Sejumlah Bangunan Masih Mangkrak

Dukungan Pemilik Diharapkan

SM/Maulana M Fahmi : PROYEK PENATAAN KOTA LAMA: Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek penataan kawasan Kota Lama Semarang, Selasa (19/2). Proyek itu hingga kemarin belum rampung dan mengakibatkan ketersendatan arus lalu lintas di kawasan tersebut. (22)
SM/Maulana M Fahmi : PROYEK PENATAAN KOTA LAMA: Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek penataan kawasan Kota Lama Semarang, Selasa (19/2). Proyek itu hingga kemarin belum rampung dan mengakibatkan ketersendatan arus lalu lintas di kawasan tersebut. (22)

SEMARANG - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang berharap semua bangunan di Kota Lama bisa difungsikan. Jangan sampai ada bangunan di kawasan itu kosong dan mangkrak.

Wali Kota Hendrar Prihadi menuturkan, Pemkot terus berupaya untuk menjadikan kawasan Kota Lama menjadi destinasi wisata yang mendunia. Untuk mewujudkan hal itu, Hendrar Prihadi berharap dukungan dari semua pihak, khususnya mereka yang memiliki aset bangunan di kawasan peninggalan Belanda itu. "Kota Lama tetap menjadi fokus utama dalam program pembangunan kami. Namun, semua itu sulit terwujud tanpa ada bantuan semua pihak, khususnya pemilik bangunan di Kota Lama," tuturnya saat meninjau Kota Lama di Taman Srigunting, barubaru ini.

Saat ini, lanjut Hendi panggilan akrab Hendrar Prihadi, bangunan-bangunan di Kota Lama ada beberapa yang masih mangkrak dan belum digunakan sebagaimana mestinya. “Kami berkeinginan agar seluruh bangunan di Kota Lama 100% berfungsi. Sebab, untuk menjadikan Kota Lama moncer tidak hanya menata fisiknya, namun yang paling penting adalah menghidupkan kembali roh kota itu,” ujarnya.

Hendi menerangkan, Kota Lama sebenarnya memiliki potensi tinggi untuk pengembangan dunia usaha. Di lokasi itu, berbagai usaha seperti kuliner, hotel, galeri, dan sektor lain penunjang pariwisata dapat dikembangkan. “Kalau semua gedung berfungsi dan roh Kota Lama kembali bergairah, pasti akan ramai. Sekarang saja sudah sangat ramai, maka kami minta semua pihak dapat bergerak bersama untuk memajukan Kota Semarang,” tegasnya.

Disinggung mengenai penataan Kota Lama, Hendi menegaskan, pembangunan infrastruktur di lokasi itu terus dikerjakan agar lebih nyaman dan indah. “Proses pembangunan infrastruktur terus berjalan. Kemarinkemarin, kami mendapat bantuan dari APBD Pemprov Jateng Rp 5 miliar dan pemerintah pusat Rp 156 miliar. Dengan kepedulian semua pihak, tentu harapan dan cita-cita menjadikan Kota Lama sebagai destinasi wisata dunia akan tercapai,” katanya.

116 Bangunan

Sementara itu, Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, terdapat 116 bangunan yang masuk kategori cagar budaya di Kota Lama. Dari jumlah itu, hanya satu bangunan yang dikelola Pemkot Semarang, yaitu Gedung Oudetrap. “Lainnya milik instansi, ada sekitar 50 persen. Hal itu di antaranya PPI, Bank Mandiri, Telkom, dan Pelni. Adapun yang milik perorangan sekitar 30 persen,” kata Ita, sapaan akrab Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Dari seluruh bangunan cagar budaya, kata Ita, yang perlu mendapat perhatian khusus adalah bangunan milik perorangan di Jalan Letjend Suprapto ke arah selatan. Sebab, banyak bangunan yang tidak terurus. Ita berencana mengajukan Peraturan Daerah (Perda) mengenai pengelolaan bangunan cagar budaya yang tidak terawat. Di dalamnya nanti akan diatur jika dalam dua tahun tidak dikelola, maka akan diambil alih Pemkot Semarang. Harusnya memang dua tahun tidak dikelola maka bisa diambil alih Pemkot.

Hal itu tidak hanya berlaku untuk bangunan di Kota Lama saja, tapi bangunan cagar budaya lain juga di luar Kota Lama. Karena di Semarang ini banyak bangunan cagar budaya,” ungkapnya.

Lalu bagaimana dengan bangunan cagar budaya yang mayoritas milik instansi? Ita mengungkapkan, pihaknya sudah menyosialisasikan kepada pengelola dan pemilik bangunan agar melakukan konservasi. Jika ada yang kesulitan karena konservasi bangunan tidak bisa dilakukan sembarangan, kata dia, BPK2Lsiap melakukan pendampingan. “Mereka yang instansi itu mendukung. Bahkan mereka yang meminta pendampingan dari BPK2L. Hanya saja, kendalanya itu di anggaran. Karena instansi itu kan tidak bisa saat ini juga mengeluarkan anggaran untuk konservasi itu,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ita mengatakan, BPK2L sudah mulai melakukan supervisi dan secara bertahap beberapa bangunan atau gedung cagar budaya dikonservasi. Baik dilakukan secara mandiri maupun oleh investor. Hal itu seperti gedung milik PT PPI yang disewakan untuk dibangun Semarang Galeri Industri Kreatif.

Dalam galeri ini, berbagai produk UMKM akan dipasarkan, sehingga dapat meningkatkan jumlah wisatawan ke Kota Lama. Rencananya Maret mendatang, galeri ini sudah dibuka.

Selain itu, ada Museum Volkswagen (VW) yang akan dibangun di kawasan ini. “Kami berharap, ke depan semakin banyak bangunan cagar budaya yang dikonservasi atau direstorasi. Dengan demikian, wajah Kota Lama akan semakin indah,” harapnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Semarang, Irwansyah, mengatakan, konsep pembangunan kawasan Kota Lama akan disesuaikan dengan Perda Kota Semarang Nomor 8 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Kota Lama. ‘’Semua bangunan di Kota Lama, khususnya cagar budaya, diminta untuk disesuaikan berdasarkan kaidah-kaidah konservasi. Semua itu membutuhkan kajian, sehingga baru akan diketahui langkah selanjutnya. Apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh. Jika berupa bangunan kosong maka akan dibuat menyatu dengan kondisi lingkungan sekitarnya,’’papar dia.

Kawasan Kota Lama, menurut dia, merupakan daerah yang dulu kumuh, mati, dan tidak berkembang secara ekonomi. Dengan revitalisasi, diharapkan akan mampu mengubah menjadi kawasan yang baik, asri, dengan tetap menjaga kawasan yang mencerminkan kondisi, seperti Kota Lama.(K14,ary-22)


Berita Terkait
Loading...
Komentar