Zahra Muzdalifah, Merumput di Eropa

Empat Klub Besar Kepincut Aksinya

Satu per satu pesepak bola Indonesia mendapat kesempatan merumput di Eropa. Setelah Egy Maulana Vikri berkarier di Polandia, kali ini giliran Zahra Muzdalifah. Dia menjadi pemain bola putri Indonesia pertama yang akan berkarier di Benua Biru. Hanya tinggal menunggu waktu bagi Zahra menuju ke Eropa.

BAGI pecinta bola di Tanah Air, sepak bola putri belum mendapatkan tempat di hati. Buktinya, sampai saat ini tak ada industri khusus sepak bola bagi kaum hawa. Meski tak ada ingar bingar, ternyata Indonesia memiliki satu pemain yang dilirik klub-klub di Eropa.

Dia adalah Zahra Muzdalifah. Pemain yang terbiasa beroperasi di winger kiri ini bahkan sudan menjalani trial di klub Swedia, Rosengard.

Selain itu, Zahra juga mencoba kemampuannya di tiga klub di Norwegia, yaitu Kolbotn, Valerenga, dan Stabaek. Menariknya, keempat klub tersebut kepincut dengan aksinya. Dia melakukan trial selama satu bulan. ’’Yang resmi dapat invitation sebenarnya di Rosengrd (Swedia ). Yang di Morway di coba-coba aja. Nah tapi setelah itu aku kaget banget mereka semua mau aku,’’ kata Zahra.

Dia menuturkan, pelatih yang mengamatinya selama ujian terpesona dengan keahliannya memainkan si kulit bundar. Pelatih itu, lanjut Zahra, bilang kalau satu-satunya pemain putri asal Indonesia ini punya potensi yang besar. ’’Mereka bilang aku punya potensi, cuma kurang pelatihan yang benar saja, teknik segalanya sudah punya. Makanya dia berani ambil aku,’’ tuturnya.

Zahra juga belum memutuskan klub mana yang akan dituju, apakah di Swedia atau Norwegia. Jika bersedia, Zahra akan mulai merumput di Eropa mulai musim panas nanti. Namun, dia punya kendala dengan aturan yang berlaku.

Perlu Sponsor

’’Di Eropa ada ketentuan tersendiri, yaitu kalau ambil pemain dari non-Eropa, gajinya harus empat kali lipat dari pemain aslinya. Nah itu yang menjadi problem aku untuk bisa bermain di sana. Namun mereka masih mau untuk mengusahakan jika aku mendapatkan sponsor, dia mau memberikan 50-50 dengan sponsor tersebut,’’ paparnya.

Jadi, kini Zahra tinggal mencari sponsor yang siap membiayainya untuk pergi ke Eropa. Untuk urusan sponsor, lanjut dara 17 tahun ini, akan diserahkan kepada pihak agen. ’’Bergantung sponsor sih, kalau tidak dapat ya tidak bisa ke sana,’’ imbuhnya seraya berharap, ada sponsor yang mau diajak kerja sama.

Seandainya nanti bisa diterima di klub Eropa, pendidikannya tak akan bermasalah. Meski baru 17 tahun, Zahra kini sudah semester 6 di Universitas Bina Nusantara (Binus). Dia memang pandai urusan pendidikan.

Zahra mengikuti program akselerasi selepas lulus SD. Praktis ia menjalani SMP dan SMA hanya dua tahun. Dengan demikian, ketika usianya masih 17 tahun, pemain yang pernah bergabung di SSB Asiop Apacinti ini bisa masuk perguruan tinggi. ’’Aku sudah semester 6 sekarang. Kalau misalkan aku bisa berkarier di sana (Eropa), kemungkinan besar aku kuliah di sana atau aku ngulang lagi dari awal dan ambil sistem online,’’ ujar Zahra.

Jika berhasil berkarier di Benua Biru, ini akan menjadi kebanggaan Indonesia. Bisa disebut juga, Zahra akan mencatatkan sejarah sebagai pemain sepak bola putri pertama yang berkarier di Eropa. Sukses selalu Zahra. (Arif M Iqbal-41)


Berita Terkait
Loading...
Komentar