Jaringan Penjual Ganja di Jogja Terputus

SM/Gading Persada : AMANKAN TERSANGKA: Polresta Jogja mengamankan tiga tersangka berikut barang bukti 1.083 batang pohon ganja dan ratusan paket ganja siap edar.(24)
SM/Gading Persada : AMANKAN TERSANGKA: Polresta Jogja mengamankan tiga tersangka berikut barang bukti 1.083 batang pohon ganja dan ratusan paket ganja siap edar.(24)

YOGYAKARTA - Penangkapan Erwin Y(42) membuat jaringan penjual ganja di Yogyakarta berkurang satu. ’’Secara tak langsung, sudah putus jaringan Erwin di Jogja,’’ tandas Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Armaini Kapolresta, Selasa (19/2).

Erwin Ymengaku petani. Namun dalam empat bulan terakhir, Erwin menuai rupiah karena menanam ganja. Hasilnya juga menggiurkan. Setiap panen, dia mendapatkan Rp 4 juta. Paling tidak, dia memanam satu hektare ganja di tepi Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jabar sejak September 2018. ’’Sampai tertangkap, saya sudah tiga kali panen. Awal panen Desember 2018, lalu Januari, dan terakhir awal Februari. Jadi hampir setiap bulan panen,’’ ungkapnya saat ditunjukkan polisi ke awak media di Mapolresta Jogja (18/2).

Erwin mengaku kalau seorang diri mengolah lahan milik Perhutani yang ditanaminya secara ilegal tersebut. Tak hanya menanam, tapi juga mengolah hingga menjualnya ke para pengedar. Mengaku mendapatkan biji biji ganja dari kawannya yang berasal dari Aceh, Erwin cukup cerdik agar apa yang ditanamnya tersebut tidak diketahui orang lain.

Dia menyamarkan sekitar 1.083 pohon ganjanya dengan tanaman cabai dan pepaya. ’’Saya mengolahnya sendiri. Kalau sudah mau panen, pohon ganja saya olah dengan menjemurnya dahulu sampai kering. Kemudian setelah kering baru saya bikin paket-paket kecil. Sekali panen itu bisa dapat 160 paket yang saya jual Rp 4 juta. Satu pohonnya bisa dapat 20 paket kecil,’’tutur Erwin.

Kecerdikan Erwin tak hanya soal menyamarkan pohon ganja dengan tanaman cabai dan pepaya, tetapi mengatur tanaman itu agar bisa panen setiap bulan. ’’Jadi saya menanamnya sedikit demi sedikit, tidak serempak. Dengan ini panen bisa bergantian,’’imbuh dia. Paket ganja dari Erwin inilah yang masuk ke Jogja. Peredarannya melalui dua orang yang mengaku berteman sejak kecil, Ari S (22) dan Yohan W (21). Ari yang juga mahasiswa tersebut mengaku membeli paketan ganja dari Yohan. Sementara Yohan mendapatkannya dari Erwin. ’’Saya beli dari Yohan. Per paket kecil bisa saya jual Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu,’’tandas Ari S.

Warga Purwakarta pun menjadi heboh terbongkarnya ladang ganja 1 ha oleh polisi di lahan Perhutani. ’’Kalau dari jarak 10 meter tidak terlihat tanaman ganjanya,’’ ujar Kasatresnarkoba Polres Purwakarta AKPHery Nurcahyo. Sebelum di Purwakarta, Erwin mengaku menanam ganja di Pangkala, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, empat tahun silam. Lantaran gerak-geriknya tercium polisi, dia memilih menghentikan aktivitas tersebut. ’’Pelaku ini ikut orang tuanya. Awalnya menggarap lahan di Karawang dan sudah menanam ganja. Karena orang tuanya pindah lahan garapan di Purwakarta, ia juga pindah. Dia kembali menanam di Purwakarta,’’ tutur Hery.

Perhutani mengakui lahan digunakan pelaku itu milikinya. Namun area itu masuk ke Kawasan Perlindungan Setempat (KPS), mengingat posisinya di bantaran Waduk Juanda Jatiluhur, sehingga berfungsi sebagai penyangga. ’’Lokasi itu tidak diperuntukkan menjadi lahan garapan, karena berfungsi sebagai penyangga Waduk Jatiluhur,’’ ujar Administrasi Perum Perhutani KPH Purwakarta Sukidi.

Pihak Perhutani membiarkan lahan tersebut dan hanya ditanami pohon bambu. Sukidi menegaskan pihaknya tidak mengetahui ada ladang ganja di lokasi tersebut. Pelaku menggarap area tersebut tanpa izin. Ari dan Yohan disangkakan Pasal 114 ayat 1 jo Pasal 111 ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2009 yang ancaman hukumannnya maksimal 20 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar. Sementara Erwin terancam penjara seumur hidup dan denda Rp 13 miliar. (K15,dtc-41)


Berita Terkait
Loading...
Komentar