Kafir Bisa Menimpa Siapa Saja

Oleh M Saekan Muchith

"Agama apa pun pasti memiliki keyakinan kepada Tuhan, utusan, dan kitab. Setiap pemeluk agama yang patuh dan taat kepada apa yang diajarkan oleh agama melalui utusan dan kitab sucinya termasuk dalam kategori tidak ingkar (tidak kafir)."

MUSYAWARAH Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama yang berlangsung 27 Februari - 1 Maret lalu di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat mengundang perhatian berbagai kalangan, terutama hasil bahtsul masail ad-diniyah waqi’iyyah yang membahas tentang negara, kewarganegaraan, dan konsep Islam Nusantara.

Terkait dengan kewarganegaraan, NU bersepakat bahwa nonmuslim tidak bisa disebut kafir karena dalam konsep negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI), semua pemeluk agama diakui setara dan memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara Indonesia.

Sebenarnya yang dibahas dalam munas menyangkut banyak hal seperti bahaya sampah plastik, bisnsi money game, kekerasan seksual, antimonopoli dan persaingan usaha. Tema lainnya seakan luput dari perhatian publik. Hanya satu tema yang ramai diperbincangkan, yaitu tentang penghapusan predikat kafir kepada nonmuslim.

Kata kafir disebut dalam Alquran kurang lebih 525 kali dengan berbagai makna yang berkaitan dengan hubungan atau sikap dan perilaku manusia (makhluk) kepada Allah Swt (Khaliq), seperti tidak percaya kepada Allah, mengingkari nikmat Allah, lari dari tanggung jawab, meninggalkan amal baik yang diperintahkan Allah, dan menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan. Predikat kafir bersifat global dan umum.

Alqur’an pun menjelaskan tiga macam kafir. Pertama, kafir at tauhid (menolak tauhid/keimanan). Siapa pun yang menolak keesaan Tuhan bisa dikategorikan kafir. Apa pun alasannya, di mana pun berada, dan kapan pun waktunya, mereka tidak akan percaya kepada keesaan Tuhan.

Sesuai dengan Firman Allah, ”Sesungguhnya orang orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak juga akan beriman.” (QS Al Baqarah : 6). Kedua, kafir at-tabarri (melepaskan diri). Siapa pun yang berusaha dengan sengaja atau tidak melepaskan atau keluar dari komitmen (kepercayaan) kepada Allah Swt maka pantas disebut kafir.

Sesuai dengan firman Allah, ”Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu, dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkar dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS Al Mumtahanah: 4).

Ketiga, kafir al-nikmah (mengingkari nikmat). Kafir ini ditujukan kepada setiap orang yang mengingkari nikmat dari Allah Swt. Firman Allah Swt, ”Dan ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengikari (kafir) maka sesungguhnya azab- Ku sangat pedih.” (QS Abrahim: 7).

Kafir Menurut Bahasa

Ensiklopedia Islam (1994) menyebutkan, secara umum kafir berasal dari kata kufur yang berarti ingkar, menolak atau menutup dan menyembunyikan sesuatu kebenaran. Artinya, siapa pun yang menolak, mengingkari, dan menyembunyikan kebaikan dan kebenaran layak dikatakan sebagai kafir.

Dalam Kamus Pintar Agama Islam karya Prof Dr H Afif Muhammad MAhalaman 135 dijelaskan, kafir adalah mengingkari risalah Nabi Muhammad Saw atau orang yang tidak mengimani pokokpokok ajaran Islam. Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan, kafir adalah orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. Ada kafir harbi, yaitu orang kafir yang mengganggu dan mengacau keselamatan Islam sehingga wajib diperangi.

Ada kafir muahid yaitu orang kafir yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam bahwa mereka tidak akan menyerang atau bermusuhan dengan umat Islam selama perjanjian berlaku. Ada lagi kafir dzimmi, yaitu orang kafir yang tunduk kepada pemerintahan Islam dengan kewajiban membayar pajak bagi yang mampu. Abu Hilal al-Askary dalam AlñWujuuh wa an Nadhaair fi al Quran mengatakan, secara bahasa, al-kufr bermakna menutupi.

