Tidak Ada PTS Bermasalah di Jateng

SEMARANG - Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wilayah VI Jateng Prof Dr DYP Sugiharto menegaskan, tidak ada perguruan tinggi swasta (PTS) bermasalah yang dikenakan sanksi tidak boleh menerima mahasiswa baru.

Sebelumnya, Menristekdikti Mohamad Nasir melansir ada 243 PTS di tanah air yang ditutup karena dianggap bermasalah dan tidak memenuhi peraturan.

"Tahun ini (2019-re) tidak ada PTS yang ditutup, sehingga penerimaan mahasiswa baru tetap bisa berjalan," tandas Sugiharto dihubungi lewat telepon selulernya, Selasa (19/2). Menurut dia, penutupan PTS pernah terjadi di wilayah LL Dikti Jateng, tetapi itu terjadi pada 2015.

Ketika itu, LLDikti juga telah memublikasikan ke media massa. Awalnya, ada empat PTS yang dilakukan pembinaan, yakni Politeknik Jawa Dwipa, Politeknik Surakarta, AMIK PGRI Kebumen, dan STIE Muhammadiyah.

Keempat perguruan tinggi itu diminta memperbaiki kondisi dalam batas waktu tertentu. Khususnya, Polteknik Jawa Dwipa dan Politeknik Surakarta itu sudah dibina dan diberikan waktu satu tahun.

Pihaknya tidak menerangkan permasalahannya seperti apa, namun perkembangannya dua politiknik itu harus ditutup karena tidak ada perubahan selama masa perbaikan tersebut.

"Dua perguruan tinggi lain, AMIK PGRI dan STIE Muhammadiyah yang kurang dosen sudah saya clear-kan (masalahnya selesaikan) tahun 2015 itu juga.

Diberi waktu enam bulan, dua perguruan tinggi itu bisa memenuhi permintaannya, sehingga tetap bisa berjalan sampai sekarang," ungkapnya.

Dulu, satu program studi (prodi) harus punya enam dosen tetap. AMIK dan STIE saat itu belum memenuhi syarat, tetapi akhirnya bisa terselesaikan dengan baik.

Menurut Sugiharto, isu pendidikan di LLDikti saat ini justru urusan akreditasi. Tuntutannya, setiap prodi harus bisa meningkatkan akreditasi dari C berubah menjadi B. Terkecuali prodi baru, yang masih membutuhkan waktu. Akreditasi ini penting, karena akan memberikan kepercayaan kepada masyarakat. (J17-34)


Berita Terkait
Loading...
Komentar