Badriyanto, Berikthiar Lestarikan Wayang Suket

Gelar Pelatihan hingga Budi Daya Bahan Baku

SM/Ryan Rachman - MENGANYAM WAYANG : Badriyanto menganyam wayang suket di rumahnya, Desa Wlahar, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, beberapa waktu lalu.
SM/Ryan Rachman - MENGANYAM WAYANG : Badriyanto menganyam wayang suket di rumahnya, Desa Wlahar, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, beberapa waktu lalu.

Wayang suket merupakan hasil karya langka dari Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Buah tangan khas Tanah Perwira ini mencoba bertahan agar tak lekang ditelan zaman.

WAYANG ini kali pertama dibuat oleh jari-jari terampil almarhum Kasanwikrama Tunut yang sering disapa Mbah Gepuk, seorang penggembala kambing asal Desa Wlahar, Kecamatan Rembang yang masih satu kecamatan dengan tahan kelahiran Jenderal Besar Soedirman.

Ribuan batang rumput kasuran kering dianyam menjadi tokoh wayang. Pada 1995, budayawan Yogyakarta, Sindhunata alias Romo Sindhu mengenalkan ke publik melalui pameran di Bentara Budaya. Dua tahun berselang atau pada 1997, Mbah Gepuk wafat di usia 68 tahun.

Beruntung, keterampilannya menganyam rumput itu tak ikut hilang. Cucunya, Badriyanto (37) mewarisinya. ”Saat angon kambing, saya biasanya menemani simbah. Beliau lalu menganyam suket menjadi wayang sembari bercerita tentang tokohtokoh pewayangan macam Yudhistira yang berbudi luhur atau Bima yang tegas tapi hatinya lurus.

Saya sambil mendengarkan, sambil belajar membuat wayang,” tutur Badriyanto saat ditemui awal pekan ini. Wayang suket semakin dikenal ke khalayak ketika dalang almarhum Slamet Gundono kerap membawakannya dalam pentas wayang kontemporer.

Sayangnya, keberadaan wayang suket saat ini diambang punah. Tidak seperti wayang kulit atau wayang golek, orang yang memiliki keahlian membuat wayang suket, praktis hanya dua orang saja. Badriyanto dan temannya, Ikhsanudin.

Tak hanya itu, bahan baku untuk membuat kerajinan ini juga sulit didapat. Rumput kasuran hanya tumbuh saat kemarau, biasanya bulan Sura. Praktis untuk memanennya hanya sekali setahun. Proses mengolah rumput untuk bisa dianyam juga tidak sebentar.

Rumput tersebut harus direndam terlebih dahulu sampai layu, kemudian dipukul-pukul atau digepuk sehingga mudah dianyam. Untuk membuat satu tokoh wayang membutuhkan sekitar 300 batang rumput kasuran. Pengerjaannya pun tak sebentar, seminggu hingga sebulan, tergantung tingkat detil tokoh wayang yang akan dibuat.

Setidaknya ada empat teknik anyaman yang dipadupadankan, yaitu kelabangan, gedheg, tikaran dan sarang lebah. Proses pembuatan wayang dimulai dari hidung sampai kepala menggunakan teknik kelabangan. Selanjutnya anyaman tikaran seperti kail untuk bagian belakang kepala dan anyaman gedheg untuk bagian tangan.

Terakhir, anyaman sarang lebah, yang mana rumput dipilin hingga membentuk tali dan dibentuk menyerupai sarang lebah. Proses yang panjang, ketelitian, kerapihan detail itulah yang membuat harga wayang suket tidak murah. Satu tokoh wayang suket dihargai Rp 450 ribu hingga Rp 1,7 juta tergantung besar kecilnya.

Memang, beberapa kali Badriyanto mendapat pesanan dari luar kota bahkan hingga mancanegara. Namun, karena proses pembuatannya yang lama serta minimnya bahan baku membuatnya kesulitan memenuhi permintaan itu. Terlebih lagi, kondisi keluarganya yang pas-pasan membuatnya harus bisa mengatur waktu untuk bekerja dan membuat wayang.

Produk Unggulan

Pemkab Purbalingga mengakui, wayang suket menjadi satu-satunya produk unggul kesenian khas Purbalingga yang sifatnya langka. Pemerintah pun tak tinggal diam membiarkan wayang suket punah. Sejumlah upaya sudah dilakukan agar kerajinan ini bisa lestari.

”Wayang suket diharapkan menjadi ikon dan suvenir khas Purbalingga. Saat ini jumlah perajin wayang suket di Purbalingga memang sangat terbatas,” Plt Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi.

Ke depan, pihaknya akan menggelar pelatihan agar lahir semakin banyak perajin. Sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait pun diminta untuk turun tangan memberikan solusi agar wayang suket dapat tumbuh dan berkembang.

Secara khusus, Tiwi meminta Dinas Pertanian (Dintan) melakukan kajian agar rumput kasuran sebagai bahan baku wayang suket dapat dibudidayakan sehingga tidak mempengaruhi pasokan bahan baku. Sementara Dinas Koperasi dan UKM diminta melakukan pelatihan dan pemberdayaan agar kerajinan wayang suket bisa diproduksi secara massal.

Menurut Rien Anggraeni, Kasi Kesenian pada Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga, awal tahun ini, pihaknya sudah mengangkat Badriyanto sebagai tenaga harian lepas (THL) Bidang Kebudayaan di dinasnya walaupun yang bersangkutan tidak ngantor.

Harapannya, Badri sekarang punya pekerjaan tetap sehingga bisa fokus untuk mengembangkan wayang suket tanpa harus bingung menghidupi keluarganya. ”Kami sudah membuat nota dinas ke Plt Bupati perihal pengangkatan THL-nya Badri.

Kami masih menunggu tindak lanjutnya,” katanya. Pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan Dinkop UKM untuk segera melakukan pelatihan pembuatan wayang suket dimana Badriyanto menjadi instrukturnya.

Badriyanto sendiri tak sungkan membagikan ilmunya ke orang lain. Justru dirinya berharap semakin banyak yang bisa membuat kerajinan wayang suket seperti dirinya. Dari pelatihan itu, nanti akan muncul perajin-perajin wayang suket. ”Tidak masalah, nanti masing-masing perajin kan mempunyai ciri khas tersendiri,” ucap Rien.

Rien berharap, ada instruksi agar SKPD membeli wayang suket karya perajin. Setidaknya, hal itu sebagai bentuk apresiasi terhadap kerajinan yang adiluhung itu. Wayang itu bisa dijadikan pajangan atau cinderamata bagi tamu dinas yang datang berkunjung. ”Kami juga sedang mengusulkan wayang suket sebagai warisan budaya tak benda lho.

Bukan barang wayangnya, tapi keahliannya. Keahlian ini kan warisan kedua dari penciptanya, itu yang harus diselamatkan,” imbuhnya. Plt Kepala Dindikbud Kabupaten Purbalingga Subeno menambahkan, pihaknya juga sudah melakukan pembicaraan dengan tokoh-tokoh sukses di perantauan khususnya wilayah Jakarta.

Mereka mengaku siap memberikan dukungan terhadap upaya pengembangan wayang suket. Wayang suket sebagai karya kerajinan bernilai tinggi bila dikemas lebih menarik dapat menjadi cinderamata untuk kalangan pejabat ditingkat pusat bahkan untuk tamu-tamu negara. ”Wayang suket sangat elegan bila dijadikan cinderamata.

Bisa menggunakan pigura kaca atau untuk bentuk yang lebih kecil menggunakan tutup kaca seperti piala. Potensinya sangat menjanjikan dan kami akan suport pemasaranya,” ucap Ketua Kumpulan Lare Purbalingga (Kulabangga), Sayono saat pameran wayang suket di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, akhir tahun lalu. (Ryan Rachman-64)


Berita Terkait
Loading...
Komentar