Orang Arab biasa mengatakan al-lailu kafir (malam adalah kafir) karena malam menutupi segala sesuatu dengan kegelapannya atau mengatakan kafara al-ghamamu an-nujuma (mendung menutupi bintang). Orang yang menanam disebut kafir, karena ia menyembunyikan/ menutup benih di dalam tanah. Kufur nikmat disebut kafir karena menutupi nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Lalu siapa sebenarnya yang bisa dikategorikan kafir?

Hasil Munas dan Konbes NU membuat kesepakatan bahwa nonmuslim yang menjadi warga negara Indonesia tidak bisa dikategorikan kafir karena nonmuslim memiliki hak dan kewajiban yang sama dan tidak melakukan permusuhan atau mengganggu umat Islam. Hal ini bisa dilihat dari naskah perjanjian Piagam Madinah, di mana Rasulullah tidak pernah menyebut orang-orang di luar Islam dengan sebutan kafir.

Kembali ke persoalan kafir, pada hakikatnya makna dasar kafir adalah mengingkari keberadaan Allah (tauhid) dan mengingkari kerasulan Nabi Muhamamd Saw. Artinya, orang yang tidak percaya (beriman) akan adanya Allah dan tidak percaya kepada Muhamamd sebagai Rasul (Utusan) Allah.

Ketidakpercayaan atau pengingkaran kepada Allah dan Rasul bisa bersifat formal, yaitu dilakukan dengan pernyataan atau ikrar. Bagi umat Islam, ikar dilakukan melalui pengucapan dua kalimat syahadat. Umat Islam yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat disebut kafir. Pengingkaran kepada Allah dan Rasul juga bisa bersifat substansial (kontekstual), yaitu dilakukan melalui sikap dan perilaku sehari-hari.

Kepercayaaan dan pengingkaran ditunjukkan dengan perilaku sehari-hari. Wujud orang yang taat kepada Allah dan Rasul adalah orang yang selalu taat dan patuh kepada apa yang diperintahkan oleh agama dan menjauhi apa yang dilarang. Agama apa pun pasti memiliki keyakinan kepada Tuhan, utusan, dan kitab.

Setiap pemeluk agama yang patuh dan taat kepada apa yang diajarkan oleh agama melalui utusan dan kitab sucinya termasuk dalam kategori tidak ingkar (tidak kafir). Sebaliknya, apa pun agamanya, jika perilakunya selalu melanggar (mengingkari) apa yang diperintahkan oleh agamanya melalui isi pesan kitab suci dan utusan (nabinya) maka mereka telah ingkar kepada Tuhan dan rasulnya (kafir).

Sebutan kafir bisa menimpa muslim dan nonmuslim. Walaupun muslim, telah mengucapkan (ikrar) syahadat, jika sikap dan perilakunya seharihari selalu melanggar aturan agama dan sosial seperti, suka berbohong, melakukan korupsi, berkhianat, tidak jujur, menindas rakyat, berjanji tidak menepati, suka merendahkan atau menghina orang lain, pantas mendapat predikat kafir.

Sebaliknya, walaupun nonmuslim, tetapi memiliki sikap dan perilaku yang selalu taat, patuh kepada aturan agama yang diyakini dan patuh kepada aturan sosial, seperti jujur, tanggung jawab, disiplin, antimelakukan korupsi, selalu menepati janji, selalu menghormati orang lain, hidup rukun, bergotong royong, membantu siapa pun yang membutuhkan, maka mereka tidak pantas disebut kafir. Ukuran kafir atau muslim bukan dilihat dari agama yang dianut atau yang diyakini, tetapi lebih kepada sejauh mana komitmen sikap dan perilaku untuk taat dan patuh terhadap ajaran agama dan norma yang berlaku dalam kehidupan sosial. (40)

Dr M Saekan Muchith SAg MPd, dosen IAIN Kudus, peneliti pada Tasamuh Indonesia Mengabdi (Time) Jawa Tengah.


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar