Kelompok "Rosse Bambu" Desa Margoagung, Sleman

Upaya Keras Menembus Persaingan Pasar Bebas

SM/Amelia Hapsari : PRODUK BAMBU : Ketua Rosse Bambu, Marzuni menunjukkan inovasi produk bambu laminasi, kemarin.(26)
SM/Amelia Hapsari : PRODUK BAMBU : Ketua Rosse Bambu, Marzuni menunjukkan inovasi produk bambu laminasi, kemarin.(26)

PEMBUATAN kerajinan mebel bambu di Dusun Gentan, Desa Margoagung, Kecamatan Seyegan, Sleman sudah dijalankan sebagai industri rumah tangga sejak 1970an. Berawal dari sebuah usaha ini dirintis oleh beberapa orang dengan memanfaatkan bambu yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar mereka. Lambat laun, jumlah perajin bambu di Dusun Gentan bertambah hingga kini menjadi sekitar 45 orang. Mereka tergabung dalam beberapa kelompok. Salah satunya adalah Rosse Bambu yang beranggotakan 12 perajin bambu.

Ketua Rosse Bambu, Marzuni menuturkan, kelompoknya dibentuk pada tahun 2008 dengan basis awal kerajinan kursi lincak. Inovasi kemudian berkembang ke produk lain seperti sofa bambu, gazebo, tempat tidur pantai, dan aneka mebeler untuk ruang tamu.

“Tujuh anggota kami mengerjakan produk di workshopsedangkan lainnya di rumah masing-masing. Manajemen seluruhnya dikelola oleh kelompok,” ucap Marzuni.

Bahan baku bambu kebanyakan diperoleh di seputaran wilayah Sleman. Mereka memproduksi sesuai order yang datang dari pembeli lokal maupun internasional. Peluang pasar pun dirasa masih terbuka lebar.

Laku di Pasaran

Pangsa pasar mayoritas di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.†Tiga tahun berturut-turut, produk Rosse Bambu bahkan telah menembus ekspor yang didominasi pasar Eropa. Para perajin di dusun ini juga telah mengembangkan inovasi produk bambu laminasi dengan keunggulan bisa dijadikan model papan. “Pasar memang masih terbuka lebar. Hanya saja yang menjadi kendala bagaimana menjadikan kerajinan bambu lebih kompetitif dengan bahan kayu. Karena itu kami coba inovasi bambu laminasi,” ungkapnya.

Disamping itu, ide desain untuk produk eksterior dan interior juga menjadi kendala. Padahal desain yang kekinian sangat dibutuhkan agar produk mereka lebih laku di pasaran. Untuk mengatasinya, dia berharap ada pendampingan dari pihak yang berkompeten. Dari sisi ekspor, perajin Rosse Bambu juga kian terdesak oleh produk serupa dari negara Vietnam yang memiliki harga lebih rendah. Bahkan tahun lalu, volume ekspor turun sampai 25 persen. Sebelumnya, volume ekspor bisa mencapai Rp 250 juta-Rp 300 juta sekali kirim.(Amelia Hapsari-26)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar