KPK: Bukan Transaksi Pertama

Romi Ditangkap, Ruang Menag Disegel

SM/Antara : TIBA DI KPK: Ketua Umum PPP Romahurmuziy (mengenakan masker dan bertopi), dikawal petugas saat tiba di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (15/3). Rommy bersama empat orang lainnya terjerat Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK di Hotel Bumi Surabaya.(24)
SM/Antara : TIBA DI KPK: Ketua Umum PPP Romahurmuziy (mengenakan masker dan bertopi), dikawal petugas saat tiba di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (15/3). Rommy bersama empat orang lainnya terjerat Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK di Hotel Bumi Surabaya.(24)

JAKARTA- Ketua Umum PPPRomahurmuziy (Romi) turut terjaring operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Surabaya. Juru Bicara KPK Febri Diansyah menduga, transaksi dalam penangkapan itu bukanlah yang pertama. ‘’Tangkap tangan tersebut terkait pengisian jabatan di Kementerian Agama (Kemenag),’’ ujar Febri di Jakarta, Jumat (15/3).

Dalam OTT, KPK menangkap enam orang, terdiri atas anggota DPR, staf anggota DPR, pejabat Kementerian Agama di daerah, dan pihak swasta. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy atau Romi ada di antara keenam orang itu. KPK juga menyita sejumlah uang dalam bentuk rupiah. ‘’Nanti akan kami jelaskan secara lebih rinci. kalau nanti konferensi pers jadi dilakukan Jumat malam, akan kami informasikan atau masih bisa dilakukan Sabtu (16/3) sesuai batas waktu 24 jam,’’ujarnya.

Febri juga mengungkapkan, penangkapan KPK terhadap keenamnya terjadi di dua lokasi berbeda. Berdasar informasi dari saksi mata OTT, salah satu lokasi penangkapan adalah Hotel Bumi, di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya, Jawa Timur. Setelah penengkapan, keenamnya diperiksa di Mapolda Jatim. Setelah pemeriksaan, KPK menerbangkan keenamnya ke Jakarta. ‘’Tim KPK membawa keenamnya dari Surabaya ke Jakarta melalui jalur udara. Mereka dibawa ke kantor KPK untuk proses lebih lanjut,’’tanbah Febri.

Ruang Kerja

Terpisah, beberapa saat setelah OTT di Surabaya, KPK menyegel ruang kerja Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Kementerian Agama (Kemenag), Jakarta.

Karena itu, semakin kuat dugaan bahwa OTT terhadap Romi dkk terkait erat dengan pengisian jabatan di Kementerian Agama. ‘’Penyidik KPK datang dan menyegel ruang kerja Menag,’’ ungkap Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi Kemenag Mastuki, Jumat (15/3).

Penyegelan dilakukan penyidik KPK pukul 18.00. Soal keterkaitan dengan OTT di Surabaya, Mastuki menyatakan tidak mengetahuinya. ‘’Lebih baik ditanyakan ke KPK. Namun pada intinya kami kooperatif,’’ujarnya.

Meski demikian, dalam OTT, selain Romi, ada dua pejabat Kemenag di daerah yang turut ditangkap. Mereka adalah Kakanwil Kemenag Jatim Haris Hasanudin dan Kepala Kemenag Kabupaten Gresik Muh Muafaq Wirahadi. Kepala Sub Bagian Informasi dan Humas Kanwil Kementerian Agama Jatinm Markus mengungkapkan, Haris Hasanudin baru menjabat secara denitif sejak 5 Maret 2019 lalu atau baru 10 hari menjabat. ‘’Pj-nya mulai Oktober 2018,’’kata Markus.

Saat ditanya apakah sudah mengetahui tentang penangkapan Haris oleh KPK, Makrus menyatakan masih menunggu keterangan resmi KPK. ‘’Secara kelembagaan, kami belum mengetahui apakah beliau betul ditangkap atau tidak. Nanti ada surat resmi ke kita,’’ujarnya. Sebelum ditangkap KPK, Haris mengikuti acara olahraga dan kerja bakti di Kantor Kanwil Kemenag Jatim, Jalan Raya Juanda Lama Sidoarjo. ‘’Setelah itu, saya tidak tahu, terakhir pukul 11.00 tidak bisa dihubungi. Karena itu, kami sedang mencari informasi,’’kata Markus.

Pihaknya sudah mencoba menghubungi Haris menjelang sore hari sebelum dikabarkan dibawa oleh penyidik KPK. “Namun sudah lost contact pukul 14.30,’’ tandas Markus. Terkait penangkapan Romi, Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’- ruf Amin Erick Thohir optimistis elektabilitas pasangan calon nomor urut 01 tidak akan tergerus. ‘’Penangkapan Romi oleh KPK bersifat pribadi yang tidak ada kaitannya dengan ajang pilpres. Harus dipisahkan antara pribadi dengan pilpres. Kalau misalnya ada apa-apa dengan yang lainnya pun, masa mau dihubungkan dengan pilpres. Jadi kita tetap yakin tidak terpengaruh,’’ ujarnya.

