BACA BUKU

Alunan Rima Kata-Kata

Judul: Serenade, Kumpulan Cerita Pendek Penulis: Walujadi Toer & Soesilo Toer Penerbit: Pataba Press Blora Cetakan: Pertama, Februari 2019 Tebal: (x +) 210 halaman
Judul: Serenade, Kumpulan Cerita Pendek Penulis: Walujadi Toer & Soesilo Toer Penerbit: Pataba Press Blora Cetakan: Pertama, Februari 2019 Tebal: (x +) 210 halaman

SIAPA yang tak akan terlena di muka bumi ini, kala alunan musik pada sore hari sedang mendayu semendayu-mendayunya? Bunyi segala macam alat musik melebur menjadi satu di udara. Pemain saksofon serasa menikmati nada yang dia embuskan ke dalam corong.

Tak lupa juga petikan gitar serta dentum bas dan dentum drum. Bahkan suara sumbang penonton sedikit pun tak merusak kehangatan atmosfer. Semua menikmati melodi dalam alam masingmasing. Baru saya sadari, alunan tidak hanya tentang nada atau melodi dan bunyi musik. Namun juga kata-kata.

Entah melalui rima, cerita, atau bahkan nada para pembaca sekalian ketika menikmati suatu teks. Magis terasa benar ketika suatu tulisan, seperti musik, menyerukan kebenaran. Serupa serenade. Siapa mengira buku bersampul lelaki yang memainkan akordeon ini adalah sebuah kumpulan cerita pendek (cerpen).

Ketika beberapa hari saya membawa buku ini ke tempat yang asyik untuk meresapi embrio yang lahir dari Walujadi Toer dan Soesilo Toer ini, sontak banyak pertanyaan muncul. Hampir semua sama. ”Buku musikkah?” Menjawab dengan kata ”tidak” pun saya rasa tidak sesuai. Kedua penulis itu merangkai nadanada kata sebegitu ciamik, sehingga saya terlupa. Ini bukan lagu kok.

Ini buku berisi 15 cerpen yang memiliki ciri masing-masing. ”Apakah tema buku ini soal musik?” Mungkin. Beberapa kali saya membaca kumpulan cerpen, acap kali saya menemukan suatu judul cerpen biasanya juga digunakan sebagai judul buku.

Bahkan cerpen itu biasanya diletakkan di awal. Namun pada halaman berapa dapat saya temukan cerita serenade? Tidak pada dua cerpen awal karangan Walujadi Toer. Juga bukan pada sepuluh cerpen selanjutnya milik Soesilo Toer.

Makin saya sadari, seiring dengan makin tebal tulisan yang sudah saya baca, mungkin serenade adalah tema besar yang diangkat sang penulis; tentang penghormatan kepada seseorang lewat media musik atau nyanyian. Dalam konteks buku, itulah rangkaian kata.

Makin saya sadari pula, seiring dengan kemenipisan tulisan yang belum saya baca, mungkin serenade bukan suatu judul cerpen. Pastilah penulis mencari judul yang berkesan romantis. Mengingat tema sendu dan indie memang sedang merebak digandrungi khalayak, terutama khalayak muda. Bukan.

Ternyata ”Serenade” merupakan judul cerpen ke-13, yang saya kira pada halaman pertama merupakan pemungkasan dari kumpulan cerita pendek kali ini. Suatu kejutan lagi, karena mungkin cerpen ini tak akan mengambil tema jauh dari kisah Romeo dan Juliet yang membahagiakan.

Bukan apa-apa, musik tidak pernah jauh dari cinta bukan? Saya salah lagi. Saya melupakan fakta: Romeo meminum racun akhirnya. Nahas, racun ternyata juga merasuk ke dalam tokoh aku.

Pengkhianatan oleh sang istri tidak dengan mudah dia selesaikan lewat jalan perceraian. Pertentangan batin yang dia alami terlukis dengan apik bersama deru air mata.

Menggelitik

Juga cinta, pada cerita yang lain, ditentangkan dengan sejarah kelam antarkeluarga. Dendam, sebagaimana api, dengan cepat menjalar ke organorgan lain macam kakak dan adik.

Apa yang akan kaulakukan apabila menghadapi adik yang mencintai adik dari pembunuh kakakmu?

Ikhlaskah kamu jika dia juga menyenja hanya ditemani diri sendiri? Namun jelas tak ada cerita semenggelitik ”Orkes”. Merekalah sepasang suami-istri yang saling melucu pada malam pertama pernikahan.

Itulah gambaran seorang lelaki pemalu dan perempuan yang tanggap. Seorang lelaki yang bimbang masuk ke kamar istri yang dia kira sedang berganti pakaian. Juga seorang istri yang bingung mengapa peluh berjatuhan dari kaki sang suami.

Ah, bagaimana bisa mereka memadu kasih jika tak saling jujur atas apa yang akan terjadi? Jadi cintakah yang menjadi benang merah buku ini? Ah, bagaimana bisa cinta tidak menjadi akar dari segala kehidupan? Benarkah cinta yang menjadi alasan seorang tukang bersih-bersih selokan mewejang seorang anak kecil agar jangan membolos sekolah?

Juga cintakah yang tega menampar merah pipi seorang pemuda karena dia ingin mencium seorang penjahit? Saya kira tulisan Soesilo Toer kali ini tidak jauh berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya. Maklum, siapa bisa melewatkan rangkaian kata miliknya? Namun mungkin ini juga kelemahan Soesilo.

Bukan secara tata bahasa, pemilihan diksi, atau penempatan kalimat. Saya yakin, kita sepakat siapa yang bisa meragukan kemampuannya dalam perkara tersebut. Bahkan terbukti, tak hanya sebagai penulis, dia juga menjadi penerjemah dan penyunting buku.

Tidak hanya satu atau dua buku. Namun mungkin ketajaman cerita yang dia sampaikan. Dia pernah mengisahkan tentara dan anak-anak. Transformasi seorang anak dalam dekapan seksualitas.

Namun entah mengapa cerita itu hanya sambil lalu dalam benak saya? Kurang-lebih sama, Walujadi Toer menyodorkan dua cerita kepada pembaca yang berisi kritik keras terhadap budaya, mungkin. Namun ketika saya melanjutkan pembacaan ke tulisan selanjutnya, mereka hilang mengudara.

Walaupun ke-15 cerpen dalam Serenade sudah pernah terbit di majalah atau koran pada masa lampau, satu hal yang saya cintai: apa yang mereka sodorkan ternyata berupa kebenaran yang kadang kita kesampingkan.

Fakta yang tak jarang kita kaburkan karena kita anggap sepele, macam kancing baju. Walujadi dan Soesilo melalui karya mereka bahkan membantu kita memasangkan kancing baju itu. Jadi, cintakah yang membuat saya menceritakan buku ini kepada kalian? (Dheani Fauziah, martir #rabubacabuku-28)


Tirto.ID
Loading...
Komentar