Kisah Ronggeng Jadi Monolog Musikal Srintil

JAKARTA- Dian Hadipranowo bersiap menghadirkan kisah Srintil dalam rupa berbeda. Komposer itu, via bendera ArtSwara Production, akan menyajikan lakon monolog musikal Srintil: Tembang Duka Seorang Ronggeng. Lakon yang memadukan seni peran, musik, lukis (skenografi), dan tari itu mengangkat kisah cinta tragis dari Srintil. ”Kami ambil ceritanya dari novel Ronggeng Dukung Paruk,” kata Dian HP, sapaan akrab dia, di Jakarta, kemarin.

Novel karya Ahmad Tohari itu terbit kali pertama 1982. Novel ini berkisah tentang cinta antara Srintil dan Rasus, teman masa kecil yang menjadi tentara. Kisah berlatar Dukuh Paruk di Banyumas yang dibekap kemiskinan dan keterbelakangan akhir 1960-an, saat kondisi politik sedang panas. Dian yang menjadi produser memercayakan pemeranan Srintil pada Trie Utami.

Adapun sutradara Iswadi Pratama. Pendukung lain adalah penata tari Eko Supriyanto, penata musik Ava Victoria, eksekutif produser Maera, dan penata kostum Chandra Satria. Lakon itu akan dipentaskan di Teater Salihara, 27-28 April. Dian menuturkan memilih lakon itu lantara pandangan publik tentang ronggeng cenderung tidak adil. Cuma sisi negatif yang terbaca publik.

Tafsir Bebas

”Lewat lakon ini, kami ingin penonton mendapat perspektif berbeda dari sosok ronggeng.” Dengan menghadirkan Srintil tidak sebagaimana versi beberapa filmnya, ArtSwara Production berharap publik lebih arif menilai ronggeng. Iswadi Pratama merasa diberi kebebasan menafsir lakon itu secara bebas. Dia akan menghadirkan lakon secara mengalir sebagaimana dalam novel. ”Namun premisnya berbeda. Versi novel, Srintil gila. Dalam lakon ini tidak,” katanya.

Dia menuturkan tafsir juga tak terlalu ketat. Dia berkehendak mengembalikan harkat ronggeng. ”Betapapun penari ronggeng tetap punya martabat sebagai manusia yang harus kita hormati. Meski dalam praktik ada yang bersifat patologis, itu tak bisa dihindari,” katanya.

Dia berjanji tak akan mengulang perspektif cerita yang sudah mapan di masyarakat karena bentuk seninya berbeda. Perbedaan itu akan disampaikan Tri Utami secara berbeda pula. ”Dia tak sekdar menangis dan tertawa.

Dia mampu menggali teks lebih dalam. Saat menari, tubuhnya punya plastisitas,” katanya.

Trie Utami menjadi Srintil anakanak, remaja, dan tua. Dia juga memerankan Rasus, Sakarya, dan bapak Srintik, Santayit. ”Sedikitnya tujuh karakter harus Mbak Trie perankan.” Trie Utami menuturkan sudah membaca Ronggeng Dukuh Paruk jauh sebelum menjadi novel. ”Saya baca di Kompas sejak SD waktu jadi cerbung,” katanya.

Dia merasa bisa menangkap kompleksitas yang tak dilihat orang lain dari sosok Srintil. ”Saya penari, penari Sunda sejak SMP. Itu tak diketahui orang. Mas Eko tinggal manggil kembali roh tari saya. Selebihnya saya hanya bilang ke Mas Eko dan Mas Is untuk sedikit sabar menghadapi saya,” kata dia. (G20-28)


Berita Terkait
Loading...
Komentar