Driver Gojek Protes Tarif Jarak Pendek

PENGEMUDI BERKONVOI : Ratusan pengemudi yang tergabung dalam Solidaritas Driver Gojek Soloraya berkonvoi dari Alun-alun Kidul Kompleks Keraton Surakarta menuju Kantor Driver Service Unit (DSU) di Solo Baru,Grogol, Sukoharjo, Rabu (13/3). (51)
PENGEMUDI BERKONVOI : Ratusan pengemudi yang tergabung dalam Solidaritas Driver Gojek Soloraya berkonvoi dari Alun-alun Kidul Kompleks Keraton Surakarta menuju Kantor Driver Service Unit (DSU) di Solo Baru,Grogol, Sukoharjo, Rabu (13/3). (51)

SOLO- Ratusan driver ojek online, yang tergabung dalam Solidaritas Driver Gojek Soloraya memprotes pemberlakuan tarif jarak pendek sebesar Rp 4 ribu/2,4 km yang ditetapkan PT Gojek Indonesia (PTGI) pada Senin (4/3).

Hal itu dirasa merugikan pengemudi dan mengancam melakukan off-bid (tak menerima orderan) jika tak ada tanggapan dan realisasi dari kantor pusat. ”Kami menuntut manajemen PTGI untuk memberikan tarif yang lebih rasional dan manusiawi terhadap mitra Gojek.

Pemberlakuan tarif baru per 4 Maret 2019 sangat memberatkan kami. Semula per 3 km pengemudi bisa mengantongi Rp 6.300, saat ini hanya Rp 4 ribu per 2,4 km,” ungkap Koordinator Aksi, Didik Prakoso Andrianto, saat diwawancarai di Alun-alun Kidul, Kompleks Keraton Surakarta, Rabu (13/3).

Didik mengungkapkan, jika manajemen PTGI tak segera mengambil kebijakan perubahan tarif yang menguntungkan, pengemudi Gojek Soloraya bakal melakukan off-bid tiap Rabu setiap pekannya. ”Kami berharap tuntutan kami untuk mengembalikan tarif secara rasional bagi para driver dilakukan. Kami bakal melakukan offbid jika tak ada jawaban hingga realisasi dari PTGI terkait penurunan tarif tersebut,” ungkap Didik.

Aksi protes tersebut diikuti 500 driver Gojek Soloraya. Aksi yang dimulai dengan membagikan nasi bungkus kepada tukang becak di Solo itu dilanjutkan dengan berkumpul di Alun-alun Kidul dan berkonvoi ke Kantor Driver Service Unit (DSU) di Solo Baru, Grogol, Sukoharjo. ”Pembagian nasi bungkus kami lakukan untuk menyindir manajemen PTGI untuk mengambil keputusan yang lebih manusiawi. Tarif untuk satu kali Go-ride yang kami terima saat ini, masih bisa melakukan aksi sosial itu, seharusnya pihak manajemen bisa melakukan hal yang sama kepada para mitranya,” kata dia.

Selain tuntutan perubahan tarif jarak pendek, pengemudi juga meminta manajemen PTGI memberlakukan sistem pembagian order yang merata. Diakui, saat ini kesempatan pengemudi untuk mendapatkan order tidak adil.

Hal itu terdapat beberapa akun prioritas yang lebih mudah mendapat orderan, sehingga hal tersebut harus dihapus. Menanggapi aksi tuntutan tersebut, VP Corporate Affairs Gojek, Michael Reza, mengungkapkan, skema insentif akan menyesuaikan dengan kondisi pasar. Karena tujuannya untuk mengupayakan titik temu terbaik antara permintaan pelanggan dan ketersediaan mitra Gojek.

Kesejahteraan

”Fokus kami terkait kesejahteraan tidak hanya terbatas pada tarif dan insentif. Salah satu bentuk perwujudan aspirasi mitra adalah diluncurkannya berbagai program kesejahteraan mitra, melalui program GO-JEK SWADAYA. Program ini dapat meringankan pengeluaran sehari-hari mitra, memberikan akses kepada program asuransi terjangkau, serta memberikan akses kepada berbagai program pengaturan keuangan bagi masa depan mitra dan keluarganya,” jelasnya.

Terkait sistem alokasi order (penghapusan order prioritas), Gojek telah menerapkan sistem alokasi yang baru. Sistem baru tersebut, kedekatan dengan titik lokasi bukan satu-satunya parameter pengemudi mendapatkan order. ”Order yang dibuat oleh konsumen akan disebarkan kepada mitra yang berada pada radius tertentu. Kemudian, mitra yang paling rajin (tidak pilih-pilih order), punya rating tinggi, berpeluang lebih besar untuk mendapatkan order tersebut,” ungkap Reza dalam pesan yang diterima wartawan. (ihm-51)


Berita Terkait
Loading...
Komentar