Dia juga meminta semua pihak tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah, meskipun penegakan hukum harus terus berjalan. Ketua DPP PPP Aunur Rofiq mengakui, Romi menghadiri sebuah acara terkait pemilu di Jawa Timur saat kabar penangkapan. ‘’Kalau tidak salah memang di sana (Jatim-red). Sampai saat ini saya juga belum bisa menghubungi Mas Romi,’’tuturnya. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mohammad Dengan menautkan berita dari salah satu situs berita online tentang penangkapan Romi, Mahfud mem-posting di akun Twitter-nya, @mohmahfudmd. ‘’As I told you at that night, in Darmawangsa Hotel: everything is matter of time!” (Seperti pernah saya bilang padamu di Hotel Dharmawangsa malam itu: semuanya hanya persoalan waktu!”) Twit itu langsung beredar luas di media online maupun di media sosial dan membuat publik penasaran.

Sayang Mahfud tidak menjelaskan hal apa yang pernah dia sampaikan di Hotel Dharmawangsa terkait penangkapan Romi. Dia kembali mem-posting dua jam kemudian, tapi bukan untuk mengklarifikasi cuitan pertama. Mahfud menulis, ‘’Sdh sy bilang, @KPK_RI itu independen, tak bisa dihalangi atau disuruh oleh siapa pun utk menangkap koruptor. Dari kubu mana pun ada wakilnya di tahanan KPK. Tak ada partai yg dianakemaskan atau dianaktirikan.

Anda yg cinta kebaikan utk masa depan negara layak mendukung @KPK_RI”. Meski tak menjelaskan wanti-wantinya saat di Hotel Dharmawangsa, Mahfud pernah secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya terhadap Ketua Umum PPP pada acara talkshow Indonesia Lawyers Club (ILC) di TV One tak lama setelah ia gagal digandeng capres Jokowi sebagai cawapres. Bukan kecewa lantaran Jokowi tiba-tiba berpaling menggandeng KH Ma’ruf Amin, tetapi kecewa dengan pernyataan Romi kepada media seolah ia mengusulkan sendiri agar dipilih jadi cawapres. ‘’Begitu keluar dari ruangan itu, dia bilang lo Pak Mahfud itu kan maunya sendiri, katanya, bikin baju sendiri, siapa yang nyuruh? gitu,’’ujarnya di acara ILC 14 Agustus 2018.

Padahal Mahfud mengaku dipesan bersiap mengenakan kemeja putih itu atas instruksi pihak Istana. ‘’Saya agak tersinggung. Padahal Romi justru sehari sebelumnya yang memberi tahu saya bahwa saya sudah final,” tandasnya lagi.

Hal tersebut dikatakan Romi saat mereka bertemu di kediaman Mahfud MD, setelah Sekjen PPP Arsul Sani menyampaikan keinginan sang ketua umum untuk bertemu. Dalam pertemuan, Romi memberi tahu dan menyebut 10 nama yang disiapkan kubu Jokowi untuk menjadi cawapres. Bahkan Romi mengaku bersikeras mengusulkan nama Mahfud di hadapan Jokowi, sehari sebelum deklarasi. “Nah jadi Romi sejak awal sudah ke saya, bahkan sehari sebelumnya itu saya sudah komunikasi dengan (Suharso) Monoarfa, Pak Mahfud saya bersama Romi sudah menghadap Presiden dan Romi mengatakan kalau lawan pasangannya Prabowo itu Salim Segaf nanti lawannya Pak Mahfud. Kalo pasangannya Prabowo itu AHY sama-sama millenial cawapresnya Romi, gitu. Tapi sudah tahu dia kalau Pak Jokowi memilih saya,” kata Mahfud.

Tapi belakangan, setelah Jokowi memilih KH Ma’ruf, kepada media, Romi membuat pernyataan yang berkebalikan dengan apa yang disampaikan kepadanya di hari-hari sebelum deklarasi. ‘’Saya ingatkan saja Mas. Anda ini kok ngomongnya beda dengan yang waktu ketemu saya. Jangan mainmainlah saya bilang,’’ kata Mahfud geram.

Seperti hendak mengingatkan, di acara ILC itu Mahfud mencontohkan mantan Ketua DPR Setya Novanto yang awalnya merasa aman karena mendukung kubu petahana akhirnya dicokok KPK. Karena itu, dia mengingatkan Romi dan nama lain berinisial M yang waktu itu disebut-sebut menjadi kandidat cawapres, seperti Ma’ruf Amin, Muhaimin, Mahfud MD, Moeldoko, Sri Mulyani dan lain-lain untuk hati-hati. ‘’Jangan main-main. Karena saya tahu catatancatatan semua calon wakil itu (cawapres Jokowi),’’ kata Mahfud sambil tersenyum. (J22,A20, ant, dtc, cnn ind-41)


Berita Terkait
Loading...
Komentar