Benk Mintosih

Hidup Harus Berguna untuk Orang Lain

SM/Maulana M Fahmi
SM/Maulana M Fahmi

FILOSOFI hidup seperti, ”Urip kudu migunani. Aja nyawang eleke wong. Aja delok ndhuwur wae. Yen dikampleng pipi kiwa, wenehke pipi tengen.” (Hidup harus berguna bagi orang lain. Jangan melihat sifat jelek orang. Jangan selalu melihat ke atas. Kalau ditampar pipi kiri, berikan pipi sebelah kanan), selalu diingat General Manager Hotel Star, Benk Mintosih saat melakukan berbagai hal.

Memorinya lekat menyimpan hal tersebut. Pesan yang dulu disampaikan oleh orang tuanya. ”Itu kekuatan yang selalu saya genggam dalam hidup. Ibu dan ayah saya memberikan pesan tersebut.

Sebagai doa yang mengiringi perjalanan hidup,” kata pria bernama asli Bambang Mintosih ini. Lelaki kelahiran Surakarta, 4 Maret 1964, ini memang senang berbagi.

Dari prinsip yang terus dilakukannya itu dia mendapat bermacam penghargaan seperti, Penghargaan Forum Wartawan Pemrov Jateng 2017, Inspiring Person 2016, Semarang Marketers Local Champion 2013 by MarkPlus, Prime Mover Central Java Tourism 2012, Best Trained PHRI Central Java, The Best Creative Citra Awards 2009ñ2010, ASEAN Programmer Consultant Indonesian Consortium, Creative Marketer by STIE Surakarta, Solo Best Brand Index Solo Pos 2009, Pembawa Acara Terfavorit TATV2008 dan Dosen Terbaik IHS 2006, 2007, 2009. ”Ibu saya itu berpendidikan Sekolah Dasar kelas II. Bisa membesarkan kami, 17 bersaudara, secara mandiri. Ibu sangat menginspirasi saya,” kata anak nomor 14 ini.

Dia bercerita, waktu itu kakak tertua sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Secara tidak terduga, ayahnya sakit, yang menyebabkan tidak bisa menjadi tulang punggung keluarga. ”Ibu yang pendidikannya seperti itu bisa mandiri dalam bekerja. Belajar menjadi perias pengantin, sampai dikenal sebagai salah satu perias terbaik di Surakarta saat itu. Saya melihat ibu mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, termasuk mengecat dinding,” tuturnya.

Keluarganya diakui hidup sangat sederhana. ”Saya SMAdi Jakarta, ikut orang lain. Selepas SMA, kembali ke Surakarta. Saya berpikir dari keadaan keluarga seperti itu, untuk kuliah yang paling cepat mendapat pekerjaan,” terangnya.

Di lingkungan rumahnya, Benk melihat tetangganya dengan busana putih-hitam rapi. Berdasar informasi yang dia cari tahu sendiri, tetangganya tersebut sedang magang di hotel. ”Penasaran, kemudian saya mendapatkan brosur. Melihat gambaran bahwa bekerja di hotel bertemu dengan banyak orang asing, saya mengikutinya,” kenangnya.

Benk kemudian kuliah bidang perhotelan di perguruan tinggi dekat rumah pada 1982. Mendapat kesempatan, dia magang sebagai bell boy di salah satu hotel di Yogyakarta. ”Kuliahnya dekat, saya jalan kaki dari rumah. Setelah magang, saya menjadi fokus untuk bekerja. Terus memperpanjang masa magang. Kuliah saya tinggalkan, hingga sekitar 1986,” ungkapnya.

Perubahan terjadi ketika bertemu orang asing di bar, tempatnya bekerja. Orang asing tersebut menyarankan untuk bekerja di kapal. ”Di bar, saya ajak bicara. Melihat kemampuan bicara bahasa Inggris saya, dia menyarankan untuk bekerja di kapal. Saya tertarik,” paparnya.

Benk berlayar hingga sekitar 1990. Saat bekerja di kapal inilah, Benk dididik sebagai pekerja yang disiplin. ”Keberhasilan diawali dari disiplin. Saya sangat total ketika bekerja. Tidak pulang sebelum beres. Di kapal itu terbiasa dengan kerja keras, tidak pernah libur, tidak menghitung waktu bekerja, dan tidak cengeng. Sampai sekarang, ciri khas saya adalah disiplin. Pekerjaan saya diminati karena etos tinggi itu,” kata Benk.

Di kapal pula, Benk belajar tampil di depan orang banyak. Ada momentum khusus untuk menghibur penumpang, dan itu dimanfaatkannya dengan baik. ”Saya tampil di depan banyak orang asing. Percaya diri terasah. Bisa tampil di depan orang asing, seharusnya bisa juga tampil di depan orang dari negeri sendiri. Ini yang memicu saya untuk menjadi motivator, semangat berbagi,” ujarnya.

Kembali dari berlayar, Benk membangun kariernya di bidang perhotelan dan menjadi tulang punggung keluarga, termasuk berhasil membiayai pesta pernikahannya sendiri. Kariernya diawali sebagai Banquet & Sales Manager Santika Hotel Yogyakarta pada 1990-1994. Seiring dangan itu, kariernya di dunia motivator berkembang. Benk juga mengajar bidang perhotelan. ”Tibatiba saja perusahaan minta saya untuk memberi motivasi, ada juga restoran. Keadaan itu terus terjadi secara rutin. Sampai kemudian, memberikan motivasi menjadi hobi,” ucapnya.

Benk melanjutkan perjalannya berkarier di Regent Hotel Jakarta sebagai manajer restoran terus meningkat menjadi Chef Manajer dan Manajer Diskotik. Pada 1996, pindah sebagai Food & Beverage Outlets Manager di Hotel Sheraton Surakarta. ”Terus berkembang di Yogyakarta di posisi yang sama. Berpindah sebagai General Manager (GM) di tempat rekreasi. Setelah itu, karier saya dari GM ke GM. Paling tinggi sebagai Corporate General Manager di Horison Group, yang membawahi di Jateng dan Yogyakarta. Paling jauh di Bali,” ucapnya.

Kegiatannya sebagai motivator tidak pernah ditinggalkannya. Benk terus belajar dengan mengikuti berbagai seminar tentang motivasi dan manajemen kini. ”Sekolah saya di seminar. Sampai sekarang saya masih aktif ikut seminar.

Menambah ilmu, dan melihat perkembangan tren. Salah satu yang menginspirasi saya adalah Yoris Sebastian, yang pada usia 26 tahun, menjadi GM Hard Rock Cafe Indonesia.” Tantangan yang selalu membuatnya bersemangat adalah memecahkan masalah. Benk sempat mengalami tidak bisa menyelesaikan masalah dan hampir menyerah. Namun, dirinya justru memicu untuk menyelesaikannya dengan baik. (Aristya Kusuma Verdana-64)


Berita Terkait
Loading...
Komentar