaku melihat banyak korban tewas dan luka dalam insiden itu, termasuk tiga perempuan yang tergeletak dengan darah bercucuran di luar masjid. Sementara itu seorang saksi lainnya, Mahmood Nazeer, kepada 1 NEWS mengatakan dia berhasil menyelamatkan diri dari lokasi kejadian sebelum salah seorang pelaku mengganti senjatanya. “Kami mendengar suara tembakan, itu dari pintu masuk utama, lalu semua orang lari ke pintu belakang untuk menyelamatkan diri. Awalnya kami bersembunyi di belakang mobil, lalu di bawah mobil.” “Saat kami mendapati tembakan masih menyala, kami pun mencoba untuk melompati pagar kemudian bersembunyi di sebelah masjid.” “Ketika tembakan berhenti, saya melihat ke pagar dan ada seorang lelaki mengganti pistol dan mengambil yang lain karena dia parkir di jalan masuk di sebelah rumah masjid.” Nazeer mengatakan, dia lega mendengar istri dan anaknya selamat. “Saya tidak tahu berapa banyak yang tewas.” Banyak jamaah semula tidak menyadari bahwa suara dar der dor yang mereka dengar adalah suara tembakan. Mulki Abdiwahab misalnya mengira suara itu adalah suara jendela yanga digedor. “Ibu saya meraih tangan saya dan kemudian kami berlari keluar. Semua orang berada dalam kekacauan, hanya berlari demi hidup mereka.

Kami terus berlari dan berlari. Tembakan terus berlangsung selama sekitar 10 menit.” Abdiwahab mengatakan, tembakan dimulai di lorong dan kemudian menuju ruang sholat pria. Dia mengaku mendengar sekitar 100 tembakan otomatis. Sementara itu Idris Khairuddin yang baru berusia 14 tahun mengira suara tembakan tersebut adalah suara pengerjaan konstruksi. “Awalnya saya pikir itu hanya pengerjaan konstruksi atau hal lain, kemudian orang-orang berlarian dan berteriak,” kata Idris, warga negara Malaysia dan merupakan murid Hillmorton High School di Christchurch.

Idris menyebut, pamannya yang bernama Tamizi terkena tembakan pelaku. Selain sang paman, sebut Idris, ada lima orang lainnya yang disebutnya terkena tembakan. Dituturkan Idris bahwa dirinya duduk di dekat pintu masjid saat penembakan terjadi. Idris mengaku dirinya melihat orangorang tumbang namun tidak yakin soal kondisi mereka.

Remaja ini selamat setelah melarikan diri dari lokasi penembakan. “Saya berlari secepat mungkin, melompati pagar ke Hagley Park, saya tidak berhenti,” ucapnya. “Tembakan senjata terdengar seperti dor, dor, dor... Saya mendengar lebih dari 50 kali,” sebut Idris. (Maratun Nashihah-44)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar