BACA BUKU

Sejarah dalam Canda dan Serbakebetulan

SEJARAH biasanya ditulis dan dimaknai sepenuh kesungguhan. Sebab, sejarah adalah bukti akan kejadian, fakta, dari sebuah bangsa atau peristiwa masa lalu yang penting bagi kelangsungan masa kini dan masa depan. Tak jarang, demi kebenaran sejarah, manusia bertikai, bahkan berperang. Namun apa jadinya jika sejarah dijadikan bahan candaan?

Bagaimana jika sejarah digubah sedemikian rupa, sehingga jadi alat untuk menyindir kebenarannya? Buku karya Jonas Jonason ini sebuah candaan terhadap sejarah, khususnya sejarah Afrika Selatan dan Swedia. Jonas memasukkan tokoh-tokoh konyol dalam kronologi sejarah yang terbakukan. Tentu tokoh-tokoh itu nyelonong dalam kronologi sejarah yang disepakati para ahli sejarah, sehingga sejarah berjalan tak keruan. Tokoh-tokoh itu bisa berhubungan dengan tokoh-tokoh historis seperti Presiden PW Botha, Thabo Mbeki, dan Hu Jintao.

Tokoh-tokoh itu bisa mengakali Mossad dan menembus sistem keamanan Swedia. Bahkan seenak hati bertemu Perdana Menteri dan Raja Swedia. Jonas bukan sekadar ingin bercanda. Ia menggunakan candaan untuk mengkritik penulisan sejarah yang sering melupakan kemanusiaan. Tokoh-tokoh utama dunia, seperti para presiden negara besar, dia rundung sesuka hati. Ajaran agama (Kristen) dia tafsirkan sekenanya, sehingga menjadi lucu. Jonas menampilkan kelucuan tak sekadar untuk membuat pembaca tersenyum atau tertawa.

Kelucuan itu, jika kita baca secara mendalam, akan membuat kita tahu: dia sedang menggugat sejarah dunia yang melupakan kemanusiaan. Para tokoh dunia pandai berucap: mereka memperhatikan kemanusiaan. Namun tindakan mereka sering bertentangan dengan ucapan itu. Jonas mengawali cerita dengan mengambil sejarah 1980; Afrika Selatan membangun enam bom nuklir. Jonas mencandai fakta itu dengan menambahkan satu bom nuklir yang tak direncanakan; bom nuklir ketujuh yang terbuat secara tak sengaja. Baiklah, kita lihat lebih dulu alur cerita novel kocak ini. Novel ini terbagi menjadi dua bagian besar.

Bagian pertama mengambil kisah di Afrika Selatan. Bagian kedua di Swedia. Kisah di Afrika Selatan bermula dari Nombeko Mayeki, perempuan kulit hitam pengangkut tinja dari jamban umum di Kota Soweto. Saat hendak ke perpustakaan di pusat kota, ia tertabrak mobil yang dikendarai seorang lelaki mabuk. Lelaki itu insinyur yang mengepalai tim pembuat bom nuklir. Nombeko divonis tujuh tahun bekerja pada sang insinyur.

Sang Penyelamat

Kecerdasan matematika membuat Nombeko sering menyelamatkan sang insinyur dari kesulitan menjelaskan aspek teknis pengembangan bom nuklir. Karena tim pembuat bom dipimpin orang yang tidak kompeten, secara tak sengaja bom yang dibuat bukan enam seperti rencana, melainkan tujuh! Bom ketujuh jadi persoalan sekaligus rebutan. Setelah bernegosiasi dengan Mossad, agen rahasia Israel yang sejak awal terlibat pembuatan bom, bom ketujuh akan dikirim ke Israel, sementara Nombeko akan diberi suaka di Swedia. Namun ternyata paket bom tertukar paket daging antelope yang seharusnya dikirim ke Swedia untuk Nombeko. Jadilah bom nuklir ketujuh berada di Swedia bersama Nombeko. Kisah di Swedia diawali oleh seorang republikan yang sangat ingin menghapus monarki, Ingmar.

Dia memiliki anak kembar, Holger dan Holger. Namun dia hanya mendaftarkan salah seorang sebagai anaknya. Holger Satu sangat mirip dengan sang bapak; ingin meruntuhkan monarki. Namun Holger Satu tidak cerdas.

Holger Dua, yang tidak diakui ada, sangat cerdas. Namun dia tak tertarik menumbangkan raja. Nombeko bertemu Holger dan Holger. Nombeko bersama Holger dan Holger terlibat penyelamatan bom nuklir, termasuk bertemu Hu Jintao yang berkunjung ke Swedia. Bom akhirnya berhasil terkirim ke China dan Nombeko hidup berbahagia dengan Holger Dua.

Alih-alih menggunakan tokoh lelaki kulit putih berpenampilan perlente dan berpendidikan tinggi, Jonas memilih perempuan kulit hitam tak berpendidikan si pengangkut tinja. Lewat pemilihan tokoh utama itu, kita bisa melihat bagaimana Jonas mengejek asumsi umum selama ini: sejarah dibangun dan ditentukan lelaki kulit putih berpendidikan tinggi dan berpenampilan perlente. Tokoh utama Nombeko Mayeki. Dialah penyelamat dunia dari bencana ledakan bom nuklir ketujuh. Nombeko lahir begitu saja di wilayah kumuh di Soweto. Ia tak pernah bertemu ayahnya. Ibunya pun kecanduan tiner karena ingin melupakan kemelaratan. Ibunya secara sukarela mengakhiri hidup karena merasa tak punya harapan lagi. Meski buta huruf, Nombeko memiliki kemampuan matematika sangat hebat. Gadis itu cepat belajar apa saja.

Ia bisa belajar bahasa Mandarin dari tiga orang. Ia juga cepat belajar bahasa Swedia. Kemampuan matematikanya sering menyelamatkan sang insinyur ketika harus menjelaskan secara teknis kepada Presiden Botha. Sesungguhnya sang insinyur tak paham apa-apa soal fisika nuklir. Jika sejarah sering dipercaya terjadi karena skenario yang terancang rapi, ternyata di tangan Jonas, sejarah terjadi karena kebetulan dan proses ketololan.

Karier Nombeko, misalnya. Ia akan tetap jadi pengangkut tinja jika tidak tertabrak mobil si perancang bom nuklir yang mabuk, Insinyur Westhuizen. Dalam persidangan justru Nombeko kalah dan dihukum jadi pembantu sang insinyur. Saat jadi pembantu itulah ia berkenalan dengan tiga perempuan China yang mengajari bahasa Mandarin dialek Wu, sama dengan bahasa yang digunakan Hu Jintao.

Dia pun akan tetap jadi pembantu sang insinyur bila penerjemah Hu Jintao tidak digigit kalajengking saat kencing sembarangan di semak-semak. Karena itulah, Nombeko harus menggantikan sang penerjemah. Peristiwa serbakebetulan membuat Nombeko mampu menyelamatkan dunia dari bom nuklir. Bukankah bom nuklir itu pun jadi karena proses tidak direncanakan?

Ah, seandainya Jonas membaca tentang Sukarno, akan ada candaan pula tentang Presiden Indonesia di novel ini. Bukankah Sukarno berperan besar dalam sejarah Afrika? Ah, ternyata sejarah besar manusia terjadi serbakebetulan belaka. (Handoko Widagdo, pegiat literasi, tinggal di Surakarta-28)


Tirto.ID
Loading...
Komentar